Alm Istri Pahlawan Nasional Kol Sugiyono Dikenal Nasionalis dan Pekerja Keras

RABU 18 JANUARI 2017
YOGYAKARTA—Sosok Alm Supriyati Sugiyono, yang merupakan Isti Alm Pahlawan Nasional sekaligus Pahlawan Revolusi Kolonel Sugiyono, dikenal sebagai sosok yang sangat nasionalis. Sebagaimana suaminya ia selalu mengajarkan kepada semua anak-anaknya agar selalu mencintai dan berbakti pada bangsa dan negara. Alm Supriyati Sugiyono, sendiri meninggal dunia di usia 89 tahun di setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, Selasa (17/01/2017) sore sekitar pukul 16.30 WIB kemarin. 
suasana rumah duka di kawasan Kotabaru Yogyakarta 
Anak pertama pasangan Kolonel Sugiyono dan Supriyati, Erry Guthomo mengatakan semasa hidup, almarhum selalu berpesan kepada anak-anaknya agar bisa hidup mandiri. Selain itu, almarhum yang telah memiliku 14 cucu ini juga tak pernah lupa mengingatkan agar semua anaknya selalu berbakti kepada Tuhan, serta mengabdi pada bangsa dan negara, juga masyarakat 
“Ibu itu sangat nasionalis betul. Beliau tidak pernah membeda-bedakan agama, suku, golongan, atau kelompok apapun. Semua ia terima. Bagi beliau, apapun itu agama atau suku seseorang asal sesuai dengan pancasila dan dasar negara memiliki kedudukan dan posisi yang sama. Semua harus saling menghargai dan menghormati. Perbedaan merupakan background kita untuk bersatu bukan bermusuhan,” ujarnya kepada Cendana News, Rabu. 
Bagi Erry, ibundanya juga merupakan sosok seorang yang sederhana, pemaaf, rendah hati dan apa adanya. Ia bahkan tak menaruh dendam pada PKI yang telah merenggut suaminya sehingga harus membesarkan 7 orang anaknya seorang diri. “Bagi ibu, itu (PKI) hanyalah oknum saja. Banyak diantara mereka sebenarnya hanya orang biasa yang tidak tahu apa-apa. Mereka hanya dimanfaatkan oleh segelintir orang dengan dimasukkan menjadi anggota PKI,”  tururnya. 
Sementara itu, bagi salah seorang cucunya, Dhea Cristina, neneknya merupakan sosok seorang pekerja keras dan taat beribadah. Selain mampu membesarkan dan menguliahkan ke tujuh orang anaknya seorang di tanpa suami, almarhum juga juga dikenal selalu menanamkan iman yang kuat pada cucu-cunya. 
“Simbah itu selalu menanamkan iman yang kuat pada saya. Setiap saya kesini selalu dibelikan majalah dan buku-buku cerita tokoh al-kitab. Selain itu Si Mbah juga selalu berpesan pada cucu-cucunya jangan pernah memanfaatkan nama kakek. Tapi agar kita selalu berjuang dengan kemampuan sendiri tanpa orang tahu latar belakang kita,” tuturnya. 
Sebagaimana diketahui semenjak terjadinya peristiwa berdarah G30S PKI, pada 1965, Supriyati Sugiyono harus membesarkan ke 7 orang anaknya seorang diri. Suaminya Kolonel Sugiyono yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Kotem 072 Pamungkas, tewas karena diculik dan dibunuh di Daerah Kentungan, Sleman, Yogyakarta. 
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana 
Lihat juga...