SELASA, 24 MEI 2016
LAMPUNG — Dua unit kapal Patroli milik Polres Lampung Selatan dan Polda Lampung mengawal pelaksanaan upacara adat Ruwat Laut Nelayan pesisir Timur Lampung yang dilaksanakan di Dusun Muara Piluk Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan.

Pj Kasatpolair Polres Lampung Selatan, Aiptu Hendra Sapri menyebutkan, dua unit kapal yang disiagakan diantaranya patroli XXV-2003 Ditpolair Polda Lampung dan patroli XXV-1016 milik Polres Lampung Selatan.
Dijelaskan, pengawalan dilakukan untuk menjaga keamanan dari ratusan nelayan yang melakukan prosesi menggunakan puluhan kapal menuju titik di Tanjung Tua Kecamatan Bakauheni. Warga yang mengikuti prosesi ruwat laut rata rata menggunakan perahu tradisional bermesin lebih dari 30 PK namun tanpa menggunakan alat keselamatan.
“Kita lakukan tugas pengamanan untuk mengantisipasi kejadian tak diinginkan terutama jika ada kecelakaan laut atau terjatuh dari kapal saat pelaksanaan upacara adat ini,”sebut Aiptu Hendra Sapri kepada Cendana News, Selasa (24/5/2016)
Disebutkan selain kapal, 15 personil Polair lengkap dengan alat alat keselamatan juga disiagakan dengan harapan pelaksanaan berjalan lancar, terutama untuk memenuhi harapan para nelayan dalam mengungkapkan rasa syukur selama melakukan pencarian ikan di Selat Sunda.
Hendra Sapri menyebutkan, perjalanan para nelayan dari dermaga tempat pelelangan ikan (TPI) Muara Piluk memerlukan waktu sekitar dua puluh menit dengan jarak kurang lebih satu mil laut.
Prosesi ruwat laut nelayan Muara Piluk dan sekitarnya berdasarkan pantauan Cendana News merupakan ritual tiga tahunan yang digelar sebagai ungkapan syukur sekaligus bersih laut. Nelayan menyiapkan beragam sesaji yang dibawa dalam perahu khusus dan akan dilarung di lokasi yang telah ditentukan.

Selain beberapa nelayan setempat terlihat beberapa wisatawan domestik asal wilayah Lampung Selatan ikut terlibat dalam pesta laut masyarakat nelayan pesisir Timur Lampung tersebut. Puluhan perahu hias dengan rumbai rumbai dan bendera berisi ratusan nelayan dan keluarganya termasuk anak anak mengiringi perahu utama berisi sesaji hasil bumi, kepala kerbau serta sesaji lain untuk simbol kurban pemberi rejeki nelayan di Selat Sunda.
[Henk Widi]