Rumah Tradisional Jawa, dari Model Kampung hingga Joglo

SENIN, 9 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Hingga kini, di kawasan kota tua Kotagede, Yogyakarta, sejumlah rumah adat tradisional Jawa masih banyak ditemui. Sebagian memang telah berubah fungsi, namun tak sedikit yang masih difungsikan sebagai tempat tinggal sebagaimana fungsi aslinya.
Bagian emper pada rumah tradisional Jawa di Kotagede.
Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian budaya, khususnya di kawasan Kotagede, Yayasan Kanthil, mencatat hingga sekarang terdapat lebih dari 150 rumah tradisional adat Jawa yang masih berdiri kokoh di Kotagede. Sekitar 60 persen rumah adat tradisional itu masih berfungsi sebagai tempat tinggal. Sementara 40 persen lainnya telah berubah fungsi, di antaranya menjadi ruang publik.
“Hingga sekarang sebagian besar rumah tradisional di Kotagede masih terjaga dengan baik. Memang pada saat terjadi gempa tahun 2006 lalu, sekitar 27 rumah tradisional mengalami kerusakan parah atau roboh total. Namun, semuanya telah direnovasi dan dapat berdiri kembali,” ujar Ketua Yayasan Kathil, Muhammad Natsir.
Selain menjadi tempat tinggal atau dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan, sejumlah rumah tradisional Jawa di Kotagede juga kerap menjadi lokasi tujuan wisata para turis, baik lokal maupun mancanegara. Gaya arsitektur rumah tradisional Jawa yang khas dan unik, dengan kandungan nilai filosofisnya yang tinggi, memang selalu menjadi daya tarik tersendiri.
Salah-satu rumah adat tradisional Jawa yang masih difungsikan sebagai tempat tinggal, serta kerap dikunjungi wisatawan adalah rumah milik Muhammad Natsir sendiri yang berada di Jalan Mondorakan, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Bangunan rumah adat tradisional ini telah dibangun sejak tahun 1875 silam, yakni dengan bahan utama berupa kayu Jati yang terkenal kokoh dan mampu bertahan hingga ratusan tahun lamanya.
Pendopo model Joglo.
“Sebagian besar rumah tradisional di Kotagede dibuat sekitar tahun 1850-an. Yang membedakan bangunan rumah tradisional Jawa di Kotagede adalah adanya Bahudanyang atau penyangga atap yang berbentuk melengkung dengan ukiran pada Emper. Bahudanyang ini hanya terdapat di rumah tradisional Kotagede, dan tidak ditemukan di tempat lainnya,” ujarnya.
Sebagaimana rumah tradisional adat Jawa pada umumnya, di bagian paling depan atau sisi paling selatan, terdapat bangunan berupa pendopo. Pendopo merupakan bangunan terbuka yang biasa digunakan untuk tempat bersantai dan berinteraksi dengan tetangga sekitar. Di sebelah utara pendopo itulah terdapat bangunan rumah utama yang disebut dalem.
Dosen Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang juga anggota Jogja Heritage Society, Dr Ir B Sumardiyanto MSc, menyebutkan rumah tradisional adat Jawa atau biasa disebut dalem umumnya terdiri dalam 3 ruang bangunan utama, yakni Senthong, Jogan dan Emper. Ketiganya dikatakan menjadi inti dari rumah tradisional Jawa.
Baca Juga:
Jogan merupakan bagian rumah atau ruang yang letaknya berada di tengah-tengah bangunan, atau tepat di bawah atap utama (biasa disebut brunjung). Ruang di sebelah utara Jogan, disebut Senthong. Sementara ruang di sebelah selatan Jogan, disebut Emper.
“Ketiga ruangan tersebut pasti selalu ada pada setiap rumah tradisional Jawa. Sementara pendopo di bagian depan, atau gandok kiwo di sisi kiri dan gandok tengen di sisi kanan, tidak selalu ada. Pendopo hanya dimiliki oleh orang yang secara status sosial lebih tinggi atau secara ekonomi lebih kaya,” ujar lelaki yang meneliti rumah tradisional Jawa sebagai disertasinya itu.
Sumardiyanto mengatakan, selama ini orang kerap salah menyebut rumah tradisional Jawa sebagai Joglo. Padahal, Joglo sendiri sebenarnya hanyalah salah-satu jenis atap rumah tradisional Jawa.
Dijelaskan, rumah tradisional tempat tinggal masyarakat Jawa umumnya dibedakan dari jenis atapnya. Yang paling sederhana adalah atap model Rumah Kampung. Atap model Kampung ini biasa digunakan oleh kalangan rakyat biasa, yakni dengan 2 sisi atap di bagian depan dan belakang yang dihubungkan dengan sebuah bubungan.
Lalu, ada atap model limasan. Atap model ini biasa digunakan kalangan rakyat yang secara ekonomi lebih tinggi, misalnya pedagang. Atap model Limasan memiliki 4 sisi, sisi kiri dan kanan berbentuk segi tiga sama kaki, sementara sisi depan dan belakang berbentuk trapesium dengan 1 bubungan.
Sementara atap paling rumit adalah model Joglo. Rumah tradisional dengan atap model ini, biasanya hanya digunakan oleh para bangsawan atau keluarga kraton saja. Rumah Joglo sering disebut-sebut sebagai puncak arsitektur Jawa, memiliki 4 sisi atap dengan bubungan yang lebih pendek, namun lebih tinggi dari biasanya. Terdapat 4 pilar penyangga utama sebagai penopang atau biasa disebut ‘Saka Guru’.
Selain ketiga model atap tersebut, sebenarnya masih ada dua jenis atap rumah tradisional Jawa, namun tidak lazim digunakan sebagai tempat tinggal. Yakni, Panggangpe dengan 1 sisi atap yang memanjang dari depan ke belakang. Jenis atap seperti ini, biasannya tidak digunakan sebagai tempat tinggal, melainkan hanya untuk tempat menjemur atau menyimpan hasil panen dan semacamnya.
Lalu, ada pula model atap Tajug. Model atap seperti ini kerap digunakan untuk desain bangunan peribadatan seperti masjid. Atapnya tersusun dari 4 sisi yang saling bersatu tanpa adanya bubungan, sehingga bagian ujung atasnya tampak meruncing.
“Yang menarik, rumah tradisional Jawa itu semua pasti menghadap ke selatan. Selain itu, posisi sumur dan dapur juga pasti selalu berada di sisi kiri. Posisi pintu atau jendela juga selalu simetris. Semua bangunan dibuat menggunakan model knok-down, bisa dibongkar pasang. Serta tidak memakai cakar ayam, kecuali hanya memakai umpak. Namun hebatnya rumah tradisional Jawa didesain tahan gempa,” ujar Natsir, menambahkan.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...