Toja Bobu Tarian Bertopeng Menyambut Tamu Warisan Portugis

MINGGU, 6 NOVEMBER 2016

MAUMERE — Dua orang lelaki berjalan di bagian depan memakai topeng (Bobu) dengan tangan sebelah kanan memegang tongkat yang terbuat dari kayu bulat yang dicat merah, putih dan hitam. 


Pada bagian tengah kayu dipasang giring–giring. Begitu juga di kedua kaki penari Bobu. Sambil bejalan membungkuk penari menghentakan kedua kaki membunyikan giring-giring. Di saat bersamaan,tangan penari Bobu menancapkan kayu di tanah dan mengeluarkan bunyi senada.
Dibelakang keduanya empat orang penari perempuan mengibaskan selendang tenun di tangan sambil menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan tiga penyanyi lelaki dewasa.
Selendang tenun dikalungkan di leher sementara kedua ujungnya dipegang penari.Saat penari bergerak kekiri, ke kanan dan memutar, kedua ujung selendang pun dikibaskan.Terkadang penari membuat gerakan memutar seraya sedikit membungkuk.
“Gerakan ini bermakna memberikan pengormatan dan mempersilahkan tamu untuk datang  atau menyambut tamu, “ ujar Fransiskus Rai.
Melapangkan Jalan
Salah seorang anggota sanggar Begu Lagu asal Wolowiro kecamatan Paga ini kepada Cendana News, Minggu (6/11/2016) menjelaskan, susunan penari Toja Bobu berselang–seling dimana di depan ada 2 penari Bobu diikuti 4 penari perempuan.
Di belakang penari perempuan kembali ditempati 2 penari Bobu dan begitu seterusnya hingga susunan terakhir ditempati 2 penari Bobu.Untuk pementasan kali ini kata Frans sanggarnya menurunkan 6 penari laki – laki bertopeng (Bobu) dan 8 perempuan disertai tiga lelaki dewasa menyanyikan syair.
Selama tarian dibawakan, bebernya, seorang Mosalaki (ketua adat) berjalan maju mundur di tengah barisan penari.Tangan Mosalaki memegang sebuah kayu bulat yang diujungnya dipasang ekor kuda (hitam dan putih). Tangan Mosalaki bergerak mengibaskan ekor kuda dan sesekali membuat gerakan memutar di kepala.
“Gerakan ini bermakna membuka jalan atau membersihkan jalan agar tamu atau  pejabat yang melewatinya tidak mendapat rintangan atau halangan,” terangnya. 
Tarian Toja Bobu lanjut pembaca syair ini, memang jarang dipentaskan di dua wilayah jajahan Portugis baik di Paga maupun di Sikka. Toja Bobu ditampilkan dengan dua versi berbeda dimana di Paga penari Bobu memakai topeng dan mengenakan pakaian dari daun pohon Tuak (Enau) muda.
Kalau di Sikka para penari memakai pakaian ala orang barat, jas lengkap.Selain memakai topeng, para penari Bobu juga mengenakan topi bundar di kepala. Toja artinya penari sementara Bobu berarti topeng atau badut.
“ Toja Bobu diartikan sebagai tarian yang memakai topeng dan merupakan warisan peninggalan bangsa Portugis, “ terangnya. 
Dalam menarikan tarian ini, semua penari Bobu harus laki – laki dan mengenakan topeng. Topeng tersebut seperti dijelaskan Frans, terbuat dari kulit pohon kemiri. Kulit tersebut dikeringkan, dibentuk dan dilukis menyerupai wajah manusia. Bagian atas topeng dipasang kayu yang disambung dengan ijuk sehingga terlihat seperti rambut.
“Semua penari, penyanyi dan Mosalaki memakai sarung tenun ikat. Mosalaki dan penyair wajib mengenakan ikat kepala dari sarung, “ ungkapnya.
Penari Bobu lanjut Frans, memakai pakaian dari daun pohon Tuak yang melambangkan saat orang Portugis datang, mereka memakai jubah. Masyarakat pun menyambut pendatang tersebut dengan tangan terbuka, sehingga tarian Toja Bobu ini dimaknai sebagai ungkapan kegembiraan, menyambut tamu yang dating.
Pesan Selamat Datang 
Geradus Gedo pemilik sanggar Begu Lagu kepada Cendana News usai  usai pentas menyebutkan, tarian Toja Bobu merupakan peninggalan bangsa Portugis yang sampai saat ini masih ditarikan di wilayah Paga.
Toja Bobu kata Geradus, ditarikan saat Natal untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus.Selain itu juga ditarikan saat ritual adat, kelahiran bayi dan penyambutan orang besar (pejabat) dan tamu dari luar daerah.
“ Tarian ini kita persembahkan untuk menyambut Simo Ana Yesus (bayi Yesus). Saat mau terima patung Simo Ana Yesus baru kita pakai Bobu (topeng) tapi setelah penerimaan tidak pakai Bobu lagi. Semua penari menari mengelilingi Simo Ana Yesus, “ jelasnya.
Jumlah penari Bobu tambah Geradus biasanya terdiri dari 20 sampai 25 orang. Syair lagu dibawakan dalam bahasa Lio dan disesuaikan dengan maksud pementasannya. Jika menyambut pejabat, syair yang dinyanyikan menyebutkan nama pejabat disertai doa dan pesan kepadanya serta semua tamu yang datang.
“Sementara saat Natal, syairnya pun mengisahkan tentang kegembiraan menyabut kedatangan bayi Yesus yang lahir ke dunia, “ bebernya.
Ditambahkan Raymundus Wero, tarian Toja Bobu di Paga sering dibawakan karena sanggar Begu Legu yang didirikan sejak tahun 1975 selalu melatih anak – anak usia sekolah dasar untuk terlibat di dalamnya. 
Tak heran bila saat dipentaskan di pantai Koka, para penari lelaki semuanya berusia sekolah dasar sementara penari perempuan rata–rata duduk di bangku sekolah manengah pertama.
Biasanya sebelum ditarikan dibuat ritual adat memberi makan leluhur dengan menyiapkan ikan atau ayam, Moke (arak), Bako (rokok) dan sirih pinang. Ritual adat dibuat demi memohon agar pementasan Toja Bobu berjalan lancar.
“Kami bangkitkan generasi muda dan ajar tarian ini sejak usia dini sehingga mereka bisa mencintai warisan nenek moyang dan meneruskan tradisi ini, “ paparnya.
Jika anak-anak sekolah ini sudah dewasa sambung Raymundus, maka mereka akan diajari juga membawakan syair lagu. Jika tidak begitu, kami takut nanti suatu saat tarian ini akan hilang.
Satu bait syair pembukan yang dinyanyikan dalam bahasa Lio Paga saat pementasan di pantai Koka jelasnya, berisikan ungkapan selamat datang dan pesan persahabatan, merasa sedih kehilangan saat sang tamu pergi.
Keko ji’e no’o gare pawe. No ame – ame miu lei sawe.Tau wenggo nena soli kame lawe yang artinya Kami omong yang baik untuk bapak – bapak semua tentang keluh kesah kami. 
Sementara syair terakhir yakni Kame ate hiro haro ngai baba.Tau wele walo.Ma’e ngadho fai walu ana kalo yang artinya hati kami sedih karena bapak datang dan pergi lagi.Jangan lupa kami orang susah.
“Selesai syair dilanjutkan dengan menyanyikan refrein ; Sela le la le..sela le la le yang diulang sebanyak dua kali, “ pungkasnya.


Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary 

Lihat juga...