Harga Kebutuhan Pokok di Sejumlah Pasar Tradisional Lampung Merangkak Naik

KAMIS 15 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Jelang Natal dan Tahun Baru harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional di Provinsi Lampung mulai menunjukkan peningkatan. Hal tersebut seperti yang terjadi di pasar Mataram Baru Kecamatan Mataram Baru Kabupaten Lampung Timur di mana harga kebutuhan pokok mulai naik dibandingkan harga biasa dengan peningkatan cukup signifikan pada komoditas bumbu dapur berupa cabai merah besar.
Pembeli telur terpaksa membeli jumlah sedikit akibat terjadi kenaikan.
Salah satu pedagang di pasar Mataram Baru, Suardi (40) bahkan mengungkapkan harga cabe merah besar yang semula hanya berkisar Rp30 ribu per kilogram kini bisa mencapai Rp70 ribu per kilogram. Kondisi tersebut menurut Suardi sudah terjadi beberapa hari belakangan dan sempat dikeluhkan konsumen padahal ia mengaku kenaikan harga juga telah terjadi di tingkat distributor dan petani.
Cabai merah besar yang menurut Suardi banyak digunakan sebagai bumbu dapur oleh kaum ibu rumah tangga (IRT), pemilik rumah makan dan restoran tersebut bahkan sampai di warung tradisional di sejumlah desa. Suardi mengaku selalu harus menjawab pertanyaan pembeli yang mengeluhkan kenaikan harga cabai merah besar yang dijawab bahwa kenaikan tersebut terjadi sejak di tingkat petani dan lambatnya distribusi cabai merah yang dipasok dari sejumlah wilayah. Keputusan menjual dengan harga tinggi diakuinya karena di tingkat distributor sudah mengalami kenaikan.
“Kami membelinya dari distributor dengan harga sudah mencapai Rp65 ribu dengan kualitas super dan bisa harga Rp50 ribu untuk kualitas sedang sehingga terpaksa ikut menaikkan harga juga kepada konsumen,”terang Suardi saat ditemui Cendana News di warung kebutuhan pokok di pasar Mataram Baru, Kamis (15/12/2016).
Selain harga cabe merah besar yang bergerak naik dengan beragam faktor yang mendorongnya, kenaikan juga menurut Suardi terjadi pada cabe rawit. Harga cabe rawit yang semula hanya pada kisaran Rp30 ribu bahkan bergerak naik dua kali lipat mencapai Rp 60ribu per kilogramnya. Selain itu bumbu masak jenis bawang putih juga mengalami kenaikan dari semula seharga Rp33 ribu menjadi Rp39 ribu per kilogram. 
Cabe rawit dan cabe merah besar.
Kebutuhan akan bumbu dapur berasa pedas tersebut menurut Suardi diakibatkan tingginya permintaan (demand) dibandingkan pasokan (suplly) dari sejumlah sentra pertanian diantaranya dari wilayah Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat sebagai penghasil cabe. Selain itu Suardi mengaku seperti tahun sebelumnya menjelang hari raya keagamaan dan liburan panjang sejumlah komoditas selalu mengalami lonjakan harga.
Selain bumbu masak, kebutuhan yang juga naik diantaranya telur yang banyak digunakan untuk bahan pembuatan kue. Telur yang semula dihargai Rp18 ribu per kilogram bahkan kini meningkat menjadi Rp21 ribu per kilogram akibat permintaan sejumlah masyarakat yang akan merayakan hari Natal meski jumlahnya tidak cukup banyak. Selain telur harga gula yang semula Rp16 ribu per kilogram naik menjadi Rp18 ribu per kilogramnya. Kenaikan tersebut diakuinya karena tingkat konsumsi bahan baku meningkat terutama untuk pembuatan beragam kue untuk perayaan Natal bagi umat Kristiani.
Daging Sapi dan Daging Ayam Juga  Mengalami Kenaikkan Harga
Selain kebutuhan bumbu dapur dan kebutuhan untuk membuat kue, harga sejumlah kebutuhan lain diakui pedagang lain juga mengalami kenaikan. Aminah (34) penjual ayam dan beberapa pedagang daging sapi mengaku kenaikan juga terjadi pada bahan lauk pauk tersebut. Harga daging sapi yang semula hanya berkisar Rp100 ribu per kilogram bahkan kini mencapai Rp120 ribu per kilogram. Demikian juga dengan harga daging ayam yang naik dengan kisaran Rp1.000 per kilogram dari semula hanya Rp25 ribu perekor menjadi Rp30 ribu per ekor dengan ukuran sekitar 1,5 kilogram.
“Sebetulnya bukan kita pedagang di tingkat hilir yang langsung menghadapi konsumen yang menaikkan harga namun sejak dari distributor pun sudah naik, hindari rugi ya kami juga ikut naikkan harga,”ungkap Aminah.
Selain faktor keterlambatan pasokan, kenaikan haga di tingkat distributor, sejumlah konsumen mengaku kenaikan harga tersebut lebih disebabkan kesempatan meraup keuntungan dengan memanfaatkan momen Natal dan tahun baru. Salah satu warga Lampung Timur, Cindy, mengaku saat hari raya keagamaan tertentu harga harga melonjak naik karena permintaan dianggap mengalami kenaikan sementara pasokan cukup tersedia.
“Terkadang saya pikir memang tidak masuk akal karena sebetulnya pasokan juga masih banyak namun karena memang hendak mencari keuntungan tentunya sudah dinaikkan harganya, karena kita belum pernah mendengar harga turun jelang saat perayaan hari raya,” terang Cindy yang berbelanja kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Cindy berharap sepekan menjelang hari raya Natal pihak terkait dalam hal ini pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan melakukan operasi pasar untuk sejumlah kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan. Selain meringangkan beban masyarakat, kebutuhan masyarakat yang semakin banyak mengakibatkan beban semakin berat menjelang akhir tahun terutama dengan naiknya sejumlah harga kebutuhan pokok.
Suardi siap menimbang cabai merah yang harganya berangsur naik di pasar tradisional Lampung Timur.
 Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...