Salam Dan Doa dari Timor Leste Untuk Indonesia

SABTU, 29 OKTOBER 2016

JAKARTA — Peringatan Sumpah Pemuda Ke-88 di Museum Kebangkitan Nasional kedatangan tamu istimewa. Seorang pria bernama Bruno, berasal dari Timor Leste atau dulu dukenal dengan Timor Timur.
Bruno adalah seorang staf pemerintahan Timor Leste yang sedang memperkenalkan mata uang baru milik Timor Leste kepada pemerintah Republik Indonesia. Setelah tugas Bruno dan teman-temannya selesai maka ia beserta keluarganya bermaksud keliling Jakarta sebelum kembali ke Timor Leste.
Waktu luangnya dimanfaatkan untuk mengunjungi museum sehingga ia memilih datang ke Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdulrachman Saleh Raya Jakarta pusat. Setibanya Bruno di museum, maka ia melihat keramaian dan segera menghampiri keramaian tersebut.
Ternyata sebuah acara Dialog dan Seminar Nasional dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Akhirnya kenangan lama kembali terlintas di pikiran Bruno.
” Saya langsung teringat akan masa lalu. Peringatan ini sering kami ikuti, dan sejarahnya pun kami tahu,” Kenang Bruno.
” Lalu saya lihat bendera merah putih di pojok kanan ruangan. Semua sama seperti jika kami merayakan Hari Sumpah Pemuda di Timor Timur dulu. Sebuah peringatan dimana bangsa Indonesia mengikrarkan persatuannya sebagai suatu bangsa,” lanjut Bruno.
Bruno akhirnya memohon ijin kepada panitia acara untuk ikut duduk mengikuti acara. Panitia menyambut Bruno dengan hangat, bahkan menyematkan wing Garuda Pancasila di dada kiri Bruno, tepat dibawah pin bendera Merah Putih dan Bendera Timor Leste. 
Saat mendekati aakhir acara, Bruno diberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Dan ketika Bruno maju ke depan, ia meminta ijin kepada panitia untuk berdiri di samping bendera Merah Putih.
” Tuhan membawa saya kesini, saya percaya itu. Dan disini saya bertemu dengan para tamu agung dari seluruh kerajaan yang ada di Indonesia. Saya merasa sangat terhormat. Dan terima kasih untuk panitia yang sudah mengijinkan saya berbicara di samping bendera negara Indonesia. Saya rindu bendera ini,” tutur Bruno sambil terus tersungging senyum.
” Dan terima kasih sudah menyematkan sebuah lambang yang saya kenal baik sejak dahulu. Ini Garuda Pancasila,” tambah Bruno sambil menunjuk pin Garuda Pancasila di dada kirinya.
Dalam kesempatan bicara yang diberikan kepada Bruno, maka ia sempat menerangkan sedikit mengenai apa yang sedang dilakukannya di Indonesia serta menjelaskan pekerjaannya. Ia pun sempat menerangkan mata uang baru yang sedang diperkenalkan tim utusan pemerintah Timor Leste kepada pemerintah Indonesia.
Harapan Bruno, dengan memperingati Hari Sumpah Pemuda ini, maka bangsa Indonesia akan terus bersatu sebagai sebuah bangsa yang besar sampai kapanpun. Dan harapan Bruno bahwa bangsa Indonesia tetap sukses kedepannya.
” Kita dulu pernah bersama, namun sekarang kita sudah ada di tempat yang berbeda. Tapi kenangan itu pastinya tidak akan pernah hilang. Jadi terimalah salam hangat dari Timor Leste untuk seluruh rakyat Indonesia yang sedang memperingati Hari Sumpah Pemuda yang juga dulu pernah kita peringati bersama-sama,” ucap Bruno.
” Doa kami untuk anda sekalian dan Tuhan memberkati Indonesia,” tutup Bruno.
Pertemuan yang tidak disengaja antara Bruno dengan para peserta peringatan Hari Sumpah Pemuda 2016 di Jakarta menjadi sebuah kisah tak terduga tentang bagaimana perjalanan suatu bangsa yang akhirnya terpecah menjadi dua karena konflik yang begitu panjang. Namun sekarang bertemu dalam sebuah nostalgia Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-88 tahun 2016.
Tidak ada dendam maupun rasa benci lagi, namun yang ada hanyalah masing-masing saling mendoakan dan berharap yang terbaik untuk kedepannya. Bruno tidak pernah lupa dengan Indonesia, karena Indonesia juga tidak pernah melupakan Timor Timur.


Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor ; Rayvan Lesilolo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...