Nggua, Syukuran Panen Komunitas Adat Saga NTT

MINGGU, 04 DESEMBER 2016

ENDE — Setiap tahun komunitas adat Desa Saga Kecamatan Detusoko yang terletak sekitar 23 kilometer arah timur kota Ende dan berjarak empat kilometer arah selatan jalan negara trans Ende-Maumere selalu menggelar ritual Nggua.
Membawa hasil panen setelah diadakan ritual di depan gereja
Saga menurut pengertian atau pengejaan kata SAGA terdiri dari dua kata yakni SA dan GA. Kata “Sa” memliiki arti suara, bunyi atau gemerincik sedangkan kata “Ga” berarti bergema, berwibawa, terpandang, terhormat atau orang yang ditakuti oleh masyarakat setempat.
Pengertian kata SAGA tersebut diatas dapatlah kita katakan bahwa sebenarnya sejak dahulu hingga saat ini melekat dengan kata-kata tersebut diatas, yang secara implisit diwarisi waka atau martabat kepemimpinan yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
Pada setiap rumah adat atau Sao Nggua, selalu ada Tubu Saga (tiang saga) yang artinya tempat persembahan kepada leluhur atau nenek moyang. Tugu Saga terbuat dari batu atau dari kayu tertentu yang tidak mudah lapuk.
Pesta Syukur
Membawa hasil panen dari rumah adat atau Sao untuk didoakan
Nggua menurut Mosalaki Saga, Gregorius Gato saat ditemui Cendana News, Sabtu (3/12/2016) menyebutkan, Nggu  adalah bunyi sementara A bermakna sudah ada, kami ada. Arti umumnya ola tau, ola meko utu bheni tebo
Nggua dapat diartikan sebagai seremoni adat yang berkaitan dengan kehidupan manusia dengan dirinya demi kesejahteraan hidup dan hubungannya dengan alam dan Sang Pencipta. Juga bisa bermakna seremoni adat untuk mengucapkan terima kasih dan syukur kepada Dia yang tertinggi atau pesta syukuran seusai panen.
Ritus Adat Nggua ada tiga, mungkin lebih dimana ada Nggua Uta Bue, Nggua Uwi-Keu Kana dan Nggua Keo. Pesta adat ini merupakan sebuah rangkaian ritual yang dimulai sejak awal dengan membuka kebun baru hingga berujung pada Nggua dan ditutup dengan Gawi atau menari bersama saat pesta syukuran.
Philipus Kami, salah seorang anggota komunitas adat Saga dan ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nisa Bunga kepada Cendana News menjelaskan, pihaknya mencoba menggali makna Nggua dengan menggelar seminar sehari di Saga terkait Nggua Kamis (3/9/2015) yang menghadirkan para Mosalaki atau ketua komunitas adat, tokoh agama, sejarawan, budayawan dan pemuka masyarakat.
Membawa hasil panen dari rumah adat atau Sao untuk didoakan
Dalam seminar tersebut kenang Lipus sapaannya, disimpulkan agar pertama, mendokumentasikan kembali seluruh proses seremonial adat dan menghidupkan kembali seluruh rangkaian acara adat dari warisan leluhur.Kedua, para mosalaki mulai membenahi kelembagaan adat, sejarah asal-usul dan sejarah tanah adat Saga.
Rekomendasi ketiga beber Lipus, memberitahukan pemerintah kabupaten Ende untuk mengakui dan menata kembali tanah hasil dari warisan leluhur masyarakat Saga. Keempat, mulai mewarisi seluruh proses regenerasi penerus untuk mempertahankan adat dan pelestariannya dan mulai membangun kampung adat untuk mengahdapi arus perubahan zaman.
“Rekomendasi terakhir, melakukan penataan kembali kampung adat Saga sebagai ikon pariwisata dengan tidak menghilangkan Budaya asli masyarakat adat Saga,” paparnya.
Mosalaki Tanam Perdana
Proses ritual yang berujung Nggua menurut catatan dalam seminar sehari tersebut yang didapat Mongabay memaparkan, dimulai saat So Au ( bakar aur) menentukan tempat dimana akan dibuka lahan baru (uma wolo). Mosalaki melakukan puju tana di lahan yang akan dibuka. guna memindahkan roh-roh agar tidak mengganggu acara buka kebun.
