Warga Aceh Utara Peringati Tragedi Simpang KKA

SELASA, 3 MEI 2016
ACEH — Ratusan warga Aceh Utara, Provinsi Aceh, larut dalam doa dan zikir serta tausiah mengenang tragedi Simpang KKA yang terjadi tahun 1999 di Desa Paloh Lada, Selasa (3/5/2016). Tragedi itu menimbulkan korban jiwa. 


Pantauan Cendana News, kegiatan memperingati 17 tahun tragedi Simpang KKA tersebut dimulai dengan doa dan zikir bersama. Kegiatan dilakasanakan oleh Forum Pemuda Simpang KKA (Frosika) dan Komunitas Korban HAM Aceh Utara (K2HAU) bersama masyarakat sekitar.
Berdasarkan penuturan warga, kegiatan memperingati tragedi berdarah tersebut bukan yang pertama dilakukan. Setiap tanggal 3 Mei, usai perjanjian damai antara Pemerintah RI dengan pihak GAM, masyarakat selalu mengadakan kegiatan peringatan musibah tersebut.
Namun sayangnya, peringatan untuk mengenang musibah kelam itu selalu saha tak dihadiri oleh petinggi pemerintahan. “Kita undang Gubernur Aceh, Dr. Zaini Abdullah, kita juga undang bupati Aceh Utara, juga anggota DPR, tapi mereka tidak bisa datang,” ujar Ricky, salah seorang panitia pelaksana kepada Cendana News.
Meski sempat menunggu beberapa saat, kegiatan tetap dilanjutkan meski tanpa kehadiran gubernur. Sementara Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib atau yang akrab disapa Cek Mad, diwakili oleh seorang pejabat kantor Kecamatan Dewantara, T. M. Yakob.
Menurut Yakob, Cek Mad sedang tidak berada di kabupaten tersebut, tapi berada di Banda Aceh, untuk mengikuti rapat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama oleh Abu Paloh Kayee Kunyet.

Tragedi Simpang KKA
Sebagaimana diketahui, tragedi Simpang KKA, merupakan salah satu tragedi kelam Aceh pada 3 Mei 1999. Kala itu, Aceh masih dalam konflik bersenjata antara Pemerintahan Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).  
Pemerintah Indonesia melalui TNI menembak masyarakat sipil secara membabi buta di Simpang KKA. Berdasarkan laporan Koalisi NGO HAM Aceh, akibat tragedi tersebut sedikitnya 46 warga sipil tewas, 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam peristiwa itu.
“Ada 46 korban meninggal dunia, 21 diantaranya warga sekitar sini, lainnya warga yang datang dari berbagai daerah lain, berdasarakan data kami waktu itu, ada yang dari Bireuen, Sigli, dan sebagainya. Tujuh dari korban tewas dintaranya adalah anak-anak,” ujar Direktur Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad. (Zulfikar Husein )
Lihat juga...