SELASA, 19 JULI 2016
JAKARTA — Masyarakat sedikit banyaknya sudah mengetahui definisi maupun perbedaan antara Batik Tradisional (tulis dan cap) dengan Batik Tekstil (print), akan tetapi dalam memilih kain Batik kembali masyarakat harus mengetahui secara persis bentuk dan hasil produksi keduanya sebelum membeli.
![]() |
| Batik tulis khas Bali yang siap dijahit menjadi sebuah kemeja pria |
Bukan untuk memilah atau membentuk sebuah perbedaan, atau yang lebih buruk menepikan salah satu dari keduanya, akan tetapi agar masyarakat juga mendapatkan informasi yang jelas kedepannya.
Berada di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat, Cendana News coba menyambangi sebuah Toko Batik bernama Batik Sulung di Blok B1 Los C No.32 Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat. Bertemu dengan pengelolanya seorang pria gondrong berkacamata yang akrab disapa Ali, Cendana News mendapatkan informasi penting terkait cara membedakan bentuk dan keadaan fisik antara Batik tradisional dengan Batik print.
![]() |
| Contoh fisik antara Sisi Luar dan Dalam Batik Print (Batik Tekstil) |
” Untuk Batik tradisional baik yang dibuat dengan cara ditulis maupun dicap, kami khusus menjual Batik dengan motif-motif dari Pekalongan saja. Ada juga dari daerah lain namun tidak terlalu banyak. Sedangkan untuk Batik print, kami menjual semua jenis motif yang kami dapatkan langsung dari pabrik,” terang Ali membuka pembicaraan.
” Untuk membedakannya secara fisik mudah saja, untuk Batik print biasanya antara gambar di sisi luar dan sisi dalam kain akan berbeda. Sedangkan Batik tradisional dengan proses pembuatan ditulis atau dicap akan nampak sama antara gambar sisi dalam dengan sisi luar kainnya,” tambah Ali menjelaskan perbedaan antara kain Batik tradisional dengan Batik print.
Konsumen Batik Sulung sudah terbentuk sejak lama dan masing-masing sudah memiliki ketertarikan terhadap Batik apa saja yang akan dibeli. Peminat terbesar konsumen Batik Sulung adalah terhadap Batik Tradisional yang menggunakan tehnik cap dan Batik print. Hal ini dikarenakan harga keduanya adalah yang paling terjangkau kocek pelanggan-pelanggan tersebut. Sedangkan khusus untuk Batik tradisional yang dibuat dengan tehnik tulis pelanggannya datang dari mereka yang benar-benar menggemari Batik tulis dan tentunya mau merogoh kocek cukup dalam untuk membelinya.
Eddy, seorang karyawan PD Pasar Jaya Tanah Abang yang mengelola kegiatan sehari-hari kawasan Pasar Tanah Abang Jakarta pusat adalah pelanggan tetap Batik tulis maupun Batik Cap di Toko Batik Sulung. Bahkan hampir seluruh rekan-rekannya sudah mengikuti jejaknya dalam membeli Batik tradisional (tulis dan cap).
” Batik tulis atau Batik cap lebih halus hasilnya dan jika dikenakan menimbulkan sensasi adem di badan. Sebenarnya itu sedikit banyak dipengaruhi dari jenis kain yang digunakan untuk membatik, akan tetapi proses tradisional dengan lilin tersebut menurut saya turut memberikan sensasi adem juga,” jelas Eddy kepada Cendana News.
Minat paling besar para pelanggan Toko Batik Sulung memang kepada Batik Pekalongan, akan tetapi tidak jarang pula ada yang mencari Batik dengan motif-motif dari Solo, Yogyakarta, maupun Cirebon. Harga Batik tradisional di Toko Batik Sulung cukup bervariasi, namun secara garis besar, konsumen harus merogoh kocek antara tiga ratus ribu hingga lima ratus ribu rupiah untuk mendapatkan Batik tradisional baik tulis maupun cap sesuai motif yang diinginkan.
” bukan dari harga yang dilihat, akan tetapi kepuasan. Dan teman-teman semua rata-rata memiliki pandangan yang sama. Intinya bukan kain Batiknya yang mahal, tetapi cara pembuatan serta imajinasi pengrajinnya yang membuat Batik tradisional itu mahal, dan sebagai Orang Indonesia kami menghargai itu dengan membeli kain Batik tradisional,” sambung Eddy.
Melihat perkembangan animo masyarakat yang mulai bervariasi antara Batik tradisional dengan Batik print, maka Toko Batik Sulung akhirnya membuat sebuah terobosan baru berupa pengadaan motif Batik Kombinasi.
” Batik Kombinasi versi kami itu adalah Batik Print yang kami kombinasikan dengan Batik Tradisional. Awalnya kami membeli Batik print dari pabrik lalu menjahitnya sesuai model yang dibuat oleh desainer-desainer kami, lalu setelah selesai maka kami bawa kepada pengrajin-pengrajin Batik tradisional untuk dicap atau ditulis dengan motif-motif tertentu,” papar Ali.
Pembeli Batik di Pasar Tanah Abang biasanya kurang memperhatikan detail kain Batik yang akan dibelinya, akan tetapi menurut Ali khusus untuk Toko Batik Sulung, ia dan beberapa rekan-rekan yang menjaga toko akan memberikan penjelasan serupa seperti yang diberikan kepada Cendana News agar calon pembeli bisa memilih sebelum membeli.
” Kami ingin Batik tradisional dan Batik Print sama-sama laku terjual, karena keduanya sama-sama menjanjikan keuntungan. Jadi semua jenis Batik sama-sama bisa jalan disini baik itu tradisional maupun print,” sambung Ali lagi.
Geliat industri Batik dari bagaimana para pengrajin di daerah terus berkreasi untuk menghasilkan Batik tradisional yang indah, ditambah inovasi-inovasi pedagang dalam menghasilkan produk-produk Batik (Batik Kombinasi ala Toko Batik Sulung) kiranya dapat terus menambah khasanah Batik nusantara kedepannya dalam tujuan krusial Bangsa ini yakni melestarikan Batik nusantara sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.(Miechell Koagouw)