Selanjutnya seperti dikatakan Lipus, dilaksanakan Ngeti, Poto ura aje, menebang hutan sebagai simbol untuk memulai buka ladang dan memberikan tanda untuk membuka ladang. Ada Lebo atau tebas hutan, membuka hutan. Pada waktu ini terangnya, biasanya dibuatkan dengan poo are, lalu pire atau pantangan beberapa waktu biasanya selama 1 atau 3 hari. Rangkaian ritual disusul dengan wari atau jemur hutan yang sudah di tebas,membiarkannya untuk beberapa waktu.
Sesudahnya tambah Lipus dilakukan Jengi,membakar hutan yang sudah kering yang akan dijadikan kebun yang dilanjutkan dengan sele ago atau sewu petu, atau reba rango dengan upacara seru fata atau tolak bala dimana tanah dibungkus dengan dahan, ranting dan lainnya lalu ditarik dari ujung atas kebun menuju arah bawah atau tempat yang lebih rendah (lawo).
“Rangkaian acara dilanjutkan dengan Ngoro ngapo, membersihkan ladang sehabis sele ago dan membuatkan kebe kolo serta Bhenge,membuatkan wadah berbentuk persegi empat sama sisi atau disebut ola roe,” tuturnya.
Para Mosalaki berbaju merah sedang bersiap memulai menari Gawi bersama
Selanjutnya, Tedo atau menanam padi dan tanaman lainnya sebelum tedo yang disimpan pada bhengge. Tedo pertama oleh mosalaki pada waktu pagi sekali sebelum orang lain tahu, lalu menyusul fai walu ana kalo, atau masyarakat biasa.
Makan Ubi
Saat tanaman telah berumur sekitar 3 bulan dan mulai matang saat dimana dikatakan Tonda lobo rabhe rara papar Lipus, waktu ini diadakan nggua uta bue memakan kacang-kacangan yang berarti mengingatkan kembali keturunan dan leluhur atau nenek moyang kita yang datang secara bersusun, berketurunan. Bue atau kacang-kacangan itu buahnya bersusun  melambangkan keturunan yang tidak berhenti, sistem tangga.
“Setelah padi siap panen dilaksanakan Keti Pare. Pare (padi) yang di petik itu disimpan selalu di Bhengge dan dari sana dihantar ke loka lise. Hasil panen ini kemudian diadakan upacara adat atau ritus yang disebut dengan makan nasi baru atau nguua keu-uwi (keu atau pinang dan uwi atau ubi),”bebernya.
Mengapa tidak disebut Nggua Pare? Tetapi Nggua Keu dan Ka Uwi? Lipus katakan, nenek moyang mereka selalu ingat akan leluhurnya yang pada awalnya makan ubi sebagai makanan pokok, dan sebagai tanda persaudaraan atau persahabatan nata keu.
Tetapi pada awalnya nata biji (keu hutan) sekarang diganti dengan keu mengingat pula nenek moyangnya adalah bangsa pengembara atau penjelajah, belum menetap. Setelah menetap di Keli Lata atau Keli Ndona, Lepe Mbusu, dan munculnya padi  karena Ine Mbu dibunuh, baru kemudian diadakan upacara padi atau pare
“Setelah makan bersama, keesokan harinya diadakan Gawi atau menari bersama. Waktu gawi pun para mosalaki lebih dahulu baru menyusul ana kalo fai walu, warga masyarakat biasa.” paparnya.
Setelah upacara Nggua Keu- Uwi, lanjut Lipus, diadakan Joka Ju atau tolak bala. Upacara tolak bala ini diadakan agar segala penyakit atau bala tidak akan masuk lagi bila membuka kebun berikutnya. Segala penyakit diusir dari kebun atau ladang tersebut agar hasil panen bisa mencukupi sesuai harapan.
Pada dasarnya jelas Goris selaku Mosalaki Saga, Nggua merupakan sebuah pesta syukuran. Saat ritual, diadakan makan bersama serta menari Gawi bersama. Semuanya ini menyimbolkan semangat persaudaraan, senasib sepenanggungan dan meluapkan rasa syukur atau penghormatan kepada Sang Pencipta, leluhur dan alam yang memberikan makanan.
Komunitas adat Saga menari Gawi bersama saat ritual penutup Nggua di kampung adat
Ritual ditutup dengan melaksanakan tarian Gawi bersama-sama. Sebelum Gawi, Mosalaki menuangkan Arak (Moke) dan membei makan kepada leluhur di batu ceper yang berada di tengah lapangan rata di kampung adat tempat di lakukan Gawi bersama. Hampir semua masyarakat Saga hadir dalam kesempatan Nggua yang selalu rutin digelar setahun sekali setiap bulan September.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...