MINGGU, 29 MEI 2016
MALANG — Beragam kegiatan mulai dari konsultasi kesehatan gratis, cap seribu tangan hingga long march bersama dari jalan Sumbing menuju lokasi Car Free Day di jalan Ijen, di gelar oleh Perhimpunan masyarakat peduli ‘Lupus’ (Parahita) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dalam rangka memperingati hari Lupus se dunia.

“Setiap tahun Parahita rutin menyelenggarakan acara untuk memperingati hari Lupus se-Dunia yang sebenarnya jatuh pada tanggal 10 Mei yang lalu,”jelas Elvira, ketua pelaksana kegiatan, Minggu (29/5/2016).
Ia menjelaskan, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai apa dan bagaimana penyakit lupus itu. Sampai hari ini penyakit lupus semakin banyak di jumpai dari tahun ke tahun, bahkan sekarang jumlah penderitanya sudah mencapai angka 288 penderita dari tiga ratus ribu orang di kota Malang.
“Kami mengadakan acara ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat mendeteksi sedini mungkin penyakit lupus karena pengobatan lupus sampai sekarang masih tergolong mahal,”jelasnya.
Disebutkan, penyakit lupus merupakan penyakit seribu wajah. Disebut sebagai penyakit seribu wajah karena lupus suka meniru atau gejalanya sama dengan penyakit yang lain.
“Bisa saja gejalanya mirip dengan penyakit demam berdarah, tipus atau penyakit lainnya tapi setelah diperiksakan ternyata terkena penyakit lupus,”ucapnya.
Menurutnya, penyakit lupus adalah penyakit dimana kekebalan atau daya tahan tubuh berlebih yang menyebabkan terjadinya keradangan di dalam tubuh sehingga merusak tubuhnya sendiri tetapi sampai sekarang belum diketahui tentang penyebab pasti dari penyakit lupus.
“Namun begitu ia menegaskan bahwa lupus bukan penyakit menular dan bukan penyakit keturunan,”tegasnya.
Penyakit lupus bisa menyerang siapa saja baik pria maupun wanita, tetapi wanita dalam usia subur jauh lebih rentan mengidap penyakit lupus daripada pria.
“Perbandingan antara wanita dengan pria yang terkena lupus adalah 9:1,”ungkapnya.
Elvira juga menyampaikan bahwa penyakit lupus dapat di deteksi sedini mungkin dengan metode Saluri (Periksa Lupus Sendiri).
“Dalam metode Saluri nantinya akan ada sebelas pertanyaan. Bila dari sebelas pertanyaan tersebut ditemukan empat jawaban Iya, maka kemungkinan besar orang tersebut terkena lupus,”ujarnya.

Dan untuk memastikan benar-benar terkena lupus atau tidak, diperlukan adanya tes lebih lanjut yaitu tes Imun. Meskipun demikian, Elvira menyampaikan bahwa penyakit lupus dapat di sembuhkan dengan terapi dan pengobatan.
“Untuk lama proses penyembuhannya sendiri tergantung kondisi masing-masing orang,”tutupnya.
[Agus Nurchaliq]