Perhimpunan Transmigran di Kalimantan Akan Bangun 500 Rumah Pangan di Tahun 2017

MINGGU, 25 DESEMBER 2016

BANJARMASIN — Ketua Harian DPP Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI), Abdussani, mengatakan, pihaknya segera merealisasikan berdirinya 500 outlet Rumah Pangan Kita (RPK) yang tersebar di setiap desa transmigran se-Kalimantan pada tahun 2017, mendatang. Menurutnya, target tersebut berdasarkan asumsi setiap Provinsi di Pulau Kalimantan sanggup mencetak 100 outlet RPK.
Ketua Harian DPP Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia, Abdussani.
Pihaknya memanfaatkan keberadaan Himpunan Wirausahawan Transmigran (HAWITRAN) untuk menggencarkan konsep RPK ke pelosok desa transmigran. Ia menargetkan, minimal 1 Outlet RPK berdiri di setiap Desa Transmigran dan sekitarnya. “Mulai tahun 2017 dibangun untuk mengimbangi ritel-ritel modern, jadi masyarakat desa bisa dapat harga sembako murah dan stabil,” ujarnya, Minggu (25/12/2016). 
PATRI menggandeng Perum BULOG, Bank BNI, Kementerian Koperasi dan UKM, dan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk merealisasikan RPK se-Kalimantan. Ia mengklaim, PATRI baru pertama kali ini mencoba membangun konsep RPK yang berfokus di area transmigrasi. Ia berharap, konsep semacam ini menarik minat masyarakat transmigran mendirikan Outlet RPK di lingkungannya. 
“Ini kesempatan masyarakat untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan membuka RPK, di antaranya gratis pendaftaran, modal ringan, gratis ongkos kirim pemesanan perdana, dan jaminan barang dengan kualitas dan harga terbaik,” ungkapnya. 
Ia juga menuturkan, Outlet RPK menjadi jaringan distribusi utama Perum BULOG ke depannya. Itu sebabnya, Abdussani memastikan pemilik Outlet RPK berhak memasarkan produk operasi pasar, sehingga potensial berkembang. Ia optimistis, konsep RPK bisa mengembangkan entreprenuership dan membangkitkan ekonomi desa. 
“RPK menyediakan produk murah demi mewujudkan akses pangan pokok. RPK bisa juga menstabilkan harga pangan. Dan, modal awal mendirikan Outlet RPK cukup ringan, yaitu sebesar Rp. 5 Juta. Adapun pengeluaran rutin Rp. 10.250.000 per bulan, yang digunakan untuk pasokan barang sebanyak Rp. 10 Juta dan biaya operasional Rp. 250.000. Dengan simulasi ini, laba setiap bulan sekitar Rp. 550.000, atau balik modal dalam 9 bulan,” jelas Abdussani. 
Selain itu, ia mendorong HAWITRAN bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan memaksimalkan potensi setiap desa transmigran dan sekitarnya. Dalam konsep kerjasama ini, kata dia, HAWITRAN bertugas mendistribusikan sekaligus mencari pangsa pasar atas setiap potensi desa yang diproduksi oleh BUMDes. “Kami ingin potensi-potensi desa bisa menggerakkan perekonomian masyarakat desa. Sesuai semangat Presiden Jokowi, membangun dari pinggiran,” pungkas Abdussani.

Jurnalis : Diananta P. Sumedi / Editor: Koko Triarko / Foto : Diananta P. Sumedi

Lihat juga...