BMKG DIY Imbau Warga Waspadai Fenomena Angin Kencang

KAMIS, 22 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DI Yogyakarta mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap fenomena angin kencang di sekitar wilayah DIY. Pasalnya, sejak beberapa hari terakhir kondisi cuaca di DI Yogyakarta diketahui terjadi fenomena angin kencang dengan kecepatan maksimum hingga 50 kilometer per jam.
Alat ukur kecepatan angin di BMKG DIY.
Fenomena angin kencang ini kerap muncul dan dirasakan warga sekitar DIY secara tiba-tiba, tanpa disertai hujan ataupun mendung berpetir. Koordinator Klimatologi BMKG DIY, Joko Budiono, mengatakan, fenomena angin kencang ini terjadi karena adanya daerah bertekanan rendah di sekitar Samudera Hindia dan di Laut Timur. Tekanan udara ini dikatakan bisa mencapai sekitar 996-998 milibar dan disebut dengan sirkulasi siklonik.
“Diperkirakan angin kencang ini masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Karena memang kondisi di kawasan Samudera Hindia dan Laut Timor pada bulan Desember masih berpotensi menjadi badai tropis,” ujarnya, Kamis (22/12/2016).
Karena itu, ia berharap agar masyarakat dapat lebih berhati-hati serta mengantisipasi fenomena angin kencang ini. Khususnya, bagi para nelayan karena diperkirakan hal ini juga berimbas pada naiknya gelombang air laut mencapai setinggi 2-3 meter. Selain itu, juga termasuk warga masyarakat baik itu yang berada di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo,  maupun Gunungkidul.
Sejumlah warga masyarakat di Yogyakarta sendiri mengaku merasakan fenomena angin kencang ini sejak beberapa hari terakhir.  Salah-satunya dirasakan Yani, seorang penjual angkringan. Meski tidak sampai merubuhkan tenda angkringannya, namun angin kencang ini dikatakan cukup mengganggu terlebih karena muncul secara tiba-tiba.
“Memang tidak sampai merobohkan, hanya menerbangkan tenda saja. Jangka waktunya juga sebentar, tidak lama. Namun, terus-terang saya cukup khawatir juga kalau-kalau tenda angkringan ini sampai roboh tersapu angin. Semoga saja ini tidak terjadi lagi, ” tuturnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...