RABU, 1 JUNI 2016
LAMPUNG — Panen raya di sejumlah tempat di wilayah Lampung rupanya tak memberi dampak positif bagi petani serta masyarakat yang tinggal di wilayah provinsi paling ujung Pulau Sumatera tersebut. Berdasarkan catatan tim serapan gabah (Sergab) yang terdiri dari beberapa instansi diantaranya Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian Pertanian, Badan Urusan Logistik serta berbagai instansi lain ditemukan banyaknya gabah yang tidak terserap di pasar lokal. Gabah bahkan dijual oleh para tengkulak ke luar Lampung dan kembali ke Lampung dalam bentuk beras dengan menggunakan merk tertentu dengan harga lebih mahal.

“Kami sengaja menjual ke wilayah Pulau Jawa karena harga jualnya lebih tinggi dan kami sudah diberi modal oleh beberapa bos di sana kemudian gabah diolah dan dicampur dengan jenis beras daerah unggulan dan diakui sebagai beras asli wilayah tersebut padahal itu beras Palas”ungkap Agus salah satu juragan jual beli padi lintas pulau saat diskusi dengan tim sergab di lahan pertanian Palas, Rabu (1/6/2016)
Jawaban juragan gabah yang sudah bukan rahasia umum terkait keluarnya gabah dari sentra sentra lumbung padi di Lampung tersebut menjadi bagian penentu faktor rendahnya serapan gabah yang sudah dicanangkan antara TNI serta instansi terkait diantaranya Bulog Lampung. Rendahnya serapan gabah dari petani ke Buloh sempat membuat Komandan Korem (Danrem) 043/Garuda Hitam Kolonel Inf. Joko Purwo Putranto kesal pada Rabu (20/4) lalu.
Penyerapan Gabah di provinsi Lampung dinilai kurang serapannya pasca panen padi di provinsi Lampung, dan rupanya kendala tersebut adanya di Bulog divisi provinsi Lampung, bahkan Bulog sendiri tidak sanggup menyerap gabah yang ditargetkan Lampung untuk Nasional sebanyak 500 ribu ton.
Persoalan tersebut cukup membuat pusing tim sergab termasuk di dalamnya Komandan tim (Dantim) serapan gabah (Sergab) Provinsi Lampung dari Mabes Tentara Nasional Indonesia (TNI) Brigjen TNI M.Afifudin berkoordinasi dengan Satker pengadaan gabah/beras perum Bulog Divre Lampung, Kepala UPTD Balai Benih Induk Tanaman Hortikultura dan Pengembangan Lahan Kering Dinas Pertanian Provinsi Lampung, Emilia Kusumawati yang juga menangani penyerapan gabah untuk ketahanan pangan.
Komandan Korem (Danrem) Kolonel Inf. Joko Purwo Putranto kesal, kenapa adanya perbedaan angka penyerapan oleh Bulog provinsi Lampung.
“Kayaknya Bulog ini tidak serius menyerap gabah dari Petani, karena melihat angka-angka sangat jauh dari serapan petani. Adanya ketidaksesuaian angka itu, alasannya ini itu alasannya,”kata dia.
Padahal dari pihak Korem sendiri hingga ke Babinsa sudah melakukan pengawasan sejak mulai penggarapan, dan masalah pupuk pun dapat teratasi.
“Masak kita itu tidak bisa menyelesaikan target diantara kita. Bagaimana strategi dari Bulog untuk mengatasi, karena dari kita Dinas pertanian dan Korem sudah melakukan upaya. Karena kita mengerti bagaimana kompetisinya tidak hanya di Bulog, tapi apakah karena adanya permainan di Tengkulak,”kata Danrem.
Keluhan yang terungkap dalam rapat tim Sergap di Makorem yang dihadiri oleh Ketua Tim Sergap pusat, Kolonel Arm. Winarto, Kadis pertanian provinsi dan Kabupaten kota serta Bulog se-kabupaten kota di Provinsi Lampung tersebut rupanya benar adanya seperti yang terjadi di lapangan khususnya di wilayah lahan pertanian sawah Kecamatan Palas dan Sragi.
Karena menurut Danrem, bagi TNI jika capaian target tidak sesuai bisa-bisa taruhan jabatan. Berdasarkan Target pencapaian nasional gabah adalah 4 juta ton, dan untuk provinsi Lampung target gabah 500 ribu ton. Ia bahkan berharap capaian target khusus wilayah Lampung bisa tercapai atas koordinasi dengan berbagai pihak diantaranya Dinas Pertanian provinsi Lampung, Bulog dan dari Dirjen Pertanian serta Bakorluh provinsi Lampung serta TNI.
