Pedestrian Malioboro Wajah Baru Kota Yogyakarta Diresmikan Sultan HB X

KAMIS, 22 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA – – – Kawasan Jalan Malioboro di pusat Kota Yogyakarta mulai hari ini, resmi memiliki wajah baru, menyusul diresmikannya Jalan Malioboro sebagai kawasan pendestrian oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (22/12/2016), sore.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku buwono X saat meresmikan kawasan pendestrian Jalan Malioboro.
Peresmian kawasan Malioboro sebagai kawasan pendestrian ini merupakan tahap awal dari rangkaian rencana jangka panjang Pemerintah Daerah Provinsi DIY selama 4 tahun untuk membenahi kawasan utama Kota Yogyakarta, mulai dari Tugu hingga Alun-Alun Utara  sebagai simbol sumbu filosofis  Keraton Yogyakarta.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral (PUP- ESDM) DIY, Rani Sjamsinarsi, selaku penanggungjawab proyek revitalisasi kawasan Maliiboro, menyatakan, di tahun pertama 2016 ini pihaknya telah menyelesaikan rencana Tahap I, yakni dengan mengalihkan parkir roda dua di sepanjang kawasan Jalan Malioboro hingga Pasar Beringharjo sisi timur sepanjang 910 meter. Pihaknya juga mengaku telah menyelesaikan pembangunan kawasan pedestrian sesuai grand design awal wajah baru Malioboro yang sebelumnya disayembarakan.
“Total anggaran revitalisasi kawasan Malioboro ini mencapai Rp. 23,7 Miliar. Tahun depan, revitalisasi masih akan dilanjutkan secara bertahap. Yakni, tahun 2017 untuk kawasan Pasar Beringharjo hingga Titik Nol Kilometer. Tahun 2018 untuk kawasan Jalan Malioboro sisi barat, dan tahun 2019 untuk kawasan Jalan Margo Utomo, ” katanya.
Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, menyatakan, Jalan Malioboro merupakan wajah atau muka Kota Yogyakarta sebagai Ibukota Provinsi DIY. Malioboro sekaligus juga merupakan simbol filosofis Keraton Yogyakarta. Karena itu, ia berharap kepada semua pihak untuk bersama-sama mejaga kawasan Malioboro.
“Malioboro ini pencerminan Ibu Kota. Wajah muka provinsi. Banyak pihak merasa berkepentingan di sini. Semua ingin berkontribusi pada Malioboro sebagai wujud kecintaan. Karena itu, mari kita jaga bersama Malioboro,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Sultan juga berharap agar semua pihak, baik itu warga Yogyakarta sendiri, maupun wisatawan asal luar daerah agar dapat  dapat terus memberikan masukan maupun kritikan dalam rangka memperbaiki serta menata kawasan Malioboro menjadi lebih baik, sesuai keinginan bersama. Sultan tak ingin proses pembangunan yang dilakukan di kawasan Malioboro berjalan tanpa adanya keterlibatan semua masyarakat.
“Harapan saya, semua warga masyarakat Jogja maupun pendatang,  termasuk wisatawan yang datang ke Malioboro, untuk bisa mengkritisi, maupun memberikan ide serta masukan. Apa saja yang kurang agar bisa disampaikan, karena kita masih punya ruang untuk memperbaiki. Jangan sampai setelah semua jadi baru dikritisi. Ini agar hasilnya baik,” katanya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...