JUMAT, 15 JULI 2016
LAMPUNG — Paska hari raya Idhul Fitri 2016 (1437 Hijriyah) sejumlah harga barang di pasar tradisional Lampung masih cukup tinggi terutama kebutuhan pokok masyarakat.

Beberapa pedagang menyebutkan, kenaikan harga dilakukan akibat tingginya permintaan masyarakat bersamaan dengan pergantian tahun ajaran baru. Kenaikan harga di wilayah daratan Pulau Sumatera khususnya di Provinsi Lampung berdampak pada harga sejumlah kebutuhan yang didistribusikan dan dijual di wilayah pulau terpencil.
Salah satu warga Pulau Sebesi yang tinggal di gugusan Kepulauan Krakatau, Soleh (40) yang baru akan menyeberang ke Pulau Sebesi setelah berbelanja di Pulau Sumatera mengaku kenaikan harga kebutuhan pokok dan kebutuhan harga di Pulau Sumatera berimbas juga pada harga di Pulau Sebesi.

Ia mengakui banyak faktor yang membuat harga beberapa kebutuhan pokok mengalami kenaikan khususnya di pulau terpencil. Harga sayur-mayur misalnya, diperkirakan akan terus bergerak naik sepanjang musim hujan beberapa waktu ke depan. Selain itu faktor utama kenaikan harga barang terjadi akibat mahalnya biaya transportasi untuk distribusi barang di wilayah tersebut.
“Sejak lama faktor distribusi yang lambat dan penggunaan sarana transportasi tradisional menjadi faktor mahalnya harga di Pulau terpencil khususnya Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku, saat harga di daratan stabil harga di pulau pun sudah mahal”terang Soleh yang membawa belanjaan berupa gas melon,sembako untuk dijual di Pulau Sebesi, Jumat (15/7/2016)
Ia mengakui distribusi barang ke pulau Sumatera ke pulau pulau lain dan sebaliknya masih menggunakan perahu kayu bertenaga mesin dan nyaris tak pernah ada kapal besar yang melayani rute pelayaran di pulau tersebut. Dermaga Desa Canti Kecamatan Rajabasa bahkan berpuluh puluh tahun masih menggunakan dermaga kayu meski dermaga tersebut menjadi akses bagi warga ke Pulau Sebesi yang berpenduduk kurang lebih 900 kepala keluarga tersebut. Akibatnya biaya pengangkutan ke wilayah tersebut bisa mencapai 150ribu-200ribu bahkan lebih untuk pengangkutan barang, 25 ribu rupiah untuk penumpang orang menggunakan perahu nelayan setempat.
Ia mengaku idealnya bila barang banyak dan distribusi barang lancar tidak menyebabkan kenaikkan harga barang. Namun faktor kenaikan harga di daratan dan biaya transportasi mengakibatkan mahalnya harga barang tak bisa dielakkan.
Di sisi lain, salah satu praktisi pendidikan di salah satu fakultas ekonomi di Kabupaten Lampung Selatan, Maria, menilai, buruknya infrastruktur menyebabkan harga barang, kebutuhan pokok serta kebutuhan lain terutama di pulau terpencil menjadi mahal.
Menurut Maria, infrastruktur pendukung distribusi kebutuhan masyarakat ke daerah lain terutama dermaga inilah yang membuat harga pangan di pulau terpencil menjadi mahal akibat biaya distribusi (pengiriman) juga mahal. Belum lagi saat kondisi cuaca sedang tidak bersahabat dengan ukuran kapal kecil membuat kapal tak berani melaut.
Saat ini harga gas elpiji ukuran 3 kilogram di sebagian wilayah Kabupaten Lampung Selatan mencapai harga 19 ribu rupiah pertabung namun di pulau Sebesi dan Pulau Sebuku mencapai 23 ribu rupiah bahkan bisa mencapai 25 ribu rupiah. Beberapa distributor elpiji bahkan telah menyiapkan ratusan tabung gas untuk kebutuhan masyarakat pengguna tabung melon tersebut.
Selain harga tabung gas, permintaan masyarakat akan kebutuhan pokok lainnya seperti beras, minyak goreng dan kebutuhan pokok lain memiliki selisih harga lebih tinggi dibandingkan di daratan Sumatera.
“Perlu adanya pembangunan pelabuhan khusus yang lebih mewakili dan bisa mengangkut barang dan orang secara bersamaan minimal jenis kapal landing craft tank atau jenis roro agar distribusi lebih cepat”ungkapnya.
Masih minimnya infrastruktur mengakibatkan jadwal keberangkatan kapal tradisional dalam sehari hanya dua kali diantaranya jam 07:00 WIB pagi dan jam 13:00 WIB untuk menunggu warga pulau yang melakukan aktifitas belanja di sejumlah pasar.
Mahalnya harga di pulau terpencil menurut warga Pulau Sebesi masih belum diimbangi dengan harga yang baik terhadap sejumlah komoditas hasil pertanian dan perkebunan. Menurut Andi, harga kelapa hanya mencapai 1.000 rupiah perbutir sementara di pulau Sumatera bisa mencapai 3000 rupiah sehingga banyak pembeli memanfaatkan selisih harga untuk mencari keuntungan.
“Alasan mahalnya ongkos angkut membuat harga menjadi murah saat membeli komoditas di pulau sementara jika menjual barang di pulau menjadi mahal”terang Andi.
Meski demikian kesuburan pulau-pulau di dekat gunung aktif Gunung Krakatau membuat pertanian dan perkebunan menjadi subur dan masyarakat bisa mengolah tanah untuk sumber penghasilan. Distribusi dan infrastruktur yang belum lancar selama 24 jam layaknya pelabuhan penyeberangan antar pulau Jawa dan Sumatera mengakibatkan pulau pulau terpencil di Lampung menjadi wilayah yang terpencil meski berada di dekat Pulau Sumatera.
Pantauan Cendana News dermaga Canti yang masih terbuat dari kayu tetap dipergunakan oleh masyarakat yang akan membeli kebutuhan hidup sehari hari di Pulau Sumatera. Selain digunakan sebagai dermaga penyeberangan umum dermaga Canti bahkan digunakan sebagai jalur penyeberangan wisata ke gugusan kepulauan Krakatau akibat belum adanya dermaga khusus wisata.
(Henk Widi)