MINGGU, 6 NOVEMBER 2016
MAUMERE — Mbrase atau ikan Se bagi masyarakat kecamatan Paga dimaknai sebagai berkat dari leluhur dan sang pencipta. Ikan yang ada sejak ratusan tahun silam ini hanya muncul di wilayah pantai selatan Paga saja setiap bulan Desember sampai Februari.

Ribuan orang Paga berduyun-duyun ke laut menangkap ikan ini saat muncul.Kebersamaan dan kekeluargaan yang tumbuh saat warga dari daerah pegunungan dan pesisir pantai bertemu dan menangkap ikan Se ini coba dituangkan dalam sebuah tarian oleh sanggar Rabi Ria
“Tarian ini menggambarkan bagaimana masyarakat Paga menangkap ikan Mbarase yang muncul setahun sekali, “ ujar Merry Fio,guru SDI Mauloo Paga kepada Cendana News, Minggu (6/11/2016).

Tarian ini beber Mery, ditampilkan oleh 7 orang remaja perempuan dan seorang laki–laki. Para perempuan mengenakan rok sarung tenun motif Lio dipadankan dengan baju kain berwarna biru muda.
Sementara laki–lakinya mengenakan celana panjang yang dililit kain tenun ikat dipadukan dengan rompi kuning serta ikat kepala berbahan tenun ikat.

Menggiring Ikan Se. Disaksikan Cendana News, gerakan tari diawali penari dengan berjalan memutar membentuk lingkaran.Lima penari memegang kayu bulat sebesar ibu jari sepanjang sekitar 50 sentimeter memukul – mukulkan kayu.
“Gerakan ini melambangkan aktifitas yang dilakukan di laut untuk menggiring ikan Se agar tetap berada di dalam lingkaran, “ terangnya.
Tangan digerakan maju mundur terkadang dilebarkan membuat gerakan mendorong ke depan seraya memukulkan kayu.Para penari pun tetap membentuk lingkaran bermakna menjaga agar ikan Se tetap berkumpul.

Satu per satu penari mulai merapat, gerakan kaki maju mundur memukulkan kayu pun di percepat.Lingkaran pun kian mengecil dan para penari pun duduk jongkok.Lutut dijadikan tumpuan. Sere yang dipegang seorang penari diletakan di sampingnya. Kayu pun diletakan dan tangan–tangan penari membuat gerakan mengibas–ngibaskan air laut.
“Gerakan ini melambangkan gerakan menggiring ikan Se agar berkumpul dan membentuk lingkaran kecil sehingga mudah ditangkap, “ ungkapnya.
Selanjutnya Sere lalu diangkat, penari membuat gerakan tangan menyendok (mengambil) ikan. Penari lainnya serentak membuat gerakan tangan mengusir ikan masuk ke dalam Sere.Setelah di rasa cukup, Sere diangkat setinggi mungkin mengartikan menjaga agar ikan yang sudah ditangkap tidak jatuh.
Penari yang memegang Batung atau Kidak mendekat dan berjongkok. Pangkal Sere diangkat tinggi dengan mulut Sere berada di atas Batung. Sesekali tangan dipukulkan ke Sere agar ikan – ikan halus tersebut bisa jatuh.Penari lainnya tetap berdiri melingkar dan memandang dengan senyum dan tertawa kecil.
Kegembiraan kembali ditampilkan.Penari berjalan melingkar dan kembali melakukan gerakan serupa. Ikan yang di dapat dibagi rata diantara mereka.Proses penangkapan pun selesai.Ikan yang ditangkap dirasa cukup. Penari kembali berjalan melingkar seraya menebarkan kegembiraan, tersenyum dan tertawa.
Pesan Kebersamaan. Raymundus Heko, penari lelaki lainnya yang ditemui Cendana News menceritakan tarian Mbarase yang ditampilkan menggambarkan tentang proses penangkapan ikan Se.Sarana yang digunakan saat menarikan tarian ini sebut Mundus yakni Sere, kayu bulat sepanjang 50 sentimeter serta Batung atau Kidak wadah.
Sere berbentuk kerucut tambah guru SDI Mauloo ini,terbuat dari 30 batang rotan yang diraut. Diameter mulut Sere sekitar 50 sentimeter. Bagian pangkal Sere berbentuk bulat ditutup rapat guna mencegah ikan Se berlari keluar.
Sementara kayu – kayu bulat yang dipegang 6 penari melambangkan alat yang dipakai untuk mengusir ikan Se buat berkumpul dan ditangkap.Kidak berbentuk mirip lingkaran dianyam dari daun Koli ( Tuak ).
“Tarian ini melambangkan kebersamaaan. Mengisahkan saat masyarakat turun ke laut menangkap ikan Se saat musim ikan ini muncul di laut pantai Paga “ tuturnya.
Penari tutur Mundus biasanya terdiri dari 7 sampai 8 orang dan kebanyakan perempuan sementara laki–laki cuma satu dua orang saja.Banyaknya penari perempuan beber Mundus, karena jaman dahulu biasanya para perempuan yang menangkap ikan ini.
“Jaman dahulu hanya perempuan yang boleh tangkap ikan Mbarase tapi sekarang semua orang boleh menangkapnya. Perempuan biasanya lebih terampil menangkap sementara kaum lelaki biasanya berenang mengusir ikan “ ungkapnya.
Merry yang membimbing dan melatih para penari kepada Cendana News menyebutkan,tarian Mbarase ingin mengambarkan bahwa ikan Se memberikan penghasilan dalam hal ini pangan kepada masyarakat setempat.
Selain itu tambahnya, ada nilai ekonominya karena ikan ini pun dijual.Dan yang terpenting, kebersamaan yang terjadi saat ribuan orang turun ke laut dan menangkapnya membuat tarian ini ingin mengedepankan nilai kebersamaan dan persahabatan itu.
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary