KAMIS, 14 JULI 2016
LARANTUKA — Keluarga korban penyanderaan mengaku kesulitan infromasi terkait ketiga anak mereka yang sedang disandera kelompok teroris di Filipina. Hal ini terjadi sebab desa Laton Liwo asal mereka tidak memiliki jaringan telepon dan televisi.

Untuk mengatasinya, Bupati Flotim Yosep Lagadoni Herin mengaku sudah meminta ke pemerintah pusat agar bila ada informasi terkait mengenai korban penyanderaan sebaiknya disampaikan ke bupati Flotim agar diteruskan ke camat dan oleh camat disampaikan ke kepala desa dan keluarga korban.
“Itulah masalahnya sehingga laporan saya terakhir ke kementrian luar negeri saya berikan catatan bahwa di desa itu tidak ada sinyal handphone, listrik dan jalan pun baru masuk. Segala hal mengenai perkembangan situasi kondisi korban sampaikan kepada bupati,” ujarnya.

Yosni sapaannya kepada Cendana News yang menemuinya Rabu (13/7/2016) mengatakan, dirinya setiap saat dengan pemerintah provinsi, kementerian dalam negeri, kementerian luar negeri juga selalu setiap saat berkoordinasi terkait kondisi para keluarga korban disini.
“Kami juga meminta kepada mereka untuk mengabarkan kepada kami terkait kondisi para sandera,” tuturnya.
TNI dan Polri sebut Yosni, pasti dengan jalur yang sama namun mungkin dengan media yang berbeda. Pemerintah berhubungan langsung dengan urusan publik sementara TNI dan Polri ada hal hal yang harus menjadi rahasia mereka.
“Informasi terkait kondisi korban terkini pasti selalu akan kami sampaikan kepada keluarga korban,” jelas Yosni.
Kapolres Flotim AKBP Yandri Irsan, SH, SIK yang ditemui saat berkunjung ke desa Laton Liwo bersama bupati Flotim juga memastikan informasi terkait korban penyanderaan akan diberitahukan lewat Babinsa, Danramil maupun camat.
“Ada informasi yang memang perlu disampaikan dan ada juga yang tidak boleh diinformasikan. Namun keluarga korban diminta tetap tenang dan berdoa karena pemerintah sedang berupaya membebaskan para sandera,”pungkasnya.(Ebed de Rosary)