MINGGU, 29 MEI 2016
YOGYAKARTA — Memperingati hari ulang tahun desanya, ratusan warga Tamanmartani, Kalasan Sleman, menggelar kirab besar melibatkan 22 Pedukuhan. Beragam potensi desa ditampilkan dalam sebuah iring-iringan kirab. Mengusung tema Njunjung Kampung yang berarti mengangkat kampung, kirab juga digelar guna menunjukkan potensi desa yang selama 68 tahun ini dibangun secara bergotong-royong.

Sebanyak 22 bregodo atau prajurit tradisional mengikuti Kirab Njunjung Kampung, Minggu (29/5/2016), dalam rangka HUT Ke-68 Tahun Desa Tamanmartani. Bregodo dari 22 pedukuhan berbaris rapi di Lapangan Tamanmartani, untuk kemudian dikirabkan mengelilingi Balai Desa Tamanmartani. Berbagai barisan menampilkan potensi dusunnya masing-masing. Tak kecuali, juga perangkat desa setempat turut dalam iring-iringan kirab tersebut. Gelar Kirab Njunjung Kampung tak hanya diikuti oleh kaum tua laki-laki dan perempuan. Namun, juga kaum muda-mudi dengan beragam potensi yang dimiliki. Fenomena minuman keras oplosan yang acapkali merenggut puluhan nyawa, bahkan ditampilkan sebagai syetan yang harus dijauhi.
Sementara itu, berbagai gunungan hasil bumi wujud kemakmuran desa dikemas dalam beragam ukuran dan dikirab. Lalu, potensi ternak sapi dimunculkan dalam kirab replika hewan sapi yang diarak. Juga, replika rumah asli desa setempat dengan lambang Garuda Pancasila sebagai dasar dan falsafah warga desa dalam menjalani kehidupannya.
Beragam ikon kirab lainnya juga disuguhkan, yang semuanya menunjukkan potensi dusun, seperti replika sepatu yang menunjukkan Desa Tamanmartani sebagai penghasil alas sepatu dan banyak lagi.
Desa Tamanmartani, tak hanya memiliki potensi kelas kampung. Melainkan, kelas dunia dengan diperolehnya Piagam Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas prestasinya menyelanggarakan kegiatan membuat beraneka makanan berbahan ubi dengan peserta terbanyak pada tahun 2009.
Semangat gotong-royong warga Desa Tamanmartani dengan 22 pedukuhan, sekiranya juga menjadi prestasi tersendiri yang patut diteladani. Karenanya, Kepala Desa Tamanmartani, Gandang Harjanata, dalam kesempatan itu menyatakan terimakasihnya kepada seluruh warga desanya yang telah berpartisipasi penuh dalam gelaran acara HUT Ke-68 Tahun Desa Tamanmartani.
Gandang mengatakan, acara besar yang telah digelar sejak bulan Maret kemarin itu, tidak mungkin dibiayai sendiri oleh Pemerintah Desa. Pasalnya, begitu banyak acara digelar, meliputi beragam pentas kesenian tradisional seperti Kethoprak dan pergelearan Wayang Kulit, lomba bersih desa dan lingkungan dan banyak lagi.
“Warga dengan bergotong-royong mengadakan semua kegiatan itu termasuk pembiayaan, dan inilah hasilnya. Prestasti kampung yang kemudian juga memberi manfaat bagi seluruh warga”, ujarnya.
Gandang menjelaskan lagi, puncak peringatan HUT Ke-68 Tahun Desa Tamanmartani diadakan dengan kirab potensi desa juga sebagai upaya melestarikan budaya. Melalui berbagai penats seni tardisional, potensi desa bisa terus dipupuk dan ditingkatkan kualitasnya. Kecuali itu, dengan kirab tersebut warga diharapakan ingat akan sejarah masa lalu desanya. Tamanamartani, kata Gandang, merupakan peleburan dari empat kelurahan yang ada sebelumnya, yaitu Kelurahan Bogem, Kelurahan Pucungsari, Kelurahan Tamanan, dan Kelurahan Tegalrejo.
Penggabungan empat kelurahan menjadi satu tersebut, berawal ketika pada tahun 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengeluarkan Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, tentang penggabungan daerah-daerah kelurahan agar menjadi sebuah desa yang cukup besar, sehingga otonomi desa bisa dilaksanakan dengan biaya kas desa sendiri.

Proses penggabungan itu dikenal dengan istilah blengketan. Sedangkan, proses penggabungan itu selesai pada tahun 1948, dan berdasarkan Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 1948, Tanggal 19 April 1948 Tentang Perubahan Daerah-Daerah Kelurahan, maka Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) Desa Tamanmartani jatuh pada setiap tanggal 19 April 1948.
[Koko Triarko]