Berdiri Sejak 1958, SMK Keperawatan Lela di Sikka Perlu Diselamatkan

JUMAT, 20 JANUARI 2017

MAUMERE — Anggota DPRD Sikka, Filario Charles Bertrandi, SE, mengatakan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Keperawatan Santa Elisabeth Lela di Kabupaten Sikka yang bernaung di bawah Yayasan Santo Lukas Keuskupan Maumere, perlu diselamatkan. Unjukrasa yang sempat dilakukan para siswa sekolah tersebut pada Kamis (19/1/2017), kemarin, perlu didengarkan aspirasinya oleh pihak sekolah dan yayasan, agar sekolah ini bisa tetap eksis dan meraih prestasi.
SMK Keperawatan Santa Elisabeth Lela di Kabupaten Sikka.
Menurut Charles, sekolah tersebut harus diselamatkan, karena Yayasan Katolik membangun sekolah itu sejak tahun 1958, yang sebelumnya dikhususkan untuk sekolah keperawatan. Sementara itu, saat aksi unjukrasa oleh para siswa pada Kamis (19/1/2017), mereka meminta agar kegiatan belajar mengajar (KBM) berjalan normal, karena sejak seminggu lebih KBM tidak berjalan normal lantaran ada 10 orang gurunya yang tidak masuk mengajar. “Permasalahnnya kami konfrmasikan ke pihak yayasan, ternyata ada tunggakan gaji dari yayasan kepada sepuluh orang guru tersebut sebesar sebelas juta rupiah,” terangnya.
Filario Charles Bertrandi,SE., Anggota DPRD Sikka.
Namun, kata Charles, pihak yayasan pada Kamis (19/1/2017) sore kemarin menyatakan, jika telah membayar tunggakan gaji tersebut, sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan normal dan maksimal mulai Senin (23/1/2017) mendatang. “Kepala Sekolah mengaku sudah mengirim surat kepada sepuluh guru tersebut guna memberitahukan, bahwa gaji mereka sudah ditransfer ke rekening masing-masing, dan meminta agar bisa segera masuk mengajar seperti biasa. Namun, kepala sekolah juga belum bisa memastikan, sehingga kami berharap hari Senin aktivitas belajar-mengajar bisa berjalan normal,” ungkapnya.
Charles melihat, selama ini komunikasi antara yayasan dan pihak sekolah tidak berjalan baik, salah-satunya karena ketua yayasan tinggal jauh di Maumere, sekitar 28 kilometer dari Desa Lela. Para siswa saat berunjukrasa sedianya juga hanya ingin berkomunikasi dengan pihak yayaysan, namun ketua yayasan tidak ada di sekolah dan sibuk, sehingga tidak bisa bertemu. “Komunikasi tidak terbangun baik antara siswa, orangtua murid dan sekolah bersama dengan pihak yayasan, sehingga ini yang harus segera dibenahi bila ingin sekolah tua ini tetap eksis,” paparnya.
Charles menambahkan, pihak yayasan tidak membayar gaji para guru, karena dalam beberapa bulan terakhir dikatakan para siswa banyak yang tidak membayar uang sekolah. “Hal ini berdampak pada pembayaran gaji guru honorer, sehingga kami harapkan segera dicarikan solusi terbaik agar proses belajar mengajar tidak terhambat lagi. Saya berharap, mutu sekolah ini harus tetap dipertahankan, sehingga menjadi SMK Keperawatan yang menjadi rujukan bagi para siswa di Flores yang ingin menimba ilmu keperawatan,” pungkasnya. 

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary

Lihat juga...