KAMIS, 2 JUNI 2016
MALANG — Master trainer parenting nasional, Ustad Miftahul Jinan menekankan kepada peserta untuk meyakini bahwa hanya ada dua jenis kelamin manusia yaitu laki-laki dan perempuan.

“Apapun yang terjadi dan yang berubah di lingkungan sekitar, kita harus tetap yakin bahwa manusia hanya ada dua yaitu laki-laki dan perempuan, tidak ada alternatif lainnya. Mau di konsep seperti apapun tetap hanya dua,”tegasnya dalam acara smart parenting yang digelar Griya Parenting Indonesia di Aula Skodam kota Malang, Kamis (2/6/2016).
menggelar sebuah acara dengan narasumber yang merupakan seorang . Acara yang berlangsung mengusung tema .
Ustad Jinan diawal pembicaraan
Dalam kegiatan yang bertema “Laki-laki atau perempuan : mendidik anak sesuai dengan kodratnya” ustad menjelaskan, LGBT muncul karena beberapa hal diantaranya yaitu adanya propaganda yang banyak terdapat pada gadged yang didalamnya terdapat konten pornografi.
“Jika sudah ada konten pornografi pasti disitu juga ada konten yang menggambarkan hubungan laki-laki dengan laki-laki maupun wanita dengan wanita. Selain itu interaksi dan riwayat pengasuhan juga berpengaruh terhadap munculnya LGBT,”ujar penulis buku parenting.
Dijelaskan, sengaja atau tidak, masyarakat ikut andil dalam lahirnya LGBT. Salah satu contohnya yaitu dengan alasan untuk memeriahkan acara 17 Agustus-an, dibeberapa daerah ada yang menyelenggarakan sepak bola bapak-bapak dengan menggunakan baju daster. Sesuatu yang sebenarnya memalukan tetapi karena alasan merayakan, rasa malu itu di hilangkan.
“Belum lagi sekelompok anak-anak yang menonton pertandingan tersebut justru ikut tertawa, hal ini menandakan rasa malu yang harusnya dimiliki anak-anak juga sudah hilang karena mereka justru menertawakan ayah mereka yang menggunakan daster,”ungkapnya.
Oleh karena itu, ustad Jinan menganggap peran kedua orang tua sangat menentukan karakter dan orientasi seksual seorang anak. Peran seorang Ibu adalah untuk membangun perasaan tenang pada anak dan tahan terhadap stres.
“Anak-anak yang kehilangan sosok Ibu di kehidupannya, jika anak tersebut tertimpa musibah cenderung akan bisa tenang dan grasa grusu,”ucapnya.
Dari Ibu, anak juga belajar tentang ketelatenan dan empati. Peran seorang Ibu pada usia anak 0-8 tahun harus lebih dominan daripada Ayahnya yaitu 70 persen peran Ibu dan 30 persen peran Ayah.
“Namun pada usia anak menginjak 9 tahun atau pra remaja, peran Ibu dan Ayah harus seimbang yaitu 50:50,”tuturnya.
Ia juga menyampaikan, seorang anak yang dekat dengan Ayahnya, maka biasanya akan menjadi pemimpin yang baik. Sedangkan anak yang sangat dekat dengan Ibunya dan benar-benar kehilangan figur seorang Ayah akhirnya akan memiliki sisi kelembutan.
Oleh karena itu, sebaiknya dalam mengasuh anak, kedua orang tua harus pandai bekerjasama. Karena seorang anak membutuhkan peran dan figur dari Ayah dan Ibunya.
“Seorang Ayah tidak boleh melepaskan perannya sebagai sosok Ayah karena sudah merasa bertugas mencari nafkah, begitu juga dengan sosok Ibu,”tutupnya.
[Agus Nurchaliq]