Krisis Air Bersih, Warga Tiga Kelurahan di Kota Larantuka Antre di Pipa PDAM yang Bocor

MINGGU, 30 OKTOBER 2016

LARANTUKA — Warga tiga kelurahan di kota Larantuka yakni kelurahan Balela, Pohon Sirih dan Larantuka di kota Larantuka Ibukota Kabupaten Flores Timur (Flotim) seharian berkumpul di perempatan jalan tiga kelurahan Balela. Warga setia mengantre untuk mendapatkan air yang mengalir dari sela-sela keran pembagi air milik PDAM Flotim.
Demikian disampaikan warga kelurahan Balela kota Larantuka Magdalena Sit Wungubelen saat dihubungi Cendana News, Minggu (30/10/2016) melalui telepon.
Dikatakan, Len sapaannya warga masih ambil air sebab air tidak pernah mengalir sama sekali dimana dalam sebulan cuma tiga minggu saja mengalir dan seminggu lainnya mengalir cuma sesaat saja. Warga sering protes ke petugas PDAM Flotim namun jawaban yang diterima menyakitkan hati warga.
“Pegawai PDAM sampai maki kami saat kami tanya kenapa tidak buka air sebab kami tidak bisa minum dan MCK,” tuturnya penuh amarah.
Perempuan asal Botung Adonara ini menagku, warga lainnya pun menyesalkan kinerja Pemda dan PDAM Flotim. Keran yang rusak dan mengeluarkan air tersebut bukan akibat ulah warga namun terjadi dengan sendirinya.
Daripada air terbuang percuma lanjut Len, warga yang kesulitan air berinisiatif menampungnya di ember untuk digayung dan dimasukan ke jeriken dan ember plastik  yang dibawa warga dari rumah amsing-masing. Warga yang rumahnya jauh bahkan menyewa gerobak untuk mengangkut air.
“Petugas PDAM beralasan debit air menurun dan jarang mengalir tapi kenapa air di pipa ini tidak pernah berhenti mengalir,” ungkapnya.
Petugas PDAM papar Len memberitahukan bahwa pipa air yang bocor ini merupakan jalur pipa yang diperuntukan bagi  kebutuhan air di rumah jabatan bupati Flotim. 
Yosef Kepasi Wuwur tokoh masyarakat kelurahan Balela saat ditemui Cendana News Rabu (26/10/2016) ketika hendak bertolak ke Maumere mengakui, masyarakat mengambil air di tempat tersebut sebab sejak beberapa bulan air tidak pernah mengalir dan ini sudah berlangsung sekitar tiga tahun.
Wuwur mengatakan, petugas PDAM tidak berani melarangnya sebab bila dilarang rakyat akan marah dan takutnya terjadi anarkis.
“Setiap hari warga tetap dibiarkan mengambil air dari pipa PDAM yang bocor ini dan pemandangan seperti ini sudah berlangsung berbulan-bulan,” tuturnya dengan suara keras.
Hal yang sama juga disampaikan Yohana Fernandez warga kelurahan Balela yang ditemui sedang antri air di tempat tersebut. Dikatakan, masyarakat kecil seperti dirinya tidak mampu membeli air terus menerus sehingga terpaksa mengantri air dari pipa yang bocor tersebut.
“Kami harus banting tulang beli air dimana dalam seminggu minimal tiga kali dan sekali beli harus mengeluarkan uang 25 ribu rupiah, “ terangnya.
Masyarakat kota Larantuka sambung Yohana, selalu mengalami krisis air bersih dan otomatis membeli air bersih tapi pemerintah daerah Flotim sepertinya tidak pernah memperhatikan keluhan warga. PDAM Flotim pun seolah tidak peduli.
“Petugas PDAM pun hanya cuma bisa menagih pembayaran air saja dan biasanya beberapa hari sebelum tanggal pembayaran baru air sengaja dibiarkan mengalir, “ katanya kesal.
Disaksikan Cendana News saat berada di lokasi ini, puluhan warga berkumpul di lokasi tersebut sejak pukul 05.00 WITA dan semakin banyak menjelang siang hari. Antrian bahkan berlangsung hingga malam dan semakin berkurang menjelang subuh.
Warga mempergunakan jeriken ukuran lima liter. 10 liter bahkan 20 liter serta ember plastik untuk mengangkut air menuju rumah mereka. Warga yang antri mayoritas ibu rumah tangga dan ada yang menyewa gerobak buat mengangkut air.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...