Global Geopark Gunungsewu, Berdampak Signifikan bagi Warga

SABTU, 21 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Penetapan Geopark Gunungsewu sebagai Global Geopark Network UNESCO sejak tahun 2015 lalu, ternyata membawa dampak sangat besar khususnya dari sektor pariwisata dan ekonomi.

Direktur Geopark Gunungsewu, Budi Martono.

Direktur Geopark Gunungsewu, Budi Martono, menyatakan, sejak ditetapkan sebagai Global Geopark, jumlah kunjungan wisatawan di kawasan yang melingkupi tiga wilayah administrasi, yakni Kabupaten Gunungkidul, DIY, serta Wonogiri Jawa Tengah dan Pacitan Jawa Timur meningkat pesat.

Pada tahun 2009 lalu, jumlah kunjungan di kawasan Geopark khusus untuk wilayah Gunungkidul saja, tercatat hanya sekitar 300 ribu wisatawan per tahun. Namun pada tahun 2016, jumlah kunjungan wisatawan di kawasan Geopark Gunungkidul meningkat pesat mencapai 3 juta wisatawan per tahunnya.

“Wilayah Kabupaten Gunungkidul memang menjadi kawasan Geopark Gunungsewu yang paling banyak dikunjungi. Yakni sekitar 3 juta wisatawan per tahun pada 2016. Sementara total kunjungan wisatawan di kawasan Geopark Gunungsewu (melingkupi 3 kabupaten), mencapai sekitar 4,8 juta wisatawan,” ujarnya di Yogyakarta, Jumat (20/1/2017).

Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tersebut, secara langsung juga berdampak pada peningkatan ekonomi daerah. Dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD), Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2016 tercatat mendapat pemasukan mencapai Rp24,1 miliar per tahun yang didapat dari tiket retribusi. Padahal pada tahun 2009, pemasukan dari tiket retribusi hanya sekitar Rp800 juta per tahun.

“Itu hanya dari tiket retribusi saja. Padahal pendapatan dari hasil penyewaan homestay atau wahana seperti flying fox dan lainnya jauh lebih besar. Dan itu sepenuhnya dikelola oleh masyarakat,” terangnya.

Meski secara langsung mampu menumbuhkan dunia pariwisata dan ekonomi, Budi menolak jika penetapan Gunungsewu sebagai Global Geopark semata-mata hanya untuk tujuan tersebut. Ia menyatakan penetapan Global Geopark Gunungsewu juga sebagai upaya konservasi atau pelestarian kawasan tersebut. Hal itu dibuktikan dengan tidak semua situs geopark dibuka massal untuk wisatawan umum.

“Tidak semua geosite di kawasan Geopark Gunungsewu dibuka secara massal. Ada yang khusus untuk riset. Seperti misalnya Hutan Wanagama dan Goa Jomblang. Ini lebih sebagai upaya untuk menjaga agar jangan sampai peningkatan jumlah wisatawan itu merusak geosite yang ada,” ujarnya.

Pihak pengelola Geopark Gunungsewu sendiri secara bertahap dan berkelanjutan juga terus melakukan upaya-upaya konservasi dengan melibatkan sejumlah pihak seperti perguruan tinggi. Termasuk memberikan pengertian dan pemahaman terhadap masyarakat lokal sendiri. Untuk mencegah terjadinya penumpukan kunjungan wisatawan di salah satu geosite secara berlebihan, pihak Pengelola Geopark Gunungsewu juga terus melakukan penambahan dan pembukaan wahana baru.

“Kita mengakui belum semua geosite aman dan nyaman untuk dikunjungi. Karena itu kita terus berusaha berbenah. Misalnya dengan menambah wahana atraksi di sejumlah geosite. Ini untuk memecah kunjungan wisatawan agar tidak menumpuk di salah satu lokasi saja. Kita juga tengah mencoba membatasi jumlah kunjungan wisatawan, dengan menaikkan tarif, namun sebisa mungkin tanpa mengurangi pemasukan dari sisi ekonomi,” terangnya.

Setahun menjadi Global Geopark, kawasan Gunungsewu sendiri telah mendapat prestasi untuk salah satu geositenya. Geosite Nglanggeran yang ada di Kabupaten Gunungkidul, ditetapkan sebagai Community Base Tourism atau geosite dengan konsep pemberdayaan masyarakat terbaik di Asia Tenggara. Hal itu tidak terlepas karena Nglanggeran dikelola dengan melibatkan semua elemen masyarakat, baik pokdarwis, komunitas pemuda, hingga ibu-ibu rumah tangga.

“Di Nglanggeran itu tamu yang datang akan disuguhi dengan berbagai elemen berbasis budaya lokal, baik secara kultur maupun kuliner. Mulai dari upacara adat, makanan tradisional, hingga tari tradisional daerah dan sebagainya,” terangnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...