Dantim serapan gabah Provinsi Lampung dari Mabes Tentara Nasional Indonesia (TNI) Brigjen TNI M. Afifudin yang langsung berdialog dengan petani termasuk persoalan selisih harga yang menggiurkan jika dijual di luar Lampung dengan dijual di wilayah Lampung pun dengan sigap mencairkan suasana. Ia bahkan mencari jalan tengah dengan melibatkan langsung tim dari Bulog untuk melakukan pengecekan kualitas padi yang akan dijual di Pulau Jawa dan petani bersedia menjualnya ke Bulog.
“Saya menjual ke wilayah Karawang nanti akan digiling terus berasnya juga akan dikirim ke Bulog wilayah sana untuk stok tapi dengan catatan kualitas harus dipertahankan”ungkap bos penjual gabah tersebut.
Setelah berhasil melakukan negoisasi dan pendekatan dengan para petani terkait maksud dan tujuan, tim Sergab melakukan pembelian gabah petani, Dantim Sergab, Brigjen TNI M. Afifudin selanjutnya menyerahkan proses transaksi ke Bulog Lampung Selatan. Ia berharap kesepakatan harga yang pas antara bulog dan petani membuat proses pencapaian target 500ribu ton beras di Lampung tercapai.

Buat Hak Paten Beras Lokal Lampung Selatan
Persoalan banyaknya hasil pertanian wilayah Lampung Selatan yang selama ini secara tertulis di atas kertas dianggap sebagai daerah Lumbung Beras sementara faktual banyak yang dijual ke lain daerah menjadi perhatian serius kepala daerah setempat. Bahkan dengan mengacu data dari Kodim 0421/LS angka 300ribu rata rata selama beberapa pekan menunjukkan tingginya angka gabah keluar dari wilayah Lumbung Padi Lampung dan kembali dalam keadaan menjadi beras bermerek.
Upaya mengangkat derajat petani dan hasil pertanian dilakukan Bupati Lampung Selatan, Zainudin Hasan, ia bahkan akan berupaya untuk membuat hak paten merek terkait hasil produksi padi di Lampung Selatan. Upaya tersebut selalu didengungkan bupati dalam setiap Musrenbang dan saat berhadapan dengan petani.
Upaya ini dilakukan mengingat Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu lumbung pangan nasional utamanya di wilayah Kecamatan Palas dan Sragi. Mirisnya, gabah atau beras asli dari Lampung Selatan itu belum dikenal oleh masyarakat dari luar daerah. Berdasarkan pengakuan penjual beras asal Lampung dicampur dengan beberapa beras wilayah lain dengan label tertentu untuk meningkatkan nilai jual.
“Supaya lebih dikenal kita harus patenkan. Butuh branded supaya mudah dijual. Jadi, akan kita patenkan nama beras asli Lamsel dengan sebutan ‘Beras Palas’ (Padi Asli Lampung Selatan),” ungkap Zainudin Hasan.
Zainudin mengatakan, pematenan nama Beras Palas bukan tanpa alasan. Selain agar lebih dikenal oleh masyarakat luas, upaya itu dilakukan untuk mengetahui hasil panen padi petani asal Kabupaten Khagom Mufakat ini. Sehingga, diketahui angka riil dari produksi pertanian di Lampung Selatan.
Tak hanya itu, Zainudin juga mengungkapkan upaya mempatenkan Beras Palas dilakukan untuk mengantisipasi jual beli yang terjadi dilapangan. Dimana beras asal Lampung Selatan kerap dijual keluar daerah yang selanjutnya diberi nama daerah itu.
“Kedepan, kita akan membeli hasil padi petani. Kita akan membuat perusahaan daerah atau bekerja sama dengan swasta. Kita branded nama Beras Palas supaya menjadi kebanggan warga Lamsel. Dengan cara ini kita akan dikenal oleh masyarakat dari luar Lamsel,”kata Zainudin.
Kawasan pertanian Rawa – Sragi meliputi Kecamatan Palas dan Sragu merupakan kawasan lahan sawah yang terdiri dari saluran primer hingga tersier dan berfungsi dapat mengairi sekitar 24.000 hektar areal persawahan diwilayah setempat melalui kanal kanal yang sudah dibangun pada zaman kepemimpinan Presiden Soeharto.
Pembangunan saluran irigasi tersier Rawa Sragi dimaksudkan untuk meletakkan landasan pertanian pada era kepemimpinan Presiden Soeharto. Pembangunan pada sektor pertanian menjadi sektor penting sehingga banyak rawa yang diubah menjadi sawah untuk swasembada pangan.
Kala itu Pelita III (1979/1980-1983/1984) yang memfokuskan pada program pembangunan pertanian untuk terwujudnya swasembada pangan dan sektor industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Salah satunya adalah pembangunan kawasan Rawa Sragi. Namun kini swasembada pangan dan ketahanan pangan tersebut seolah menjadi sejarah.
[Henk Widi]