CATATAN POLITIK—“Kalau ditanya, apa wasiat saya kalau saya nanti pada waktunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa? Wasiat saya, sebenarnya bukan wasiat saya sendiri, melainkan wasiat atau pesan kita bersama. Yakni, agar mereka yang sesudah kita benar-benar dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini. Saya pikir, yang penting adalah suatu pengelolaan Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 sedemikian rupa sehingga cita-cita perjuangan bangsa kita benar-benar terlaksana dan tercapai dengan sebaik-baiknya.

Pancasila yang dimaksud adalah Pancasila yang telah disepakati segenap bangsa melalui pengesahan BPUPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Pancasila yang dilontarkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni masih bersifat embrional dan finalisasinya mengalami dialektika panjang.
Mengiringi Jatuh Bangun Bangsa
Pembangunan Sebagai Implementasi Pancasila
Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo, sahabat pribadi Bung Karno dan Bung Hatta, sekaligus mantan anggota BPUPKI, bahkan berkirim surat kepada Presiden Soeharto pada tanggal 3 Oktober 1978, 2 (dua) hari setelah pidato tersebut. Ia menulis surat sebagai berikut:
”Perkenankanlah saya bersama ini menyatakan perasaan bahagia sedalam-dalamnya setelah membaca dalam Surat Kabar Sinar Harapan tanggal 2 Oktober, Sambutan Bapak Presiden di Istana Bogor di depan calon penatar pegawai negeri dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila mengenai dasar filsafah dan ideologi Pancasila dalam kehidupan kenegaraan. Perasaan bahagia itu timbul secara spontan dan mendalam karena formulasi ide-ide yang tersusun dalam Sambutan Bapak Presiden itu menyentuh jiwa dan hati sanubari saya, sebagai salah satu anggota Badan Persiapan Kemerdekaan dalam tahun 1945 yang merumuskan UUD 1945. Justru penerangan seperti itulah yang dibutuhkan oleh segala lapisan masyarakat karena jelasnya dan mudah dihayatinya oleh setiap warga negara Republik Indonesia yang menghendaki terlaksananya negara Indonesia yang ADIL DAN MAKMUR. Oleh karenanya menurut hemat saya, Sambutan Bapak Presiden itu sebaiknya dicetak seluruhnya dalam buku atau brosur kecil yang dapat disebarluaskan baik dikalangan Pemerintah maupun non-Pemerintah bahkan di sekolah-sekolah Menengah dan Universitas-universitas di seluruh Tanah Air kita. Perumusan Pancasila dalam sambutan Bapak Presiden itu lebih mudah difahami oleh khalayak ramai daripada penerangan yang pernah disusun oleh Panitia Lima dimana saya menjadi salah satu anggota dari Panitia tersebut”.
Pembangunan merupakan penjabaran dari Pancasila memiliki makna bahwa segala gerak kehidupan bangsa harus berdasar falsafah Pancasila. Cita-cita nasional atau tujuan bernegara sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 —majunya kesejahteraan umum, cerdasnya kehidupan bangsa, terlindunginya segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, kemampuannya dalam berkontribusi menciptakan ketertiban dunia— harus dicapai sesuai falsafah Pancasila.
“Pembangunan nasional merupakan pengamalan Pancasila dalam seluruh segi kehidupan bangsa dan negara, baik di lapangan politik, ekonomi, sosial, hukum, pertahanan keamanan dan seterusnya. Ini adalah langkah nyata agar suasana serba Pancasila terasa di mana-mana, membimbing dan memberi arah kehidupan kita semua dalam bermasyarakat. Tanpa itu maka Pancasila tetap akan tinggal sebagai semboyan kosong”
Tantangan Akademisi
***
![]() |
|
Abdul Rohman
CEO Cendana News
|
