Enam Orangutan Dilepasliarkan dari Pusat Reintroduksi Yayasan BOS Samboja

SELASA, 13 DESEMBER 2016
 
BALIKPAPAN — Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) hari ini melepasliarkan enam orangutan ke habitat alaminya, Hutan Kehje Sewen, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Kehje Sewen merupakan hutan hujan seluas 86.450 hektar di Kalimantan Timur yang dikelola dalam skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI). Yayasan BOS memperoleh izin pemanfaatan hutan ini di tahun 2010, khusus untuk pelepasliaran orangutan dari Samboja Lestari.

Orangutan yang kembali dilepaskan di hutan, habitat alaminya.

Dengan demikian, sudah ada 251 orangutan yang sudah dilepasliarkan organisasi ini sejak tahun 2012.

“Di Hutan Kehje Sewen sendiri, dengan pelepasliaran ini, maka jumlah total orangutan di sana menjadi 55 individu,” kata Ketua Yayasan BOS, Jamartin Sihite, dalam siaran pers yang diterima redaksi. Ia menjelaskan, orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari dua jantan dan empat betina. Dua di antaranya pasangan ibu-anak.

Tim dari Yayasan BOS dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menempuh perjalanan darat dari Pusat Reintroduksi Samboja Lestari yang masuk wilayah Hutan Bukit Soeharto, menuju Muara Wahau, Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Kutai Timur. Rombongan berhenti setiap 2 jam untuk memeriksa kondisi orangutan. Dari Muara Wahau, perjalanan dilanjutkan selama sekitar 5 jam sampai akhirnya ke lokasi yang berjarak sekitar 200 meter dari Sungai Telen dan merupakan titik terakhir yang bisa dicapai kendaraan.

Dari situ, kandang transport diangkat ke tepi sungai dan dibawa menyeberang sungai dengan perahu ces. Kandang transport keenam orangutan kandidat pelepasliaran ini dipindahkan ke atas kendaraan berpenggerak 4 roda sampai ke titik pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen.

Menurut Jamartin Sihite, status konservasi orangutan di Kalimantan telah semakin membahayakan. Hal ini mendorong Yayasan BOS untuk bekerja sama dengan BKSDA Kalimantan Timur menggiatkan pelepasliaran orangutan dari pusat rehabilitasi yang telah siap.

“Masih ada 200 lagi orangutan di Samboja Lestari dan hampir 500 lagi di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Begitu mereka menyelesaikan tahap rehabilitasi dan menguasai keterampilan bertahan hidup di hutan, kami akan segera melepasliarkan mereka di hutan,” terangnya.

Kepala BKSDA Kaltim, Sunandar Trigunajasa, mengatakan, pelestarian satwa dan habitatnya merupakan tanggung jawab semua pihak di seluruh lapisan, baik itu pemerintah, masyarakat, swasta, maupun seluruh lembaga atau organisasi masyarakat.

“Dengan semakin berkurangnya habitat alami, maka otomatis tanggung jawab kita untuk menjaga kelestarian mereka semakin besar,” katanya, Selasa (13/12/2016).

Selama ini, kerja sama antara Yayasan BOS dengan BKSDA Kalimantan Timur dalam penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan merefleksikan betapa pentingnya upaya konservasi orangutan dan habitatnya.

“Saya mengimbau kepada pihak-pihak lain pemangku kepentingan untuk turut serta bersama kami melestarikan lingkungan alam kita yang kaya,” kata Sunandar.

Direktur Konservasi RHOI, Aldrianto Priadjati, menambahkan, masih ada proses yang tak kalah panjang memastikan para orangutan yang dilepasliarkan dapat bertahan hidup dengan sejahtera dan beranak-pinak di Hutan Kehje Sewen.

“Sejak 2012, kami telah melepasliarkan 49 orangutan di Hutan Kehje Sewen ini, dan hari ini akan menjadikan angka itu 55. Sebagian besar dari mereka saat ini telah melalui setahun pertama pengamatan dengan sukses, dan kami telah memiliki 2 kelahiran alami,” ungkapnya.

Orangutan di Kalimantan (pongo pygmaeus) tahun ini bergabung dengan orangutan di Sumatera (pongo abelii) dinyatakan sebagai satwa yang “sangat terancam punah” oleh International Union for Conservation of Nature atau IUCN. Perubahan status konservasi ini didorong oleh berkurangnya habitat alami mereka akibat berbagai sebab, utamanya karena alih fungsi lahan.

Dalam kegiatan pelepasliaran ini, hadir di antaranya sejumlah tokoh dari industri seni dan hiburan sekaligus Direktur Garda Satwa Indonesia, Davina Veronica, aktris, model, dan pembawa acara, Dominique Diyose bersama suaminya, dan Ivan Handoyo, seorang pembuat film. Selain itu ada pula personil grup musik rap tanah air, Fade 2 Black.

Jurnalis: Ferry Cahyanti / Editor: Satmoko / Foto: Istimewa

Lihat juga...