SABTU, 29 OKTOBER 2016
SURABAYA — Isu mengenai energi memang sedang hangat menjadi perbincangan nasional. Sebagai rangkaian peringatan Dies Natalis ke-56 Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), digelar temu alumni dan talkshow mengenai ‘kemandirian energi’ di Gedung Graha Sepuluh Nopember ITS Surabaya pada, Sabtu (29/10/2016).

Pembicara yang dihadirkan yakni Wakil Menteri ESDM RI, Arcandra Tahar. Direktur Utama Pertamina, Dr. Ir. Dwi Soetjipto, MM., Anggota Komisi VII DPR RI, Ir. Satya Widya Yudha, M. Sc. Ada pula pakar energi ITS, Prof. Mukhtasor dan Umi Asngadah selaku Direktur Gas Bumi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH MIGAS).
Dalam menyampaikan materi, Arcandra menjelaskan bahwa bangsa Indonesia dapat dikatakan berdaulat dari segi energi apabila memenuhi empat faktor utama. Makna dari Kedaulatan energi itu sendiri ialah hak suatu negara untuk mencapai ketahanan dan kemandirian energi. Empat faktor tersebut yang pertama mengenai ketersediaan energi. Di Indonesia memang dapat dikatakan banyak sekali sumber-sumber energi. Ada angin, air, gelombang dan energi dari sumber fosil.
Kedua mengenai affordability atau kemampuan untuk membeli sesuatu. Konsep bahan bakar minyak (BBM) satu harga yang diintruksikan oleh pemerintahan Jokowi-Jk saat ini merupakan wujud dari faktor affordability.
“Artinya adalah masyarakat yang bisa menikmati BBM saat ini dengan harga sekian, masih bisa lagi membeli BBM dengan harga yang sama dikemudian hati. Secara sederhana memiliki arti keterjangkauan membeli BBM ke seluruh daerah di Republik Indonesia,” terangnya dengan jelas.
Kemudian untuk yang ketiga yakni mengenai akses. Produksi minyak mentah Indonesia sekitar 1.5 juta barel per hari.
“Seumpama kita krisis energi dan kita meletakkan storage di luar Indonesia mungkin itu bukan ide yang bagus. Karena ini berhubungan erat dengan accessibility. Bisa jadi kita tidak bisa mengakses storage saat dibutuhkan,” katanya.

Terakhir soal keberlanjutan. “Bagaimana masyarakat tetap bisa menikmati energi dari waktu sekarang hingga waktu-waktu yang akan datang,” tukasnya.
“Kalau suatu bangsa bisa menerapkan dan memperhatikan empat faktor tersebut bisa dikatakan bangsa itu sudah mandiri dalam bidang energi,” pungkasnya.
Jurnalis : Nanang WP / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Nanang WP