![]() |
| Petani di Desa Bajang, Kecamatan Mlarak lakukan penyemprotan dengan pupuk organik |
![]() |
| Foto bersama saat Temu lapang penyuluh |
Sementara itu, Sekretaris Kelompok Tani Ngudimulyo, Edi Prayitno menjelaskan, sebanyak 45 orang anggota kelompok taninya secara swadaya membuat pupuk organik dengan arahan dan bantuan dari Balai Penyuluhan Kecamatan Mlarak.
“Kami dapat bakteri starter dari Balai, tapi bahannya petani yang menyediakan,” jelasnya kepada Cendana News di lokasi, Rabu (4/1/2017).
Menurut Edi, bahan pembuatan pupuk organik mudah didapatkan. Ia pun dengan gamblang menerangkan proses pembuatan pupuk organik. Pertama bahan yang disediakan tiga buah rebung dan satu buah bonggol pisang yang dihaluskan. Kedua siapkan urin sapi sebanyak 10 liter, air leri 10 liter dan tetes 1 liter.
Ketiga, campurkan semua bahan dengan bakteri starter. Keempat, taruh kedalam satu wadah dan ditanam didalam lahan, jangan lupa beri saluran udara agar tidak ada organisme yang masuk kedalam pupuk.
“Tunggu selama satu bulan, dan siap diaplikasikan,” ujarnya.
Edi melanjutkan dari semua bahan tersebut didapatkan 40 liter pupuk organik cair. Dan bisa langsung dibagikan ke anggota kelompok tani di desanya. Pengaplikasian pun mudah hanya dengan 200 Ml pupuk cair dicampur air cukup untuk satu tangki semprot.
“Selain biayanya lebih murah, hasil produksi padi jenis Ciherang yang kami tanam lebih sehat karena ada pupuk organik,” cakapnya.
Pupuk organik ini, Edi menuturkan lebih baik diaplikasikan saat pagi hari. Karena waktu yang paling cocok hanya pagi hari. Jika dipaksakan diaplikasikan saat siang hari, mikroorganisme yang ada di dalamnya tidak bisa berkembang dengan baik dan tidak bisa diserap oleh tanaman secara maksimal.
“Pengaplikasiannya yang paling baik tujuh hingga 10 hari sekali, tapi jangan terlalu banyak,” pungkasnya.
Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Charolin Pebrianti
