Fenomena Batik Print dan Batik Tulis : Saling Melengkapi Mendongkrak Gerak Maju Ekonomi

KAMIS, 14 JULI 2016

JAKARTA — Indonesia adalah negara dengan hamparan ribuan pulau berikut beragam seni dan budaya masyarakat didalamnya. Batik nusantara adalah salah satu bagian dari seni budaya masyarakat Indonesia. Seiring perjalanan waktu maka Batik nusantara tanpa terasa sudah turut meramaikan dunia industri tekstil baik itu dalam negeri maupun internasional. Untuk menjaga eksistensi Batik nusantara sebagai salah satu industri tanah air yang dibanggakan maka dilakukanlah program-program pelestarian Batik nusantara di tiap daerah hingga ke tahap nasional.

Salah satu Contoh Motif Bati Tulis Jawa Tengah Koleksi Galeri Batik Indonesia
Akan tetapi seiring berjalannya pelestarian tersebut, maka penanaman edukasi terkait Batik nusantara secara lintas generasi maupun untuk generasi tertentu harus pula dilakukan. Mengapa demikian, karena dalam perkembangannya di lapangan masih banyak masyarakat yang kurang memahami bagaimana dan seperti apa kain Batik nusantara itu. 
Keawaman yang masih besar dari masyarakat akan Batik nusantara berhasil dieksploitasi pelaku industri tekstil dengan menggelontorkan industri tekstil Batik di pasaran dalam negeri. Dengan maksud menggerakkan roda bisnis dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi maka hal ini adalah langkah tepat, akan tetapi efek dari hal ini adalah masyarakat akan semakin awam akan Batik nusantara serta lebih mengenal Batik sebatas tekstil saja. Yang paling miris adalah keawaman akan Batik nusantara terjadi di masyarakat Kota Megapolitan seperti Jakarta.
Untuk lebih mengetahui geliat Batik nusantara baik itu Batik tradisional maupun tekstil Batik serta seberapa awam masyarakat Jakarta akan Batik nusantara maka Cendana News coba mendatangi salah satu Sentra Batik terbesar di INdonesia yaitu Pasar Tanah Abang Jakarta pusat. 
Indah Batik adalah sebuah toko grosir busana Batik yang ramai di kelasnya, dan berkedudukan di Pasar Tanah Abang Blok B Lantai LG Los C No.146. Bertemu dengan pengelola toko bernama Cici, ia menjelaskan bahwa konsentrasi toko busana Batik yang dikelolanya adalah menjual Batik print atau Batik hasil cetak pabrik tekstil (Batik tekstil). Prosesnya adalah, toko membeli dari produsen-produsen besar kain batik print untuk kemudian di bawa ke tukang jahit atau di jahit di warehouse milik toko menjadi busana pria dan wanita serta anak-anak yang siap dikenakan.
” pembeli yang datang tidak pernah bertanya jenis batik tertentu atau asal daerah Batik tersebut, melainkan langsung menanyakan motif, misalnya motif bunga, bola, wayang, atau apa saja motif sesuai benda-benda yang ada di sekitar kita. Dan kami menyediakan seluruh motif yang diinginkan kecuali motif bola,” jelas Cici kepada Cendana News.
” terkadang ada juga yang bertanya Batik daerah tertentu, kami jawab tidak tahu, tapi kami tawarkan motif saja dan akhirnya mereka beli. Jadi pembeli dewasa ini tidak mau neko-neko, barang bagus ya dia beli,” lanjutnya.
Kecenderungan semakin instannya konsumen dewasa ini sebenarnya bukan suatu hal yang tabu, akan tetapi jika tidak diiringi dengan edukasi akan hal yang sebenarnya maka dalam konteks pelestarian Batik nusantara hal tersebut akan secara perlahan memudarkan seperti apa dan bagaimana sebenarnya kain Batik itu.
” Kalau menurut saya sih wajar saja, karena pembeli adalah raja, pedagang mengikuti keinginan konsumen, namun bukan berarti tidak melestarikan Batik tradisional. Saya pribadi punya koleksi busana pesta Batik tulis asli Cirebon dan harganya cukup mahal. Jadi ini kan bisnis, dan untuk edukasi masyarakat bisa buka internet atau ke museum tekstil tidak jauh dari sini,” kembali Cici melanjutkan penjelasannya.
