Bayu Korban Penyanderaan Buang Sial di Sungai

SELASA, 3 MEI 2015
SOLO —- Bayu Oktavianto, salah seorang  ABK Kapal Brahmana 12, asal Klaten, Jawa Tengah, langsung menceburkan diri ke sungai, setelah tiba di kampung halamannya di Dusun Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten.

Ritual itu dilakukan membuang sial setelah 37 hari menjadi sandera kelompok milisi Filiphina, Abu Sayyaf. Bayu tiba sekitar pukul 10. 30 WIB, dikawal kepolisian Sektor Delanggu, Klaten beserta orang tua dan saudara yang menjemput di Jakarta. Tiba di kampung halaman, Bayu tidak langsung masuk rumah, tetapi menuju sungai Pusur, yang tak jauh dari rumahnya.
“Ini untuk membuang sial,” kata Bayu kepada awak media saat berjalan menuju rumahnya, Selasa (3/5)16).
Tak hanya Bayu yang melakukan ritual buang sial dengan cara menceburkan diri ke sungai, pakaian putra sulung Sutomo, saat masih disandera, yakni celana panjang biru dan baju putih juga ikut dibuang ke sungai.  “Buang sial agar kejadian yang saya alami tidak terulang,” tambahnya.
Usai buang sial, puluhan warga, saudara, dan teman sudah menunggu kepulangan Bayu langsung mememuluk dan menciumi Bayu. Begitu tiba di halaman rumah, Bayu beserta pamannya melakukan sujud syukur, karena telah pulang dengan selamat.
Ayah Bayu Oktavianto, Sutomo mengaku sangat lega putranya telah tiba di rumah dengan selamat. Sutomo juga berterimakasih kepada perusahaan dan pemerintah yang selama ini terus berupaya menyelamatkan ke sepuluh ABK,  termasuk anaknya dengan selamat. 
Banyak hal yang diceritakan Bayu kepada Sutomo saat bertemu di Jakarta. Diantaranya terkait kondisi Bayu saat disandera kelompok milisi Abu Sayyaf. Termasuk perlakuan Abu Sayyaf terhadap ABK yang menurut Sutomo memperlakukan dengan baik. “Abu Sayyaf tidak menyiksa ABK, tidak keras, ya seperti perlakuan pada umumnya,” terangnya.
Meski telah menjadi korban sandera selama 37 hari, Sutomo tidak melarang Bayu untuk bekerja di kapal. Hanya saja, untuk sementara waktu, Bayu akan tinggal di rumah, sampai ada kejelasan dari pihak perusahaan. “Kehendak anak tetap ingin kerja, ya saya izinkan. Mudah-mudahan kondisinya aman dan lebih baik,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Lihat juga...