JUMAT 18 NOVEMBER 2016
JAYAPURA- Puncak acara Syukur 50 tahun Hirarki Keuskupan Jayapura, Jumat (18/11) pagi di GOR Cenderawasih APO, dihadiri ribuan umat Katolik. Perayaan tahun emas ini mengambil tema ‘Kokoh Diatas Iman Yang Berakar Dalam Budaya, Melangkah Keluar Menginjili Dunia’ Hal ini dikatakan Koordinator Puncak Acara Antonius Ama Bolen, Jumat (18/11/2016).
![]() |
|
Ribuan umat Katolik ikuti acara syukuran 50 Tahun Hirarki di GOR Cenderawasih Jayapura.
|
Dikatakan Antonius, acara tahun emas Keuskupan diawali perarakan dengan tarian penjemputan lalu penyerahan Kitab Suci dan pelepasan balon HUT 50 Tahun Hirarki Keuskupan Jayapura dan dilanjutkan dengan misa syukur. Maksud dan tujuan perarakan dan penjemputan dimana perarakan untuk memeriahkan Perayaan 50 Tahun Hirarki Keuskupan Jayapura, ini untuk mengenang jasa para misionaris dan para leluhur yang merintis awal mula pewartaan Injil di Tanah Papua.
“Juga menunjukan kebersamaan dan kemandirian umat Keuskupan Jayapura, yang terdiri dari berbagai latar belakang suku, budaya yang berbeda yang dipersatukan oleh iman akan Yesus Kristus,” ujarnya. ?
Selain itu, lanjutnya kegiatan ini menunjukan kerjasama yang sudah terjalin selama 50 tahun antara keuskupan, gereja dengan pemerintah dan umat Katolik dari provinsi sampai di tingkat basis/kampung. “Serta menunjukan kebersamaan umat Katolik Papua dan pendatang yang memang adalah satu,” ujarnya.
![]() |
| Pengguntingan balon oleh uskup Mgr. Leo Laba Ladjar menandakan 50 tahun keuskupan Jayapura di tanah Papua. |
Penyerahan Kitab Suci, dikatakannya, dikatakannya, di bawa oleh perwakilan dari masyarakat Key, yang merupakan anak cucu dari para leluhur misionaris awam Katolik pertama di Keuskupan Jayapura, untuk mengenang jasa dan perjuangan para leluhur.
“Kitab Suci diserahkan kepada tokoh umat Katolik Papua yaitu Celsius Watae dan ini menunjukan ketulusan hati dari tanah dan anak-anak Papua dalam menerima api injil Kristus di tanah Papua,” katanya.
?Selanjutnya Kitab Suci di serahkan oleh tokoh umat Katolik Papua kepada Uskup. Ini menunjukan bahwa, selain menerima api Injil Kristus tanah Papua juga membutuhkan figur gembala untuk mengembalakan domba-domba agar api Injil Kristus terus bersinar dan terpancar dari Papua.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Editor: irvan sjafari/Foto: Indrayadi T Hatta
