SELASA, 6 DESEMBER 2016
PONOROGO—Bencana tanah labil atau tanah gerak di Ponorogo, kini menimpa bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Tugurejo Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo. Total dua ruang kelas, ruang guru, serta ruang kepala sekolah, yang terdampak retakan, bahkan salah satu kelas terdampak tidak dipergunakan.
Tanah labil ini awalnya berada di Jalan Raya Ponorogo-Pacitan. Meski tidak retak, aspal jalan raya ambles. Warga pun berinisiatif memasang pagar bambu supaya pengendara lebih berhati-hati. Retakan kemudian merembet ke SDN 2 Tugurejo yang berada tepat di tepi jalan, kejadian ini terjadi dalam satu malam.
![]() |
| Retakan di konblok SDN 2 Tugurejo. |
Penjaga SDN 2 Tugurejo, Yudi Purnanto menjelaskan, awalnya kejadian ini diketahui pada Jumat (2/12/2016) lalu. Saat membuka pintu gerbang sekolah, ia kaget ada rekahan di halaman sekolah. Setelah membuka ruang kelas satu per satu ia menemukan beberapa ruang kelas retak.
“Ada ruang kepala sekolah, ruang kelas IV, ruang kelas VI, dan ruang guru. Kerusakan di antaranya lantai ambles dan dinding retak,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (6/12/2016).
![]() |
| Yudi saat menunjukkan retakan di lantai. |
Sehari sebelumnya, Kamis (1/12/2016), sudah terlihat ada retakan kecil di halaman SDN 2 Tugurejo. Lebar retakan hanya satu sentimeter, memanjang mencapai sekitar tiga meter. Saat Yudi pulang dari sekolah Kamis sore, hujan turun dan baru reda Jumat pagi. Warga Tugurejo itu kaget begitu tiba di sekolah. Jalan aspal di depan sekolahnya ambles dan retakan di halaman sekolah menjadi lebih lebar, mencapai tiga sentimeter.
“Demi keamanan, siswa yang tengah Ujian Akhir Sekolah (UAS) dipindah menempati ruangan aman bergiliran,” cakapnya.
Di dalam ruangan Kepala Sekolah, panjang retakan mencapai enam meter, lantai yang pecah dan terangkat mencapai lebar 60 sentimeter. Dinding ruangan tersebut juga retak sepanjang satu meter. Ruang guru juga demikian, dindingnya juga mengalami keretakan dengan panjang yang hampir sama. Selain kedua ruangan tersebut, dinding ruangan kelas VI ikut terdampak. Panjang garis retakan di dinding mencapai lima meter.
“Garis retakan ruangan kelas VI dampak dari retakan di ruang kelas IV,” paparnya.
Yang terdampak paling parah adalah ruang kelas IV. Lantai ruangan tersebut retak selebar lima sentimeter sepanjang enam meter. Selain di lantai, juga terdapat sejumlah garis retakan di dinding kelas tersebut. Antara dinding dan lantai juga mengalami retakan sepanjang lima meter. Saat ini sebanyak 140 siswa mengikuti UAS.
Kepala SDN 2 Tugurejo, Mujiono, memutuskan memindahkan kegiatan belajar-mengajar (KBM) siswa kelas IV. Kebetulan karena sedang UAS, siswa kelas IV diminta bergiliran menggunakan ruangan kelas II.
“Demi keamanan siswa. Padahal bangunan ruang kelas yang terdampak itu baru direhab tahun lalu,” ungkap Mujiono.
Mujiono menyatakan sudah melaporkan kondisi yang dialami sekolahnya ke UPT Dinas Pendidikan (Diknas) Slahung. Pihak UPTD juga sudah meninjau retakan di sekolah tersebut. Mujiono masih menunggu instruksi lebih lanjut dari dinas pendidikan.
“Kami mengajukan perbaikan tahun depan. Kalau semakin parah, terpaksa harus relokasi,” pungkasnya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti
