Difabel di Sikka Masih Dipandang Sebelah Mata

MINGGU, 04 DESEMBER 2016

MAUMERE – Para difabel yang selama ini berkarya dan melakukan aktifitas baik di Bank Sampah Flores maupun bernaung di bawah yayasan Caritas Maumere masih merasa dianaktrikan. Kaum difabel pun belum mendapat perhatian dari pemerintah baik fasilitas penunjang pekerjaan maupun pelatihan. Demikian disampaikan Siprianus Sadipun salah seorang difabel yang ditemui Cendana News di sela-sela bakti sosial memebersihkan sampah di kamoung Wuring Maumere, Sabtu (3/12/2016).
Siprianus Sadipun (baju hijau) bersama bu Susi dari Bank Samoah Flores sedang memberikan sosialisasi sampah saat hari Aramada Nasional di kamoung wisata Wuring
Dipaparkan Siprianus, selama ini kaum difabel sudah banyak berbuat dengan membentuk Bank Sampah Flores dan bekerja mengumpulkan sampah di kota Maumere dan membuat berbagai kerajinan tangan berbahan baku sampah.
“Sejak  tiga tahun lalu teman-teman bekerja mengumpulkan, memilah dan membuat aneka kerajinan dari sampah namun tidak ada bantuan pinjam modal dari pemerintah,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Fransiskus Dionisius Nurak yang bekerja di bengkel dan terampil memodifikasi motor roda tiga khusus untuk kaum difabel. Menurutnya, pemerintah belum banyak berperan dan masih belum peduli.
“Selama ini bantuan buat teman-teman difabel cuma datang dari lembaga-lembaga sosial sedangkan dari pemerintah hampir bisa dikatakan tidak ada. pemerintah terkesan tidak peduli dengan keberadaan kami,” ungkapnya.
Adi menyesalkan perlakuan dari dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi kabupaten Sikka yang pernah mengirim beberapa orang difabel mengikuti pelatihan di Jawa dan pesertanya dipilih sendiri oleh dinas tersebut.
Namun peserta pelatihan yang dikrim beber pria berusia 35 tahun ini, tidak memiliki bakat sesuai pelatihan keterampilan yang diikuti sehingga usai pelatihan mereka tidak bisa menerapkan ilmu yang didapat. Seharusnya pemerintah memilih anggota yang memang saban hari bekerja sesuai keterampilan yang ada atau memiliki bakat di satu bidang.
“Banyak yang memiliki keterampilan dan sudah bekerja sesuai bakatnya dan orang seperti ini yang seharusnya dikirim mengkikuti pelatihan untuk menambah ilmu dan keterampilan yang sudah ada,” tegasnya.
Kaum difabel di Sikka kata Adi, sudah membentuk aliansi peduli difabel kabupaten Sikka yang bertujuan untuk menuntut persamaan hak. Hal ini terjadi mengingat banyak kaum difabel di Sikka yang belum terdata sebab tidak memiliki KTP dan kartu keluarga serta BPJS Kesehatan.
“Pemerintah tidak membantu memfasilitasi kaum difabel untuk memiliki identitas agar bisa memeroleh hak dan kewajibannya sebagai seorang warga negara,” terangnya.
Siprianus Sadipun (baju hijau) bersama teman lainnya dari  aliansi peduli difabelkabupaten Sikka
Adi mengakui, dirinya  memiliki keahlian perbegkelan dan saban hari bekerja di bengkel milik yayasan Caritas. Saat ini dia sedang mengikuti tes untuk bekerja di bengkel milik yayasan Katolik.
“Saya sudah membuat delapan motor roda tiga yang saya modifikasi sendiri termasuk yang saya pergunakan agar membudahkan teman-teman difabel melakukan mobilisasi dan aktifitas mereka,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...