SABTU, 18 JUNI 2016
LAMPUNG — Permudah akses transportasi warga ke wilayah desa lain serta mempermudah pendistribusian hasil pertanian dan perkebunan, Pemerintah Desa Gandri Kecamatan Penengahan melakukan pembangunan jembatan selebar 3 meter, panjang 5 meter serta pembangunan jalan rabat beton sepanjang 100 meter yang berlokasi Dusun 04 di RT 03.

Kepala Dusun 04, Maman mengatakan, pembangunan jembatan merupakan upaya pemerintah desa setempat yang melakukan pembangunan infrastruktur menggunakan biaya dari anggaran fisik Dana Desa (DD) dan ditambah swadaya warganya. Pengerjaan jembatan tersebut bahkan menggunakan tenaga kerja dari warga desa yang selalu menggunakan jalan dan jembatan tersebut sebagai sarana transportasi.
“Total biaya untuk pembangunan jembatan tersebut dianggarkan sebesar sekitar Rp38juta lebih. Setelah sebelumnya dibangun dahulu tembok pembatas tebing menggunakan batu dan juga pembangunan jalan dengan sistem rigid, diperkirakan pembangunan jembatan ini bakal selesai dalam waktu tiga pekan,” kata Maman kepada Cendana News saat ditemui di lokasi pengerjaan jalan, Sabtu (18/6/2016).
Ia menegaskan, sebelum jembatan dibangun secara permanen sebelumnya jembatan tersebut berupa jembatan semi permanen dari batang kayu kelapa yang dilintasi warga. Akibat hujan deras di wilayah tersebut dan aliran sungai yang deras mengakibatkan jembatan hanyut terbawa arus sungai. Padahal jalan tersebut bisa memutus jalur distribusi menggunakan jalan lain sepanjang 20 kilometer.
Maman mengakui, pemilik puluhan hektar lahan jagung dan kelapa sawit terpaksa berjalan memutar sejauh 25 kilometer akibat belum adanya jembatan permanen di wilayah tersebut. Mendesaknya pembangunan jembatan tersebut selain sebagai sarana transportasi warga, jembatan tersebut juga nantinya bakal menghubungkan dua desa serta diharapkan dapat membantu dalam mempercepat peningkatan ekonomi warga. Apalagi mata pencaharian utama warga di wilayah tersebut rata rata menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan perkebunan.
Salah satu warga setempat, Asmuni mengakui sebelum dibangunnya jembatan ini, warga harus menempuh jalan memutar lumayan jauh. Namun, setelah adanya jembatan jarak tempuh warga jauh lebih pendek dan memudahkan warga melakukan aktifitas keluar desa.
Ia juga menambahkan kebutuhan akan adanya infrastruktur jembatan memudahkan warga jika hendak ke pasar ataupun ke sekolah dan ke lahan perkebunan. Selain itu penggunaan bahan bakar minyak serta biaya angkut akan menjadi lebih murah. Selama ini biaya operasional pengangkutan satu karung jagung mencapai Rp5.000,- perkarung akibat menggunakan jasa ojek.
Kepala Desa Gandri, Turisman mengungkapkan, pertanian menjadi sumber penghasilan Desa Gandri, dari luas lahan sekitar 800 hektar 60 persen lebih wilayahnya merupakan lahan-lahan produktif.
Hal ini yang membuat Pemerintah Desa Gandri terus memperkuat sektor pertanian desa sebagai penopang ekonomi utama warga. Alhasil dukungan pembangunan yang mendorong kemajuan pertanian dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah desa untuk mendongkrak hasil pertanian.
Proses pembangunan jalan dan jembatan yang ada merupakan penopang akses transportasi angkutan pertanian desa. Jika jembatan itu rusak biaya transportasi pertanian akan membengkak.
“Kita optimistis jika beberapa jembatan kondisinya baik bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat maka angkutan pertanian dan tranportasi publik akan lancar,” terangnya.
Selain jembatan, pemerintah desa juga berencana membangun tiga titik saluran drainase, pembangunan talud serta pembangunan infrastruktur lain. Ia mengaku harapan warga akan pembangunan infrastruktur cukup banyak namun perlu dimusyawarahkan infrastruktur yang paling mendesak. Beberapa usulan sedianya pembangunan yang direncanakan desa sangat banyak akibat infrastruktur jalan masih membutuhkan perhatian. Namun lantaran keterbatasan anggaran, desa memutuskan untuk menyelesaikan pembangunan bidang lain pada tahap selanjutnya.

Prioritas pembangunan jembatan dilakukan menurutnya karena pembangunan insfrastruktur didesa sangat menunjang semua sektor kehidupan tak hanya perekonomian tapi dari segi sosial dan sektor lain karena kemudahan dalam akses transportasi dan distribusi. Karenanya, ia akan berupaya maksimal memanfaatkan anggaran desa untuk pembangunan infrastruktur desa yang dipimpinnya.
[Henk Widi]