Di Balik Nama Kota Jayapura, Tersimpan Cerita Mereka (2)

SENIN 16 JANUARI 2017

JAYAPURA–Tahukah Anda Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua yang saat ini telah merubah nama sebanyak lima kali. Ingin tahu proses perubahan nama tersebut, berikut Cendana News rangkum dalam catatan nama dalam sejarah, edisi ke-dua.
Kota Jayapura pada 1955 silam – Arsip Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay.
Sebelumnya anda telah membaca tiga hal positif saat Pdt G.L Bink berada di Teluk Youtefa. Pertama, kampung-kampung adalah cukup besar dan penduduknya suka menetap di suatu tempat. Kedua, tidak ada pengacauan dan perbudakan dan Ketiga, orangnya tidak mengenal tuak (Minuman Keras Lokal).
Ditulisan kali ini, Pendeta G.L Bink melaporkan hal itu ke UZV di Belanda agar Negara tersebut mengirim seorang guru ke teluk Youtefa.  Utusan zending G.L Bink kembali lagi ke Teluk Youtefa dan melakukan perjalanan ke Sentani 16 Mei 1895 di batas wilayah Papua (saat itu masih dikuasai Belanda) dan Papua New Guinea (Inggris) dinyatakan dalam Staatsblad van Nederlandsch- Indie 1895 No. 220 dan 221.
 Ketika pada  1897 zendeling F.J.F van Hasselt datang dari Mansinam bersama rombongan Residen Ternate D.W. Herst dan seorang Pangeran dari Tidore. Rombongan ini tiba di Pulau Metu Debi menggunakan kapal “Borneo”. Ditahun itu pula Residen mengangkat putra Yantewai Hamadi menjadi kepala Suku Tabi menggantikan ayahnya.
Tepat pada 1900, J.M Dumas yang mendirikan pangkalan khusus “Para Dijsvogeljacht” (bulu burung cenderawasih) di Metu Debi. Tiga tahun kemudian expedisi Wichmann juga tiba di Metu Debi selama empat bulan dari 13 Maret hingga 13 Juli 1903, tahukah anda perjalanan Wichmann ini dibiayai Treub Institut dan menggunakan kapal “G.S.S. Zeemeeuw”.
Rombongan yang ikut dalam expedisi untuk melakukan penyelidikan antara lain Prof. Dr. A Wichmann ahli di Geologi, H.A Lorentz. J. Van der Sande sebagai tim kesehatan, L.F de Beaufort yang ahli dibidang kehewanan (Zoologie), Mas Djipja dari kebon Raya Bogor sementara Prof.Dr. John khusus penyelidikan bidang Kesehatan.
Masih dari pecahan-pecahan data yang dirangkum Cendana News, Pemerintah Nederlandsch Nieuw Guinea P.Windhouwer ditempatkan ke Pulau Metu Debi sebagi “post houder,”sesudah kunjungan Wakil Gubernur Pemerintahan Jerman Nieuw Guinea E.Krauss tahun 1906.
“Penempatan P.Windhouwer terutama didasarkan sebagai persiapan penentuan perbatasan antara Nederlands Nieuw Guinea dan Nieuw Guinea Jerman,” ujar Rudi saat Tim Cendana News menggali lebih dalam lagi tujuan dari penempatan P.Windhouwer saat itu.
Ada yang menarik dalam kunjungan Pendeta F.J.F van Hasselt berkunjung kembali ke Metu Debi dari 11 Agustus hingga 2 September 1908, setelah sebelumnya tahun 1897 pernah berkunjung untuk memberantas penyakit cacar dikampung tersebut. Kedatangannya kali ini ditolak masyarakat Kampung Nafri dengan tujuan untuk mendirikan rumah di Metu Debi. Alasan masyarakat  menolak Pendeta F.J.F van Hasselt karena pendeta itu menduga Numadic Hamadi, sang kepala suku Tabi yang dilantik menggantikan ayahnya Yantewai dan meninggal dunia karena penyakit cacar pada 1908 sebelum Numadic Hamadi menjadi penganut Kristen (orang kafir). “Ini sesuai dengan apa yang Pendeta F.J.F van Hasselt katakan di dalam bukunya,” kata Rudi.
