JUM’AT, 28 OKTOBER 2016
JAKARTA — Sekretariat Gema Gong Pancasila yang berporos di Jalan Kramat pulo No.7, Senen, Jakarta pusat adalah himpunan mandiri dari berbagai elemen masyarakat dari semua lapisan sosial yang begitu heterogen di Jakarta.
Karyawan, pekerja serabutan, pengamen, pedagang asongan, bahkan gelandangan pun banyak yang menggabungkan diri serta ditampung dalam poros Gema Gong Pancasila. Mereka menerima pembinaan mengenai bagaimana berperilaku sebagai seorang anak bangsa yang berazas Pancasila.Nilai-nilai kehidupan yang berpedoman pada Pancasila harus bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana semua anggota dari suku, agama, status sosial, dan profesi yang berbeda-beda namun bisa bersatu didalam sebuah kelompok besar adalah kekuatan dari kelompok itu sendiri.
” Gema Gong Pancasila sangat yakin akan hal itu, karena keadaan tersebut sempat terjadi di Indonesia selama kurun waktu 32 tahun,” tutur Yati Sagita, seorang simpatisan Gema Gong Pancasila seklaigus dipercayakan sebagai bendahara harian di poros Gema Gong Pancasila.
” Disini bagi yang lebih beruntung biasanya berbagi dengan mereka yang kurang beruntung nasibnya. Dan hal itu tidak dikondisikan, melainkan muncul sendiri sebagai bentuk kepedulian, empati, dan solidaritas antara sesama simpatisan,” lanjut Yati lagi.
Yati Sagita adalah sosok wanita yang pernah menikmati setiap program maupun kebijakan-kebijakan pemerintah di era orde baru atau di era pemerintahan Presiden kedua RI, H.M. Soeharto yang akrab disapa rakyat dengan Pak Harto selama kurang lebih 32 tahun.
” Menurut saya, setiap pemimpin dilahirkan dengan cara memimpin serta gayanya masing-masing. Dan semua pemimpin itu ada karena campur tangan Tuhan,” tutur wanita asal Surabaya itu kepada Cendana News.
” Dan Pak adalah sosok pemimpin yang atas kehendak Tuhan diberikan kepada Indonesia untuk menegakkan Pancasila dan kemurnian UUD 1945 dengan pembangunan yang berpedoman teguh pada Garis garis Besar Haluan Negara disingkat GBHN,” lanjut Yati.
Era pemerintahan Pak Harto negara ini mengalami masa keemasan di jamannya. Kontrol harga yang baik, program pembangunan yang terukur, dan yang terutama adalah bagaimana stabilitas keamanan negara bisa terjaga dengan baik.
” Pak Harto juga sosok yang mumpuni dalam strategi tata negara dan tata kebangsaan. Kunci beliau adalah berpedoman pada Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yang beliau turunkan juga itu kepada seluruh rakyat Indonesia. Bahkan pemimpin negara-negara lain bisa dipersatukan Pak Harto,” Yati kembali menuturkan pendapat pribadinya.
Secara kepribadian, maka Pak Harto memiliki semua syarat untuk menjadi seorang pemimpin yang mengayomi rakyatnya sekaligus meneduhkan rakyat jika terjadi sesuatu hal. Dan Pak Harto juga paling tidak suka jika melihat rakyatnya susah, terutama para petani dan nelayan. Inilah yang membuat kecintaan rakyat tidak pernah hilang terhadap sosok Pak Harto.
Sampai hari ini belum ada pemimpin yang bisa mempersatukan rakyatnya sekaligus mempersatukan pemimpin dari bangsa lain selain Pak Harto. Padahal jika dicermati kunci keberhasilan beliau adalah Pancasila, UUD 1945, dan GBHN. Namun pemimpin-pemimpin yang meneruskan tongkat estafet pembangunan sepertinya tidak ingin apa yang dilakukan Pak Harto harus mereka lakukan juga.
Mereka ingin melakukan yang berbeda, dan ingin mendapat pengakuan dari semua orang bahwa mereka beda, dan mampu melakukan semuanya dengan cara yang berbeda.
” Tapi akhirnya apa yang terjadi sekarang adalah reformasi yang kebablasan. Sangat disayangkan perjuangan bangsa ini harus ternoda dengan kebebasan yang kebablasan. Dan hikmah dari berakhirnya pemerintahan Pak Harto adalah, Tuhan ingin menunjukkan kepada rakyat Indonesia bagaimana pemimpin-pemimpin bangsa ini selanjutnya,” papar Yati.
” Dan penilaian pada akhirnya ada ditangan rakyat. Karena rakyat yang merasakan langsung,” pungkasnya.
Pemimpin yang dicintai rakyat adalah pemimpin yang bisa mempersatukan seluruh rakyatnya, pemimpin yang bisa menenangkan hati rakyatnya saat gundah, dan juga pemimpin yang bisa meneduhkan hati rakyatnya walau hanya melihat wajah sang pemimpin. Dan Pak Harto memiliki semuanya, sehingga wajar saja jika masih sangat banyak rakyat dari berbagai lapisan yang mencintai, merindukan, atau mengagumi pencapaian beliau selama memimpin rakyat Indonesia.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Miechell Koagouw