Membuang Sampah di Sepanjang Jalan Menuju TPA Wairii Sikka Pemilik Usaha Akan Ditindak Tegas

RABU 7 DESEMBER 2016

MAUMERE ––Pemilik usaha rumah makan, hotel, toko dan lainnya yang berada di kota Maumere Kabupaten Sikka sering membuang sampah menggunakan motor roda tiga di malam hari di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Wairii desa Kolisia kecamatan Magepanda. Namun sayangnya, sampah-sampah tersebut dibuang di pinggir jalan masuk ke lokasi TPA yang berjarak sekitar satu1kilometer dari jalan raya utama trans utara Flores sehingga kerap mengganggu lalu lalang kendaraan pengangkut sampah yang hendak masuk ke TPA.
Sampah yang dibuang di pinggir jalan menuju TPA Wairii Desa Kolisia Kecamatan Magepanda.
Demikian dikeluhkan kepala bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum, Pertambangan dan Energi (Pu Tamben) kabupaten Sikka Gatot Muryanto saat ditemui Cendana News, Rabu (7/12/2016) di kantornya.
“Biasanya mereka membuangnya memakai motor roda tiga atau pick up dan sering dilakukan pada malam hari saat petugas kebersihan tidak bekerja lagi,” ujarnya.
Gatot tidak keberatan bila sampah dibuang di TPA ini namun sebaiknya sampah dibuang di lokasi TPA dan diletakan di tempat penimbunan jangan dibuang di kedua sisi jalan masuk ke TPA sebab sampah tersebut sering beterbangan dan pihaknya diprotes warga sekitar.
Selain itu kata Gatot, lebih baik perusahaan-perusahaan ini berkoordinasi dengan pihaknya dan meletakan bak penampung di tempat usahanya agar petugas kebersihan bisa mengangkut sampah tersebut untuk di buang ke TPA.
“Lebih baik kami yang mengangkut dan membuang sampahnya saja sebab jika dibuang sendiri kadang petugasnya ketakutan saat malam hari sehingga membuang sampah di pinggir jalan masuk,” ungkapnya.
Gatot mengakui, pihaknya juga kekurangan sumber daya dan peralatan. Di bagiannya, hanya ada 4 unit dump truck yang bertugas mengangkut sampah untuk dibuang ke TPA serta 4 mobil untuk menarik kontainer sampah serta 4 motor roda  tiga.
Idealnya sebutnya, harusnya setiap kelurahan di kota Maumere dilayani 1 unit dump truck untuk angkut sampah serta dan petugas kebersihan minimal 125 otrang sehingga bisa bertigas 2 shift.
“Saat ini kami hanya memiliki 63 pegawai kontrak sementara PNS 23 orang dan bertugas di kantor. Keterbatasan ini membuat pengangkutan sampah tidak maksimal dan sampah sering menumpuk,” terangnya.
Memang lanjut Gatot ada 4 dump truck lagi di kantornya namun mengalami kerusakan dan belum bisa dioperasikan akibat tidak adanya dana untuk memperbaiki dan membeli suku cadang yang rusak.
“Dana kami paling hanya satu miliar rupiah saja setahun sehingga banyak terpakai untuk biaya gaji tenaga kerja saja sementara biaya perawatan kendaraan dan lainnya hampir tidak ada,” pungkasnya.
Sampah yang dibuang perusahaan beterbangan sehingga sering diprotes warga sekitar.
Jurnalis: Ebed de Rosary/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Ebed de Rosary
Lihat juga...