KAMIS, 14 JULI 2016
JAKARTA — Almarhum Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan adalah salah seorang penerima penghargaan Kriya Pusaka yang merupakan penghormatan tertinggi dari Yayasan Batik Indonesia sebagai wujud atas apresiasi Bangsa Indonesia betapa seorang Nelson Mandela yang berasal dari Benua nan jauh disana namun gemar menggunakan Batik nusantara dalam keseharian sampai acara-acara kenegaraan.
| DR. Tumbu Ramelan, Ketua Galeri Batik Indonesia dalam wawancara eksklusif dengan dengan Cendana News di kediamannya |
“batik yang dikenakan Nelson Mandela semasa hidup jika dicermati merupakan Batik nusantara dengan motif-motif dari Yogyakarta, Solo, Cirebon, dan Pekalongan,” urai Tumbu Ramelan, Ketua Galeri Batik Indonesia kepada Cendana News di kediamannya, Kriya Pulo, Horizon East, Jalan Bungur Raya No.9 Cibubur Cimanggis Depok.
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi Bangsa Indonesia dimana seorang Kepala Negara sahabat begitu menggemari Batik nusantara. Menggemari dalam hal ini bukan sekedar mengenakannya dalam acara kunjungan kenegaraan ke Indonesia atau bertemu Presiden Republik Indonesia saja, akan tetapi Batik nusantara sudah menjadi busana favorit beliau dalam kesehariannya.
| Foto beberapa koleksi pribadi Batik nusantara m,ilik Tumbu Ramelan, |
Hal ini seharusnya menjadi pemicu semua elemen bangsa Indonesia untuk terus meningkatkan beragam upaya dalam melestarikan sekaligus lebih menumbuhkembangkan Industri Batik nusantara baik di negeri sendiri maupun tingkat internasional.
Sejauh ini, Yayasan Batik Indonesia bersama Galeri Batik Indonesia terus mengawal kepentingan pelestarian berikut upaya memasyarakatkan Batik nusantara di Indonesia. Upaya yang dimaksudkan adalah dengan memprakarsai berdirinya Museum Batik Jakarta dan memperjuangkan masuknya pelajaran Membatik sebagai mata pelajaran ekstra kurikuler pilihan di setiap sekolah di wilayah DKI Jakarta.
Perjuangan tersebut bukan berdasarkan sebuah ekspresi dangkal bahwa Ibukota negara harus memiliki museum atau Kota megapolitan dengan beragam modernisasinya perlu belajar Batik melalui kegiatan ekstra kulikuler, akan tetapi esensinya lebih kepada bagaimana pelestarian berikut program untuk memasyarakatkan Batik nusantara dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat Indonesia mulai dari kota sampai ke daerah terpencil sekalipun atau sebaliknya.
Perjuangan Yayasan Batik Indonesia berbuah manis pada pembangunan Museum Batik Indonesia yang sudah disetujui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Hal ini terbukti dengan sudah difasilitasi sekaligus dilakukannya peletakan batu pertama pembangunan fasilitas Museum Batik Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah yang direncanakan rampung pertengahan tahun 2017.
Dinamisnya pergerakan Yayasan Batik Indonesia melakukan sinergi dengan menggaet pemerintah secara lebih mendalam dalam usaha pelestarian Batik nusantara diharapkan dapat menjadi stimulus juga bagi Galeri Batik Indonesia untuk terus menggaet pembatik daerah dalam wujud kerja sama dengan seluruh sentra Batik yang ada di nusantara untuk memamerkan hasil kerajinan seni Batiknya secara periodik di Galeri Batik Indonesia.
Tercatat beragam motif Batik nusantara dari Jawa barat, Jawa timur, dan Jawa tengah semuanya ada di ruang pameran Galeri Batik Indonesia. Sebut saja motif-motif Batik nusantara dari Bandung, Subang, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Tulungagung, Sidoarjo, Malang, Madura, Yogyakarta, Semarang, Solo, dan berbagai daerah lain baik dari Jawa maupun luar pulau Jawa.
“Yayasan Batik Indonesia hanya mengedepankan perjuangan pelestarian Batik nusantara berikut pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada untuk terus ditingkatkan dalam hal membatik. Namun perlu terus melakukan sinergi yang lebih luas, dalam hal ini adalah pemerintah,” terang Tumbu Ramelan.
Terkait peran pemerintah pusat dalam konteks lebih menumbuhkembangkan industri Batik nusantara, Tumbu Ramelan turut menyoroti perlunya proses penanganan pengrajin Batik berkesinambungan yang mencakup seluruh wilayah nusantara.
“Contohnya di Nusa Tenggara Barat, disana sangat banyak pembatik mumpuni dengan motif-motif lokal yang menarik, akan tetapi mengapa sepertinya belum bisa meraih titik yang diinginkan dari sisi perkembangan Batik nusantara sebagai komoditas,” lanjut Tumbu lagi.
