Ratusan Nelayan Muara Piluk Gelar Prosesi Ruwat Laut

SELASA, 24 MEI 2016

LAMPUNG — Ratusan nelayan di wilayah pesisir Timur Lampung melakukan prosesi tahunan ruwat laut dengan doa bersama di laut melalui tradisi larug sesaji di Tanjung Tua Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Kegiatan  dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Piluk melewati Pelabuhan menggunakan kapal kapal tradisional lengkap dengan hiasan rumbai rumbai, bendera serta makanan ringan. 
Tetua nelayan setempat, Supuh (65) yang menjadi juru kunci sekaligus pemimpin doa saat larung sesaji menjelaskan, prosesi dilakukan untuk meminta kepada Tuhan yang Maha Esa dalam rejeki dalam mencari nafkah di laut.
“Masyarakat nelayan di sekitar pantai Timur Lampung rutin menggelar ruwat laut sebagai tradisi yang harus dilestarikan turun temurun karena masyarakat menggantungkan hidup dari laut,”sebut Supuh kepada Cendana News, Selasa (24/5/2016)
Supuh yang menjadi nelayan sejak bujang mennyebutkan, kearifan lokal tersebut masih tetap dijaga . Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, sumber pemberi rejeki adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai simbol rasa syukur, ruwat laut diadakan di lokasi yang berjarak sekitar dua mil laut dari dermaga Muara Piluk tepatnya di Tanjung Tua.
Dikatakan, Tanjung Tua merupakan tanjung atau daratan paling ujung Selatan di Pulau Sumatera yang paling besar, paling dituakan dan dikeramatkan warga. Berbagai mitos serta kearifan lokal termasuk kepercayaan lokasi tersebut merupakan pintu kerajaan gaib. 
Selain itu, lokasi Tanjung Tua merupakan tempat pertemuan arus. Berdasarkan kearifan lokal merupakan lokasi yang dikeramatkan sama halnya wilayah Tanjung Jabung. 
Sebagai pelangkap prosesi, seluruh nelayan menyiapkan sesaji yang diletakkan dalam miniatur kapal terbuat dari batang pisang. Sesaji yang disiapkan diantaranya kelapa muda, padi, tebu, minyak, rokok cerutu, korek, teh pahit, teh manis air putih, kopi manis, kopi pahit. Sementara untuk kurban kerbau disembelih secara utuh bagian tubuhnya.
Disebutkan, proses sesaji dilarung dilakukan puluhan kapal dan nelayan dengan mengitari tanjung tua sebanyak tiga kali. Selanjutnya masyarakat melakukan pembersihan kapal yang digunakan melaut dengan cara melakukan penyiraman menggunakan air laut.
Nelayan yang berangkat menggunakan kapal bagan congkel, Acok mengatakan, saat ini nelayan sedang menghadapi masa pancaroba sehingga penghasilan berkurang.
“Saat ini sedang musim cumi dan harganya lumayan sehingga kita bersyukur yang diwujudkan dengan ruwat laut sebagai ungkapan syukur,”ungkap Acok salah satu nelayan bagan congkel.
Acok menyebutkan, saat ini yang bersandar di dermaga Muara Piluk berjumlah sekitar 200 nelayan pemilik bagan congkel, kapal rawe ,jaring serta nelayan pancing. Mereka melakukan aktifitas melaut rata rata ke arah Timur Hingga Labuhan Maringgai dan ke arah Barat ke arah Kepulauan Krakatau.
[Henk Widi]
Lihat juga...