Kotagede, Ibukota Kuno Pulau Jawa Abad 15

SENIN, 9 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Keberadaan Kota Yogyakarta sebagai ibukota Kerajaan Kesultanan Yogyakarta maupun sebagai ibukota Provinsi DIY, tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede, sekitar akhir abad ke-15. Kotagede yang terletak sekitar 2 kilometer sebelah timur dari Kota Yogyakarta ini, merupakan cikal bakal terbentuknya Kota Yogyakarta serta Surakarta atau Solo.
Sebuah pointu Gapura di Makam Kotagede Yogyakarta
Di kawasan Kotagede, banyak sekali ditemukan sisa-sisa bangunan bersejarah sekaligus bangunan paling tua pada masa periode Kerajaan Mataram Islam di wilayah DIY. Antara lain, Masjid, Pasar, maupun sisa-sisa reruntuhan Kerajaan Mataram Islam, seperti cepuri atau benteng, jagang atau parit, hingga batu Gilang yang merupakan dampar atau singgasana raja pertama Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati.
Sejarawan, Hanif Adrian, menyebutkan, berdasarkan Babad Mataram, Kotagede didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1578 Masehi. Bermula saat penguasa Kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah,  yakni Sultan Hadiwijaya, menghadiahkan Alas Mentaok kepada Ki Gede Pemanahan atas keberhasilannya menaklukkan musuh kerajaan. Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya lalu pindah dan mendirikan sebuah desa kecil di Alas Mentaok, yang menjadi cikal bakal Kotagede.
“Pada tahun 1584, Ki Ageng Pemanahan wafat, dan digantikan oleh anaknya Danang Sutawijaya atau Raden Ngabehi Loring Pasar dan bergelar Panembahan Senopati Ing Aloga Panatagama,” ujarnya.
Hanif Adrian
Di Kotagede inilah Panembahan Senopati sebagai raja pertama Kerajaan Mataram Islam membangun ibukota kerajaan dengan mengunakan konsep tata kota Catur Gatra, yang terdiri dari empat unsur, yakni Kraton, Masjid, Alun-Alun dan Pasar. Kotagede dibangun di antara dua aliran sungai di sisi sebelah timur (Sungai Manggisan) dan barat (Sungai Gajahwong). Kotagede sebagai ibukota kerajaan juga dilengkapi dengan benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi kraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas kurang lebih 200 hektar. Sisi luar kedua benteng ini juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai.
“Sebagai sebuah ibukota kerajaan, Kotagede memiliki pertahanan sangat kuat. Selain diapit dua sungai, juga terdapat parit atau jagang sangat luas yang menghubungkan kedua sungai itu. Jarak rumah-rumah penduduk yang ada di dalam benteng, dibuat sangat sempit untuk memperlambat pergerakan musuh. Maklum, karena Kerajaan Mataram Islam pada saat itu memiliki daerah kekuasaan sangat luas, mencapai hampir sebagian besar wilayah Pulau Jawa, bahkan hingga ke Melayu, Lampung dan Kalimantan,” ujarnya.
Menurut Ketua Yayasan Kanthil, Muhammad Natsir, yang banyak meneliti Kotagede, lebar jagang yang ada di Kotagede mencapai sekitar  20 meter, dengan kedalaman mencapai 8 meter. Sementara benteng cepuri setinggi 4 meter dengan lebar 1,25 dan kedalaman pondasi 2 meter. Benteng ini terbuat dari susunan batu putih sepanjang kurang lebih 2 kilometer.
Pada masa itu, Kotagede juga disebut sebagai ibukota terbesar di Pulau Jawa, khususnya sisi selatan. Hanif bahkan menyebut Kotagede pada masa itu sebagai sebuah kota metropolis yang menjadi pusat berbagai kegiatan. Banyak pedagang dari berbagai daerah di Pulau Jawa, bahkan luar Jawa datang ke Kotagede untuk berdagang.
“Sejak dulu, di Kotagede ini banyak sekali terdapat pengrajin perhiasan mulai dari emas, intan, berlian, perak, kuningan atau tembaga. Selain itu, juga banyak pengrajin batik, tenun, pandai besi dan sebagainya. Lokasi para pengrajin itu saat ini menjadi topomim atau nama kampung di Kotagede, seperti kampung Kemasan (dari kata emas), Krintentan (dari kata intan), Ngerikan (dari kata kerik dalam proses membatik), Samakan (menyamak), hingga kampung Pandaian (pandai besi) dan masih banyak lagi,” tambah Natsir.
Hingga kini pun, di kawasan Kotagede masih banyak ditemui para pengrajin yang secara turun-temurun menjalankan usahnya. Mulai dari pengrajin perak, kuningan, batik, dan sebagainya.
Keberadaan Kotagede yang sudah terlalu padat pada saat itu, membuat raja ketiga Kerajaan Mataram Islam, yakni Sultan Agung Hanyakrakusuma, cucu Panembahan Senopati, ingin memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Desa Kerta, yang berada sekitar 3 kilometer di sebelah selatan Kotagede. Berdasarkan Babad Mataram, perpindahan pusat kerajaan dari Kotagede ke Desa Kerta dilakukan sejak sekitar tahun 1617-1618.
Sebuah gank di perkampungan kuno Kotagede. Insert: Muhammad Natsir.
“Yang pindah itu sebenarnya hanya pusat pemerintahannya saja. Sementara pusat perekonomian masih tetap di Kotagede. Pada saat pembangunan kerajaan di Kerta, ibu suri juga masih tinggal di Kotagede. Baru pada tahun 1621, Ibu suri ikut pindah ke Kerta,” ujar sejarawan, Hanif Adrian, yang juga edukator Moseum Sejarah Purbakala Plered.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...