Mahasiswa Unair Ciptakan Robot Pembersih Ruang Operasi

JUMAT, 10 JUNI 2016

SURABAYA — Inilah terobosan baru karya anak bangsa dalam dunia medis, lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang terdiri dari Ahmad Afrizal R mahasiswa Jurusan Otomasi Sistem Informasi (OSI) 2014, Mokhammad Deny B mahasiswa OSI 2013, Mokhammad Dedy B mahasiswa OSI 2013, Rizky Atyara mahasiswa OSI 2013 dan Prataka Bagus B mahasiswa OSI 2013 yang berhasil menciptakan robot pembersih ruang operasi.

Robot ini diberi nama ‘Luvizer’ merupakan robot pensteril ruangan operasi dengan cara menggunakan cahaya ultraviolet (UV) yang memiliki panjang gelombang cukup pendek untuk membunuh mikroorganisme. Selain itu cahaya UV efektif untuk menghancurkan asam nukleat pada organisme ini yang menyebabkan DNA-nya terganggu oleh radiasi UV, sehingga organisme ini tak dapat melakukan fungsi-fungsi sel penting.
Robot ini merupakan hasil dari dana hibah bidang karsa cipta dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-KC) tahun 2016.
Ketua tim, Akhmad Afrizal menjelaskan sterilisasi penting mengingat alat-alat medis maupun ruangan yang digunakan itu untuk proses perawatan pasien, seperti kamar pasien, dan ruang bedah/operasi. Dengan sterilisasi sekaligus sebagai upaya menghindarkan pasien dari kontaminasi bakteri maupun virus.
“Jika tidak steril maka dapat mengganggu kelancaran proses bedah yang dilakukan petugas medis serta meningkatkan resiko kegagalan dalam proses pembedahan, seperti terjadinya infeksi akibat bakteri udara,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di Unair, Jumat (10/6/2016).
Robot sterilisasi ini merupakan gabungan dari robot line follower dengan alat sterilisasi manual yang dapat dikontrol jarak jauh secara digital menggunakan controller arduino, sehingga dapat melakukan desinfeksi ruang operasi. Robot medis ini juga sangat aman dengan sensor Passive Infrared Receiver (PIR) yang mampu mendeteksi suhu manusia.
“Karena lampu ultraviolet yang kami gunakan merupakan jenis UVC dengan panjang gelombang 260 nm yang radiasinya memiliki efek kimia dan efek germicidal yang mampu membunuh bakteri, kami menambah sensor PIR supaya jika terdeteksi ada orang di dalam ruang operasi, robot ini otomatis mati, sehingga petugas medis bebas paparan radiasi tersebut,” tambah Mokhamad Deny B, rekan se-timnya.
Kedepan keinginan dari tim ini agar ada kajian mendalam terkait robot ini sekaligus bisa diproduksi massal agar dimanfaatkan oleh masyarakat luas. “Kami berharap semoga ada perusahaan yang mau mengembangkan temuan kami, supaya bisa dimanfaatkan dalam bidang kedokteran,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).
Lihat juga...