Meninggalkan Indah Batik di Los C, kami menuju Los F Pasar Tanah Abang Blok B dan tertambat di sebuah toko grosir pakaian dan seragam batik bernama Garuda Batik yang dikelola oleh seorang Ibu muda bernama Alfiari atau akrab disapa Evi.
Lain lubuk lain ikannya, lain toko lain isinya, dan lain pedagang lain pula cara pandangnya. Bagi Evi, toko yang dikelolanya menyediakan semua jenis Batik mulai dari Batik tradisional (Batik tulis dan cap) maupun Batik print (tekstil bermotif Batik). Hal tersebut dilakukan Evi agar ia tidak hanya terpaku pada satu jenis Batik saja, karena pembeli yang datang ke Pasar Tanah Abang sangat besar jumlahnya sehingga pedagang juga harus mempersiapkan segala jenis barang dagangannya.
“pokoknya jika pembeli mau membeli Batik apapun ya kami ada, jangan sampai jawaban kami tidak ada, itu namanya menolak rejeki,” ujar Evi berseloroh.
Garuda Batik menyediakan Batik tradisional dari daerah Solo, Yogyakarta, Cirebon, Pekalongan, dan Jepara. Sedangkan untuk Batik print mereka menyediakan beragam motif fast moving (cepat laku) seperti motif bunga, wayang, garis-garis lurus, dan motif campuran beragam jenis gambar. 
“Untuk Batik tradisional, Solo ciri-cirinya menggunakan kain yang halus dan licin, Jepara menggunakan bahan kain tenun atau kain-kain berserat, sedangkan Yogyakarta cenderung dengan warna dasar coklat dan motif kawung,” Evi mulai menjelaskan satu demi satu barang dagangannya kepada Cendana News.
“urutan teratas paling mahal ya Batik Cirebon, karena motifnya yang garis halus seperti benang itu hanya ada di Cirebon, tidak bisa diikuti oleh pengrajin Batik daerah manapun. Akan tetapi jika Batik print dari pabrik ada kemungkinan bisa mengikuti itu,” lanjut Evi lagi.
Terkait bagaimana pendapat Evi sebagai pedagang Batik tentang Batik tradisional dan Batik print yang beredar di pasaran, Evi hanya menjawab dengan sedikit aroma berdiplomasi.
“ya kami pedagang, dan pedagang hanya mengikuti keinginan pembeli atau konsumen. jika permintaan Batik print sedang tinggi maka tidak mungkin juga kami melewatkan moment tersebut. Masalah edukasi untuk pelestarian Batik tradisional itu ranah Pemerintah saja,” pungkas Evi menutup pembicaraan.
Kedua toko Batik yang dikunjungi Cendana News tersebut baik Indah Batik maupun Garuda Batik sama-sama memiliki pasar grosir maupun eceran yang sangat besar untuk kelas pedagang Pasar Tanah Abang. Konsumen mereka berdatangan tidak hanya dari seluruh pelosok Ibukota Jakarta saja, melainkan banyak dari luar daerah seperti Jambi, Pontianak, Sorong, Merauke, Sulawesi, Maluku, Aceh, dan Kalimantan. Dan stok barang dagangan milik keduanya sudah sejak dua minggu sebelum bulan puasa hingga dua minggu sesudah lebaran tetap dijaga karena lonjakan pembelian terjadi selama rentang waktu tersebut.
Mengenai bagaimana pelestarian Batik nusantara sejalan dengan meningkatnya permintaan akan Batik print atau Batik tekstil, maka tidak ada cara yang lebih mumpuni selain melakukan edukasi secara perlahan dengan skala merata kepada masyarakat. Perlu kesabaran perlu dalam melaksanakannya jika ingin berbuah hasil yang memuaskan.
Dari jenis industri kain, maka Batik print atau Batik tekstil sangat dibutuhkan untuk mendongkrak penjualan demi menggerakkan roda ekonomi dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi kedepannya. Namun jika dibarengi dengan meningkatnya penjualan Batik tradisional maka diyakini akan lebih baik lagi. Oleh karena itu edukasi kepada masyarakat perihal Batik nusantara harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar kedua jenis kain Batik tersebut dapat saling melengkapi di kancah industri kain Indonesia baik nasional maupun internasional.(Miechell Koagouw)
Lihat juga...