RABU 4 JANUARI 2017
BANDUNG—Berdasarkan data yang dihimpun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Klas I Bandung, Sepanjang tahun 2016 Jawa Barat diguncang 203 kali gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi selama setahun tersebut memiliki magnitudo yang bervariasi, mulai dari 1.6 sampai 6.5.

Kepala stasiun Geogisika BMKG Klas 1 Bandung, Tony Wijaya menyampaikan kedalaman gempa pun bervariasi, mulai dari 10 kilometer sampai 625 kilometer.
“Sebagian besar gempabumi terjadi di laut Selatan Jawa Barat, meskipun tidak sedikit yang terjadi di darat,” kata Tony melalui surat tertulis yang diterima Cendana News, Rabu (4/1/2017).
Dikatakan, justru gempa bumi yang terjadi di darat inilah apabila kedalamannya dangkal maka dampaknya akan menimbulkan kerusakan. Hal tersebut seperti yang terjadi di daerah Pangalengan, Jawa Barat pada 6 November 2016 lalu.
Kala itu sumber gempa berada di 15 kilometer Barat Daya Kabupaten Bandung pada kedalaman 10 kilometer. Di mana mengakibatkan dua rumah rusak berat dan dua rumah rusak ringan.
“Seperti diketahui bahwa Jawa Barat merupakan daerah yang memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi. Hal ini selain akibat tumbukan antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia, juga terdapat sesar-sesar aktif di daerah tersebut,” paparnya.
Diketahui, sesar aktif di Jawa Barat diantaranya sesar Cimandiri, sesar Lembang, dan sesar Baribis. Selain ketiga sesar tersebut, juga terdapat sejumlah sesar lokal yang belum terkonfirmasi.
“Dari kondisi tekotonik tersebut menjadikan Jawa Barat sebagai daerah yang rawan bencana yang diakibatkan oleh gempabumi,” tutur Tony.
Selain itu, selama kurun waktu 11 tahun terakhir pihaknya mencatat setidaknya telah terjadi 6 gempa bumi merusak di Jawa Barat. Yaitu gempa bumi dan tsunami.
Pangandaran tahun 2006, gempa bumi Tasikmalaya tahun 2009, gempa bumi Lembang tahun 2011, gempa bumi Bogor tahun 2012, gempa bumi Sukabumi tahun 2013, dan yang terakhir gempa bumi Pangalengan tahun 2016.
“Kondisi tektonik Jawa Barat telah menyebabkan gempa bumi merusak di masa lalu dan berpotensi menimbulkan gempabumi merusak di masa yang akan datang,” ucapnya.
Disampaikan, gempabumi memang bersifat periodik, artinya dapat berulang di tempat yang sama. Namun sampai saat ini gempabumi belum bisa diprediksi kapan akan terjadi.
Untuk itu upaya mitigasi sangat diperlukan untuk mengurangi dampak gempa bumi tersebut. Sehingga korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan dapat diminimalisir.
“Upaya mitigasi yang dapat dilakukan diantaranya membuat bangunan tahan gempa bumi, sosialisasi dan edukasi tentang gempa bumi, pembuatan peta bahaya gempa bumi,” pungkasnya.
Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Rianto Nudiansyah