Kotagede, Kota Kerajaan yang Tak Terjamah Etnis Tionghoa

SENIN, 9 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Sebagai ibukota pertama Kerajaan Mataram Islam, sekaligus cikal-bakal Kraton Yogyakarta, kawasan kota tua Kotagede, menyimpan banyak keunikan yang masih bisa dilihat hingga sekarang. Baik dari sisi sejarah, budaya, kehidupan sosial hingga arsitektur bangunan tua yang terdapat di dalamnya.
Sejumlah bangunan megah bergaya arsitektur Eropa di Jalan Tegalgendu.
Salah-satu keunikan sosial masyarakat Kotagede yang masih terlihat hingga kini, ialah tidak ditemukannya warga kaum Tionghoa yang bermukim atau tinggal di kawasan ini selama ratusan tahun hingga sekarang. Hal itu, tentu berbeda dengan daerah lain, yang hampir selalu melibatkan etnis kaum Tionghoa, khususnya dalam sejarah perkembangan perekonomiannya.
“Sejak zaman Kerajaan Mataram Islam, sampai saat ini, tidak ada satupun kalangan kaum Tionghoa yang tinggal dan menetap di Kotagede. Bukan karena masyarakat Kotagede menolak keberadaan mereka. Namun, lebih karena kaum Tionghoa sendiri yang tidak berani masuk ke Kotagede,” ujar Ketua Yayasaan Kanthil, Muhammad Natsir, yang banyak meneliti mengenai sejarah Kotagede.
Pengamat sejarah Kotagede lainnya, yang juga anggota Jogja Heritage Society, Sumardiyanto, menjelaskan fenomena unik tersebut bermula sejak awal perkembangan Kotagede sebagai ibukota Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan raja Panembahan Senopati. Saat itu, Kotagede sebagai ibukota Kerajaan yang baru terbentuk, banyak didatangi oleh para pendatang dari berbagai pelosok daerah. Salah-satu di antaranya adalah kelompok masyarakat yang disebut orang Kalang.
Sumardianto.
“Konon, orang Kalang ini berasal dari Bali. Mereka sebenarnya merupakan para tawanan perang yang dibawa ke Kotagede sebagai pekerja. Mereka dikenal sangat terampil dalam pertukangan, membuat berbagai macam barang kerajinan termasuk juga dalam berdagang. Etos kerja mereka sangat tinggi, sehingga mereka menjadi orang kepercayaan keluarga kerajaan,” jelasnya.
Kemahiran, kepintaran serta etos kerja yang sangat tinggi orang Kalang membuat status mereka secara sosial meningkat. Mereka pun akhirnya menguasai berbagai sektor usaha perekonomian di Kotagede. Namun, karena berstatus sebagai tahanan perang serta tidak memiliki darah biru, mereka tidak diperbolehkan tinggal dan menetap di lingkungan Kraton, yang pada saat itu dibatasi oleh sungai dan jagang.
Baca Juga:
“Orang Kalang ini banyak yang menjadi pedagang emas intan berlian dan perhiasan. Dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka ingin menunjukkan status sosial mereka sama seperti kaum bangsawan atau darah biru, sehingga mereka membangun rumah-rumah besar dan sangat mewah. Bahkan, menurut sumber yang ada, mereka pernah ingin membangun rumah dengan lantai yang tersusun dari uang logam,” tuturnya.
Bukti keberadaan orang Kalang ini hingga kini masih bisa terlihat di sekitar Jalan Tegalgendu, yang merupakan salah-satu jalan utama menuju kawasan Kotagede dari sisi barat. Di sepanjang kedua sisi jalan ini, terdapat bangunan rumah-rumah tua dari beton yang sangat besar dan mewah. Bangunan rumah-rumah ini merupakan rumah milik orang Kalang.
“Di sepanjang Jalan Tegalgendu, khususnya di sisi sebelah barat sungai Gajahwong, banyak sekali terdapat bangunan megah milik orang Kalang. Karena memang orang Kalang pada saat itu hanya diperbolehkan membangun rumah di luar batas kota kerajaan, yakni sebelah barat sungai,” ujarnya.
Baru pada sekitar awal tahun 1900-an, orang Kalang dibolehkan membangun rumah di kawasan Kotagede. Sehingga, sampai saat ini banyak ditemui bangunan bergaya arsitektur Eropa yang megah di sekitar perkampungan Kotagede. Bangunan-bangunan bergaya Eropa ini dibangun untuk menunjukkan status sosial orang Kalang yang merasa lebih tinggi dari kalangan bangsawan, yang rumahnya biasanya terbuat dari unsur kayu.
“Itulah yang kemungkinan membuat kalangan kaum Tionghoa, sejak dulu tidak berani masuk ke Kotagede. Mereka tidak berani bersaing dalam hal perdagangan dengan orang Kalang. Dan, hal itu masih terjadi sampai saat ini,” jelasnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...