Lestarikan Budaya, Disbudpar Pontianak Gelar Seminar Saprahan

SELASA, 3 MEI 2016

PONTIANAK — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak mengakui tradisi makan bersama dalam keluarga sudah mulai memudar dikarenakan beberapa hal, diantaranya kesibukan masing-masing anggota keluarga.
Makan bersama atau saprahan yang digelar di Kota Pontianak
Kepala Disbudpar Pontianak, Hilfira Hamid berpendapat, makan bersama paling tidak sekali dalam sehari sehingga bisa terjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak. Latar belakang itulah anak-anak juga harus dikenalkan dengan adat budaya yang ada di Kota Pontianak, salah satunya budaya saprahan atau makan bersama.
“Makanan yang sama-sama dinikmati. Artinya, dengan makan saprahan ini istilahnya duduk sama-sama rendah, berdiri sama-sama tinggi,” ujar Hilfira Hamid, seusai menggelar Seminar Saprahan dengan tema ‘Menggali Etika Saprahan Budaya Dipertahankan’ di aula rumah dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Selasa,(3/5/2016). 
Hilfira Hamid menyebutkan, generasi muda saat ini sudah mulai sedikit yang mengetahui dan memahami budaya yang dimiliki Kota Pontianak. Adat etika di meja makan atau table manner saja sudah banyak ditinggalkan. Dalam saprahan, terkandung bagaimana bersikap sopan saat menikmati sajian atau hidangan makanan dalam sebuah acara.
“Saprahan itu diajarkan bagaimana sikap duduk yang baik, di mana kaum pria duduk bersila sedangkan kaum wanita duduk berselimpuh,” jelas Hilfira Hamid.
Hilfira Hamid berujar, Kegiatan yang diikuti 100 peserta dari berbagai sekolah negeri maupun swasta setingkat SMA/SMK di Kota Pontianak bertujuan untuk melestarikan budaya saprahan di kalangan masyarakat serta memperkenalkan ke dunia luar sebagai aset kekayaan budaya yang dimiliki Pontianak, pihaknya rutin menggelar Festival Saprahan dalam peringatan Hari Jadi Kota Pontianak setiap tahunnya.
Kembali Hilfira Hamid menyebutkan, pesertanya juga berasal dari kader-kader PKK di kelurahan dan kecamatan se-Kota Pontianak. Selain itu, mulai tahun ini, pihaknya juga akan menggelar festival serupa tingkat pelajar SMA/SMK bulan Agustus mendatang. Para guru atau tenaga pendidik muatan lokal (mulok) yang diundang dalam seminar ini, juga akan diberikan technical meeting sebagai persiapan menjelang lomba atau festival saprahan mendatang.
“Kita mengundang guru-guru mulok supaya mereka menyampaikan kepada siswa-siswanya. Mudah-mudahan melalui seminar ini, anak-anak kita mengetahui etika makan dan akan lebih tertib serta lebih mengenal budaya kita,” uja Hilfira Hamid, menjelaskan.
Menurut salah seorang pemateri seminar saprahan, Rahmaniah, adat saprahan adalah adat makan bersama duduk di lantai. Saprahan itu dilakukan oleh Masyarakat Melayu Pontianak dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan dan acara syukuran lainnya.
“Dalam acara saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah,”  kata Rahmaniah.
Rahmaniah  menjelaskan, tradisi saprahan mengandung makna duduk sama rendah, berdiri sama tinggi sebagai wujud kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan sosial serta persaudaraan.
“Tujuannya untuk mewujudkan acara makan bersama secara tertib bernuansa khas Melayu Pontianak serta mempererat tali silaturrahmi antar sesama masyarakat,” ujar Rahmaniah.
Namun untuk proses menghampar dan menyajikan hidangan saprahan, tidak hanya sekadar meletakkan di atas kain seprahan. Ada ketentuan adat yang harus dilakukan, misalnya pakaian yang dikenakan petugas yang menyajikan hidangan, cara berjalan, duduk serta bergerak maju mundur dan lainnya.
“Petugas penyaji hidangan saprahan tidak boleh membelakangi tamu yang hadir,” kata Rahmaniah.  [Aceng Mukaram]
Lihat juga...