“Ini sinyal bagi pemerintah untuk segera melakukan sesuatu. Pemerintah harus bisa menemukan formula tepat untuk membantu para pembatik luar biasa di NTB dan tentunya daerah-daerah lainnya agar motif-motif yang mereka keluarkan bisa bersaing di pasar industri Batik, minimal pasar Batik nasional. Pemerintah harus bersinergi nyata dengan pembatik lokal, Dinas Perindustrian dan UMKM, serta mulai mencoba melibatkan desainer untuk membantu rekan-rekan pembatik di NTB dan daerah-daerah lain yang belum tereksploitasi dengan baik hasil-hasil kerajinan Batiknya,” tandas Tumbu.
Pekalongan bisa menjadi contoh positif. Batik nusantara khas Pekalongan sudah berkembang dengan sangat baik. Industri Batik yang mereka miliki sepertinya bisa menembus ke segala sisi wilayah nusantara. Terlepas dari kepentingan pemerintah daerah disana terkait Industri Batiknya, akan tetapi kenyataan yang harus dimaklumi bersama adalah keberhasilan Pekalongan dalam menumbuhkembangkan Batik berawal dari pemberian kurikulum Batik sejak anak sekolah usia dini.
Mengacu dari Pekalongan, maka Jakarta sebagai pusat roda pemerintahan, perputaran ekonomi negara, sudah seharusnya bisa sejajar dengan daerah-daerah lain dalam mengembangkan Batik nusantara. Ibarat mengawali sesuatu dengan sebuah embrio, maka memasyarakatkan Batik nusantara dengan diawali dari pemberian materi Batik sebagai salah satu mata pelajaran ekstra kurikuler pilihan di sekolah dinilai sangat tepat.
“Tidak perlu sebagai mata pelajaran utama, awali dulu sebagai mata pelajaran ekstra kurikuler pilihan. Dari situ dapat diambil indikator awal untuk melanjutkan langkah berikutnya,” kata Tumbu Ramelan.
Penanganan kurikulum Batik secara serius sejak anak sekolah usia dini di Jakarta dapat berimbas pada percepatan kenaikan Industri Batik di Ibukota. Realisasi pembangunan Museum Batik pertama di Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah sudah menjadi awal yang menggembirakan, akan tetapi itu adalah konteks pelestarian, sedangkan jika ingin berbicara mengenai konteks bagaimana lebih memasyarakatkan Batik nusantara maka pengadaan kurikulum membatik di sekolah merupakan jawaban yang tepat sekaligus langkah nyata yang apresiatif dari pemerintah terhadap eksistensi Batik nusantara itu sendiri.
Dahulu Jakarta memiliki Sentra Batik di daerah Palmerah, akan tetapi seiring waktu maka sekarang seperti sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Ini harus segera diperbaiki agar aliran motif Batik tidak berputar hanya di daerah saja, akan tetapi menyentuh seluruh lapisan masyarakat sampai ke Kota besar seperti Jakarta.
Satu persatu permasalahan diharapkan dapat selesai kedepannya. Museum Batik pertama di Jakarta sudah dalam proses pembangunan. Galeri Batik Indonesia sudah mulai gencar melakukan sosialisasi sekaligus berbagi informasi yang lebih mendalam kepada masyarakat luas Ibukota terkait Batik nusantara. Baik berupa acara temu wicara, bincang-bincang ringan, gelar pameran motif-motif Batik tradisional maupun kontemporer.
“Semua dilakukan agar masyarakat lebih faham dan mencintai Batik nusantara. Acara kami yang terbaru dalam waktu dekat ini adalah kupas tuntas mengenai Batik Indramayu,” kata Tumbu.
“Yayasan Batik Indonesia pun sejak berdirinya tahun 1990-an tetap pada komitmen yang sama, yaitu bagaimana Batik nusantara dapat terus eksis dan selalu dicintai masyarakat, ” tandasnya mengakhiri pembicaraan.
Ketika ditanyakan harapan pribadi beliau sebagai pencinta Batik kedepannya terkait Batik nusantara, Tumbu Ramelan menjawab dengan sebuah pernyataan kuat bahwa Batik nusantara lestari sepanjang masa. Bahkan bukan hanya lestari saja, akan tetapi bagaimana Batik nusantara menjadi cerminan internasional terhadap Indonesia. Hal tersebut dimulai dari pembangunan museum Batik di tiap daerah diikuti memasukkan kurikulum membatik sebagai mata pelajaran ekstra kurikuler pilihan di sekolah maupun perguruan tinggi. Jakarta sebagai pintu gerbang nusantara harus memiliki keduanya.
“Dari perjuangan kami, harapan saya kedepannya adalah; tanpa mempermasalahkan siapa dan dimana pertama kali lahirnya batik, siapapun yang mengklaim Batik, tapi jika dunia berbicara tentang Batik, maka dunia berbicara tentang Indonesia,” pungkasnya.(Miechell Koagouw)