SENIN, 19 DESEMBER 2016
SUMENEP — Belum tersedianya alat transportasi pengangkut jenazah dari daratan menuju kepulauan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, sering dikeluhkan warga setempat. Pasalnya mereka kebingungan ketika ada keluarganya meninggal di daratan saat melakukan perawatan medis untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di daerah pulau. Itu pun juga harus mengeluarkan biaya cukup besar agar dapat membawa jenazah dengan menggunakan kendaraan milik warga. Meskipun tidak adanya alat transportasi pengangkut jenazah sering dikeluhkan, rupanya belum ada perhatian dari pemerintah daerah setempat. Bahkan justru seperti lepas tangan terhadap penderitaan yang dialami masyarakat kepulauan. Karena sejak dulu seringkali terjadi adanya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang meninggal akibat kecelakaan maupun sakit harus diangkut perahu agar bisa pulang ke kampung halamannya.
![]() |
| Ahmad Rahman, Tokoh Pemuda Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep. |
“Jadi jangan salah ketika masyarakat kepulauan menilai pemerintah daerah telah menganaktirikan warga yang tinggal di pulau. Sebab, selama ini, fasilitas di daerah tersebut masih belum memadai. Apalagi transportasi laut yang bisa mengangkut jenazah. Itu kan juga sangat dibutuhkan, supaya ketika ada yang meninggal tidak harus mengeluarkan biaya cukup besar,” kata Ahmad Rahman, Tokoh Pemuda Kepulauan Kangean Sumenep, Senin (19/12/2016).
Disebutkan, selama ini masyarakat kepulauan memang seperti dianaktirikan Pemerintah Daerah (Pemda). Masih belum mendapatkan perlakuan yang sama dengan masyarakat di wilayah daratan. Akibatnya, hak-hak dan kebutuhan masyarakat di kepulauan terkesan diabaikan begitu saja tanpa ada perhatian serius layaknya wilayah lain yang ada di daratan. Apabila ada orang pulau meninggal saat dirawat di rumah sakit yang ada di daratan maupun di pulangkan bekerja, pihak keluarga terpaksa menyewa perahu motor untuk mengangkut jenazah dengan biaya Rp 6.500.000. Itu pun tidak mudah mendapatkan perahu yang menerima tawaran untuk mengangkut jenazah.
Oleh karena itu, masyarakat kepulauan meminta kepada pemerintah untuk menyediakan angkutan jenazah agar ketika ada warga pulau yang meninggal di daratan tidak lagi kebingungan masalah transportasi. Sebab untuk sampai ke wilayah pulau tersebut, masih membutuhkan waktu kurang lebih sekitar delapan jam.
Jurnalis: M. Fahrul / Editor: Satmoko / Foto: M. Fahrul