Tiga Jam Menempuh Jalur Neraka Menuju Desa Korban Penyanderaan

KAMIS, 14 JULI 2016

LARANTUKA — Perjalanan menuju desa Laton Liwo kecamatan Tanjung Bunga kabupaten Flores Timur yang menjadi desa asal ketiga WNI korban penyanderaan teroris asal Filipina sangat menakutkan.


Jalan yang ditempuh sejauh 29 kilometer dari Larantuka ibukota kabupaten Flores Timur menuju Waiklibang ibukota kecamatan Tanjung Bunga beraspal mulus dan ditempuh selama sekitar setengah jam.
Sedangkan jarak sejauh 28 kilometer dari Waiklibang menuju desa Laton Liwo desa asal keluarga korban penyanderaan dan tempat domisili keluarga korban ditempuh selama 2 jam.
“Ini biasa disebut jalur neraka karena medannya sangat sulit dan jika musim hujan otomatis jalur jalan dari Waiklibang menuju desa Laton Liwo praktis tidak bisa dilewati,” ujar Gaspar Balik Belaja.
Gaspar sapaannya yang ditemui Cendana News, Selasa (12/7/2016) dan Rabu (13/7/2016) mengatakan, jalan tersebut dibuka sejak tahun 2004 saat bupati Flotim dijabat (Alm) Felik Fernandez dan dikerjakan oleh TNI AD.
“Saat musim hujan jalanan licin dan batunya berserakan sehingga tidak bisa dilewati,” terangnya.
Jalan menuju desa Laton Liwo dari Waiklibang melewati Lamanabi dan Aransina.Masyarakat desa dengan jumlah sebanyak  537 jiwa yang terdiri atas 113  KK sudah usulkan berulang kali lewat forum Musrembang desa hingga kabupaten namun belum ada tanggapan.
“Kami selalu mengusulkan lewat Musrembang namun belum ditanggapi. Di dewan juga pernah kami sampaikan saat ada kunjungan dan pertemuan di kecamatan maupun di kabupaten namun hasilnya nihil,” tuturnya geram.
Ditambahkan Gaspar, bupati dan wakil bupati Flotim baru sekali ke desa mereka dan warga juga sudah menyampaikan masalah jalan. Namun pejabat daerah ini cuma mengatakan akan diperhatikan dengan dilihat kondisi keuangan.
Dari Laton Liwo menuju Larantuka ibukota kabupaten Flotim bisa ditempuh lewat laut dengan biaya 35 ribu rupiah sementara mobil pick up dikenai biaya 40 ribu rupiah. Seminggu hanya dua kali perjalanan baik lewat laut maupun darat.
“Kalau ojek sepeda motor dari Laton Liwo ke Larantuka bisa bayar sampai 250 ribu rupiah sekali jalan,” paparnya.
Dana desa Laton Liwo tahun 2016 ditambah ADD dan dana bagi hasil sebanyak 800 juta rupiah lebih, namun kata Gaspar, masih banyak pembangunan di desanya yang membutuhkan dana ini sehingga jalan belum bisa diperbaiki.
“Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan kami. Masa sudah puluhan tahun negeri ini merdeka namun nasib kami masih seperti ini,” pungkasnya.
Dominikus Daeng Maran guru SDK Kotenwalang yang juga penduduk desa Laton Liwo mengeluhkan kondisi jalan. Bila ada urusan di kota Larantuka dirinya selalu terlambat tiba di kota dan biayanya sangat besar.
“Kami susah kalau ada urusan ke kota Larantuka karena biayanya sangat besar dan tentu kami mengalami kerugian,” ungkapnya.
Disaksikan Cendana News selama dua kali perjalanan, sejak keluar dari desa Waiklibang, kondisi jalan menuju desa Laton Liwo sangat memprihatinkan. Selain merupakan jalan tanah, bebatuan besar berserakan di badan jalan dan di beberapa titik, badan jalan ambruk.
Mobil pick up yang dipakai harus memiliki derek. Beberapa kali mobil yang ditumpangi harus tertanam di lumpur dan terperosok ke luar badan jalan dan harus didorong.
Semua penumpang yang ikut di rombongan Dandim 1624 Flotim dan para wartawan mengeluhkan kondisi jalan. Jalan terlihat mirip medan off road dan membuat mobil selalu bergoyang kiri kanan dan tertanam saat masuk lumpur.(Ebed de Rosary)
Lihat juga...