Kemudian setahun kemudian sesuai Surat Keputusan Pemerintah Nederlands-India tanggal 28 Agustus 1909 No.4 diperbantukan satu detazemen militer kepada Assisten Residen Noord Nieuw Guinea di Manokwari. Nah, ditahun inilah kapal perang Hr.Ms. Edi masuk Teluk Imbi/Humboldt dan menurunkan detazemen militer dibawah pimpinan Kapiten Infantri F.J.P Sachse di Pantai Nubai dan Anafre.
“Detasemen ini membuka biveknya di pantai antara Sungai Nubai dan Anafre yang bekasnya ekarang Gedung Sarina Kota Jayapura, Percetakan Labor (sekarang Toko Buku Gramedia Jayapura) dan sekitarnya,” ungkap Rudi yang juga politikus di Kota Jayapura.
Setahun di Teluk Imbi/Humboldt, Kapiten Infantri F.J.P Sachse memproklamirkan dataran  Nubai di Bumi Dafonsoro menjadi Hollandia tepatnya 7 Maret 1910. Nah, kembali ke cerita Pdt van Hasselt, dia menganjurkan orang Tobati Injros menempatkan seorang guru di pulau itu pada tahun 1912. Dengan kedudukan inilah, maka Post Pemerintah yang berada di Pulau Debi pada Teluk Youtefa dipindahkannya ke Hollandia. Pendeta F.J.F van Hasselt yang telah diterima kembali masyarakat Kampung Metu Debi ini kembali membuka gereja dengan sekolah di Pulau Debi itu sekitar tahun 1913.
Belasan tahun kemudian tepatnya 1930, Harsori Yohan Yanti Hamadi bersama-sama kepala kampung dari Teluk Humboldt dan daerah lain di Irian Barat yang dipimpin Harsori Kampung Tobati Injros diundang Pemerintah Belanda ke Batavia.  Setahun  kemudian, terjangkit wabah penyakit beri-beri di Kampung Injros (Engros).
Kemudian Amerika Serikat berperang melawan Jepang tepatnya pada 8 Desember 1941. Setahun berlalu, dilakukan Tikam Kayu Swan pertama pembangunan gedung Gereja Abara Kampung Injros dan pada tahun itu pula tentara Jepang masuk ke kampung Injros, sehingga rencana pembangunan gedung gereja diberhentikan.
Menariknya, saat Jenderal Douglas Mc Arthur tiba di Hollandia 22 April 1944 setahun sebelum Indonesia memprolamirkan kemerdekaannya. Kembali ke 24 April 1922 lalu, tentara Sekutu masuk kampung Injros sehari kemudian bendera Amerika Serikat dinaikkan di Kampung Injros.
Saat Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaan 1945, di Irian Barat Gedung Abara Kampung Injros dilanjutkan pengerjaannya yang sebelumnya 1941 diberhentikan dan tahun 1946 muncul gerakan Anti Belanda, tetapi dapat dipadamkan di Tabati dan Gereja kampung Tobati dipakai untuk menampung tawanan Jepang.
Sekedar Anda ketahui bahwa tahun 1944-1946 Dataran Makanwai diganti namanya menjadi Kota NICA dan menjadi ibu kota Kerisidenan Nieuw Guinea. Dua tahun kemudian tepatnya 1948 ditempatkan Besturassitent di Kampung Tabati untuk meredam gerakan anti Belanda. Kota NICA di Lembah Makanwai dipindahkan ke NIBI ABEI tepatnya bekas kompleks Rumah Sakit Armada ke VII dan menjadi Kota NICA Baru pada Maret 1946-1951, dan kembali berubah namanya menjadi Kota Baru. “Sejarah Kota Jayapura ini sekaligus mengungkapkan apa yang terjadi di beberapa wilayah lainnya di Irian Barat (kini Papua),” tegas Rudi. (Bersambung)

Rudi Mebri – Ketua Pemuda Adat Port Numbay LMA.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Indrayadi T. Hatta/Arsip Lembaga Masyarakat Adat
Lihat juga...