Masjid Agung Mataram Kotagede, Masjid Tertua di Yogyakarta

SENIN, 9 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Masjid Agung Mataram Kotagede merupakan salah-satu bangunan tertua yang ada di wilayah DIY. Masjid yang juga sering disebut Masjid Gede Kotagede ini terletak di sisi barat sebelah selatan Pasar Kotagede, tepatnya di Kampung Jagalan, Banguntapan Bantul. Dibangun sejak tahun 1589 silam, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagaman dan spriritualitas pada awal masa kerajaan Mataram Islam.
Masjid Agung Kotagede
Tak seperti masjid pada umumnya, Masjid Agung Mataram Kotagede memiliki karakteristik arsitektur yang unik. Setiap bangunannya memiliki perpaduan corak budaya Hindu, Jawa dan Islam. Pada bangunan paling luar masjid, terdapat 3 pintu gerbang berupa paduraksa atau bangunan gapura tertutup yang kental dengan nuansa Hindu. Gapura dengan pintu kayu berukir ini terdapat di samping kanan, sisi depan, serta samping kiri masjid.
“Pada masa awal kerajaan Mataram Islam, budaya Hindu masih memiliki pengaruh sangat kuat, sehingga rumah peribadatan berupa masjid pun dibangun dengan memasukkan unsur Hindu. Tujuannya untuk mengenalkan Islam pada masyarakat yang pada masa itu sebagian masih beragama Hindu,” ujar arkeolog yang banyak meneliti bangunan peninggalan Mataram Islam, Hanif Adrian.
Kompleks masjid Agung Mataram Kotagede sendiri dikelilingi tembok tinggi yang terbuat dari susunan batu bata merah dan batu putih. Terdapat sejumlah pohon Sawo Kecik yang ditanam di sekitar halaman Masjid. Sementara di sekeliling bangunan masjid, terdapat jagang atau parit kecil yang hingga kini masih berfungsi.
Gapura masuk komplek Masjid Kotagede berbentuk paduraksa dengan pintu kayu berukir.
Bangunan utama masjid terdiri dari serambi serta bangunan inti. Bangunan inti Masjid Agung Mataram Kotagede, berupa rumah tradisional Jawa bertipe Tajug Lambang Gantung Tanpa Ander. Bangunan tipe ini disebut-sebut hanya ada dua buah, yakni di Masjid Agung Mataram Kuno serta di Bangsal Witono Kraton Surakarta.
“Hal ini disebabkan karena Masjid Agung Kotagede pernah direnovasi oleh Pakubuwono, sehingga bangunannya juga meniru yang ada di Bangsal Witono Kraton Solo,” jelasnya.
Baca Juga:
Bangunan tradisional Jawa model Tajug, memiliki 4 sisi atap serta 4 saka guru sebagai penopang. Pada bagian atas atap bangunan masjid tidak terdapat bubungan atau molo, melainkan meruncing di bagian ujungnya. Usuk-usuk kayunya model brunjung atau menyatu pada satu titik, sehingga membentuk seperti payung tanpa penyangga. Menurut Hanif, hal ini melambangkan wujud Keesaan Tuhan.
“Bangunan Masjid Agung Kotagede memiliki atap bertumpuk dua dengan mustoko berbentuk gada dan ditopang dengan empat tiang. Itu sebagai perlambangan Rukun Islam. Yang membedakan Masjid Agung Mataram dengan masjid bercorak Islam lainnya adalah 4 saka guru yang berbentuk kotak atau persegi. Padahal, di masjid lainnya seperti Masjid Demak atau Masjid Agung Yogyakarta, saka guru berbentuk bulat,” ujarnya.
Sejarah pembangunan masjid sendiri, menurut Budi Raharjo, abdi dalem pengurus kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede, dilakukan pada masa Panembahan Senopati. Sebelum menjadi masjid, dulu bangunan masjid masih berupa langgar atau surau yang berada tepat di samping makam. 
“Jadi, sebelum ada masjid, kompleks makam ini sudah ada terlebih dahulu, termasuk Sendang Seliran yang berada di sisi sebelah selatan makam,” ujarnya kepada Cendana News, belum lama ini.
Setelah berdiri pada masa Panembahan Senopati, pembangunan Masjid Agung Mataram Kotagede, kemudian dilanjutkan kembali pada masa Sultan Agung. Masjid ini sempat mengalami kerusakan, sehingga dilakukan renovasi pada masa Pakubuwono.
“Setiap setahun sekali, yakni Bakdo Mulud, dilakukan upacara adat di kompleks Makam Raja-Raja Mataram, maupun Masjid Agung Kotagede. Upacara ini dilakukan untuk menguras sendang Seliran serta Jagang di sekeliling masjid,” tuturnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...