Buku Pesek, Media Pendidikan Seks Usia Dini Karya Mahasiswa UNY

RABU, 27 JULI 2016

YOGYAKARTA — Prihatin dengan semakin seringnya terjadi kejahatan seksual yang menimpa anak di bawah umur, sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta membuat sebuah buku panduan sederhana, namun menarik guna memberi pendidikan seks bagi anak usia dini. Media tersebut dinamakan Buku Saku Pendidikan Seks, disingkat Buku Pesek. Buku tiga dimensi hasil inovasi lima mahasiswa UNY tersebut kini telah digunakan di sebuah lembaga pendidikan usia dini dan taman kanak-kanak di Sleman.

Buku Pesek karya mahasiswa UNY
Buku Pesek dibuat sebagai alat peraga pembelajaran seks bagi siswa usia dini di sekolah maupun di rumah. Dengan alat peraga tiga dimensi itu, pembelajaran seks usia dini bisa dilakukan tanpa menyebut nama anggota tubuh yang seringkali dianggap tabu dan sensitif. Alat peraga hasil inovasi lima mahasiswa Fakultas Pendidikan UNY, Sischa, Andika, Nur Hidayat, Guscipto dan Mahanani, dibuat sedemikian menarik dan mudah dipahami.
Di dalam buku saku itu, ada gambar-gambar mengenai pendidikan seks anak, meliputi bagian-bagian­pribadi yang harus diketahui oleh anak, siapa saja yang boleh menyentuh dan melihat bagian tubuhnya, dan diajarkan untuk mengatakan “tidak” ketika terjadi kekerasan seksual dan apa yang harus dilakukan anak jika terjadi kekerasan seksual.
Buku Pesek Tiga Dimensi
Ketua Tim Penyusun Buku Pesek, Sischa Ariesta, ditemui Rabu (27/7/2026), mengatakan, dibuatnya buku saku tersebut dilatar-belakangi oleh rasa keprihatinan atas tingginya kejahatan seksual yang menimpa anak di bawah umur, sementara pendidikan seks di usia dini masih dianggap tabu. Karenanya, kata Sischa, dengan memanfaatkan program dana dari Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan, pihaknya kemudian menyusun sebuah alat peraga pendidikan seks yang aman bagi anak usia dini.
Sebagai langkah awal, lanjut Sischa, Buku Pesek saat ini telah dicoba-terapkan di sebuah lembaga pendidikan anak usia dini di Sleman. Diharapkan, kata Sischa, Buku Pesek bisa diterapkan di berbagai sekolah dan orang tua di rumah sebagai pembelajaran pengenalan alat reproduksi dan pencegahan kekerasan seksual kepada anak usia dini. 
Sischa Ariesta
“Informasi seks memang sebaiknya didapatkan langsung dari orang tua yang memiliki perhatian khusus terhadap anak mereka, dengan menyampaikan secara jujur dan mempertimbangkan kematangan usia anak”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...