Ini Titik Koordinat Alam Semesta dalam Rumah Tradisional Jawa

SENIN, 9 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Sejak zaman dahulu, masyarakat Jawa selalu dikenal menjunjung nilai-nilai filosofi hidup yang tinggi. Hal itu salah-satunya tercermin dalam struktur maupun arsitektur bangunan tempat tinggal tradisional masyarakat Jawa selama ini.
Sebuah ruangan di Pendopo Joglo Rumah Adat Jawa di Kotagede.
Dosen Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang juga anggota Jogja Heritage Society, Dr. Ir. B Sumardiyanto, M.Sc., mengatakan setiap unsur rumah tradisional Jawa dibangun dengan mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan yang menarik untuk digali.
Sebagimana disebutkan sebelumnya, rumah tradisional adat Jawa atau biasa disebut dalem, terdiri dalam 3 ruang utama, yakni Senthong, Jogan dan Emper. Ketiganya menjadi bagian inti dari rumah tradisional Jawa.
“Tiga ruang ini pasti selalu ada sekaligus menjadi inti. Karena ruang-ruang ini merupakan perwujudan atau ungkapan rasa hormat masyarakat Jawa terhadap tiga aspek penting lingkungan, yakni alam adi kodrati atau dunia roh, alam semesta, serta aspek lingkungan atau masyarakat. Ketiganya ini tidak boleh dikurangi,” ujarnya kepada Cendana News, belum lama ini.
Jogan yang merupakan bagian rumah atau ruang yang letaknya selalu berada di tengah-tengah bangunan, atau tepat di bawah atap utama (biasa disebut brunjung), dianggap sebagai pertemuan titik koordinat alam semesta dengan rumah itu sendiri sebagai perwakilan manusia atau pemiliknya.
Sebuah rumah kampung Jawa di Kotagede.
“Secara fungsi, Jogan ini digunakan sebagai ruang utama sekaligus tempat menggelar upacara-upacara penting dalam perjalanan kehidupan manusia. Seperti upacara kelahiran, perkawinan,  hingga upacara kematian. Penempatannya pun berurutan. Upacara kelahiran selalu dilakukan di sisi ruang paling timur atau arah terbitnya matahari. Pernikahan selalu di tengah, sementara persemayaman jenazah saat upacara kematian selalu berada di sisi paling barat ruangan, yang menjadi arah terbenamnya matahari,” jelasnya.
Sementara, Emper, yakni ruang yang berada di sisi sebelah selatan Jogan merupakan ruang yang dibangun sebagai bentuk penghormatan pada aspek lingkungan sekitar, seperti tetangga. Emper ini lebih berfungsi sebagai teras rumah. Baik itu untuk menerima tamu ataupun berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sekitar. Antara Jogan dengan Emper biasanya terdapat Gebyok, yakni sekat dari kayu yang bisa dilepas saat upacara besar digelar.
Baca Juga:
“Saat orang dengan status sosial lebih tinggi ingin mengekspresikan diri lewat rumah, maka ia akan membangun pendopo di bagian depan serta gandok di sisi kanan dan kiri Jogan. Pendopo ini sebagai bentuk perluasan Emper. Karena, secara fungsi sama. Tentu selain fungsi lainnya yakni menunjukan status sosial pemiliknya,” jelasnya.
Sedangkan ruang di sebelah utara Jogan, atau disebut Senthong, merupakan ruang paling sakral, yang dibuat sebagai bentuk penghormatan pada dunia roh atau arwah. Dunia roh dianggap sebagai jembatan antara dunia orang hidup dan orang mati. Senthong ini sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu. Yakni, sebagai tempat semedi atau tempat yang berhubungan dengan dunia arwah.
“Dari kesemua bangunan, Senthong memiliki ketinggian lantai paling tinggi. Karena dalam kepercayaan Hindu, tempat tinggi merupakan tempat tinggal para dewa, sehingga Senthong ini biasa digunakan untuk menyimpan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib atau keramat, atau untuk tempat beribadah,” ujarnya.
Dalam struktur bangunan rumah tradisional orang jawa, semakin ke utara ruangan atau bangunan akan semakin privat dan semakin sakral.
Dari sisi letak atau arah bangunan, rumah tradisional Jawa juga selalu menghadap ke selatan. Hal ini tak lepas dari konsep orang Jawa yang mengetahui, bahwa bumi berputar mengikuti  peredaran matahari pada sebuah poros atau sumbu yang ada di utara dan selatan. Konsep inilah yang kemudian diterapkan dalam membangun rumah. Utara dan selatan menjadi sesuatu yang mutlak bagi orang Jawa.
“Orang Jawa meletakkan diri sebagai mikro kosmos dan makro kosmos. Agar hidup selamat, maka ia harus mengikuti konsep itu,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kathil, Muhammad Natsir, menyebut rumah tradisional Jawa juga dibuat berdasarkan pertimbangan geografis dengan menyesuaikan kondisi alam. Letak Pulau Jawa yang ada di selatan garis katulistiwa, mengakibatkan matahari lebih banyak berada di sebelah utara. Hal inilah yang juga menjadi alasan, semua rumah tradisional Jawa selalu menghadap ke selatan.
“Hal ini menjadikan bagian depan rumah selalu teduh hampir sepanjang tahun. Selain itu, bagian selatan Pulau Jawa merupakan Samudra Hindia, sehingga angin banyak mengalir dari arah selatan,” katanya.
Struktur bangunan rumah tradisional Jawa yang terbuat dari kayu yang saling terkait, juga dikatakan sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa dalam mengantisipasi terjadinya gempa bumi, dengan membuat rumah yang tahan gempa. Penempatan pintu maupun jendela yang simetris di semua sisi, juga dibuat berdasarkan pertimbangan pencahayaan maupun aliran sirkulasi udara.
“Pada akhirnya, semua aspek pada bangunan rumah tradisional Jawa ini akan membenyuk karakter setiap manusia yang tinggal di dalamnya. Sekaligus menjadi cerminan atau gambaran dari karakter sebenarnya orang Jawa,” pungkasnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...