Petani Salak Pondoh di Sleman Berharap Bantuan Pemerintah Guna Meningkatkan Ekspor

MINGGU, 25 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA  — Para petani salak di Kabupaten Sleman yang tergabung dalam Asosias Petani Salak Prima Sembada, berharap peran pemerintah untuk mempromosikan salak pondoh khas Sleman, khususnya ke luar negeri, dapat ditingkatkan. Pasalnya, selama ini peran-serta pemerintah terkait hal itu dianggap masih belum efektif dan maksimal.
Festival Salak Pondoh di Sleman. Insert: Alosius Maryono.
Ketua Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Kabupaten Sleman, Alosius Maryono, mengatakan di Kabupaten Sleman saat ini sedikitnya terdapat 1.500 petani salak yang tergabung dalam 34 Kelompok Tani, dengan lahan garapan mencapai 200 Hektar dan total produksi salak sebanyak 4.000 Ton per tahun. Namun, dari jumlah itu belum semuanya dapat terjual. Bahkan, untuk pasar luar negeri, para petani hanya mampu mengekspor sekitar 70 Ton Salak per tahun atau sekitar 10 persennya saja.
“Kita sangat mengharap peran serta pemerintah untuk mempromosikan salak pondoh ke luar negeri. Karena tanpa bantuan pemerintah, kita sangat kesulitan. Apalagi, harga salak setiap tahun semakin jatuh. Misalnya, seperti saat panen raya seperti sekarang ini, harga salak jatuh hingga hanya Rp. 3.000 per kilogram,” katanya, saat ditemui Cendana News di sela acara Festival Salak Pondoh di Lapangan Denggung Sleman, Minggu (25/12/2016).
Syukuran panen raya Salak Pondoh di Sleman.
Menurut Maryono, para petani sendiri selama ini melakukan promosi ke luar negeri dari ekportir yang sudah ada. Baik itu ke Cina, Kamboja, Australia, Singapura, hingga ke Eropa. Namun, kuota ekspor untuk sejumlah negara dikatakan masih terlalu sedikit, sehingga perlu ditambah. “Kita sudah mengajukan usulan kepada pemerintah agar ada penambahan kuota ekspor, namun sampai saat ini belum terealisasi,”  katanya.
Untuk meningkatkan jumlah ekspor salak pondoh, Asosiasi Petani Salak Prima Sembada juga tengah berupaya meningkatkan kualitas produk, salah-satunya dengan melakukan sertifikasi organik. Sertifikasi organik ini meliputi penambahan sekitar 40 Hektar lahan dengan target penambahan hasil panen sekitar 360 Ton salak pada tahun depan.
“Diharapkan, penambahan sertifikasi ini dapat meningkatkan jumlah ekspor. Karena untuk pasar luar negeri memang membutuhkan sertifikasi organik. Hanya saja, kendalanya  biaya sertifikasi masih terlalu mahal. Sekali sertifikasi bisa mencapai Rp. 100 Juta, sehingga kalau pasar belum jadi memang memberatkan,” katanya.
Terkait cuaca buruk yang terjadi belakangan ini, Maryono mengakui hal itu cukup berdampak signifikan pada hasil panen petani. Angin kencang yang terjadi beberapa waktu terakhir dikatakan mengakibatkan sekitar 10 persen tanaman salak roboh. Cuaca yang buruk diakui juga mengakibatkan masa panen petani salak pada tahun ini berkurang hingga 25 persen.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...