BANDUNG — Sate dikenal sebagai salah satu kuliner khas Indonesia. Sebut saja sate Madura dan sate Padang, yang memang tergolong menjadi makanan familiar di negeri ini. Kota Bandung pun memiliki sate yang tak kalah nikmat, yakni sate gendong. Sebutan sate gendong merujuk pada cara berjualannya, dimana si pedagang menggunakan bakul bak penjual jamu. Beberapa masyarakat Bandung menyebutnya juga dengan istilah sate Ayu, sebab dijual oleh wanita.
Sarmini (59), salah satu penjual sate gendong menuturkan, para penjual sate jenis ini bisa dipastikan berasal dari Klaten, Jawa tengah.
“Saya pertama ke Bandung tahun 1970, langsung jualan sate ini. Awalnya muter-muter jalan kaki dengan cara digendong,” tutur Sarmini kepada Cendana News, Minggu (30/5/2016).
Adapun yang dibakar yakni daging sapi maupun ayam. Namun yang paling diburu oleh pembeli adalah bagian lemak dari sapi atau disebut jando.
“Bedanya dengan sate-sate lain, sebelum dibakar dagingnya sudah digodok dulu biar empuk, jadi sudah matang. Ditambah juga bumbu-bumbu,” ucap Sarmini seraya merahasiakan bumbu tersebut.
Tak berbeda dengan sate lainnya, setelah dibakar pun diguyur oleh bumbu kacang, yang memang lebih encer daripada sate Madura. Namun, soal rasa tak kalah nikmat dengan sate jenis lainnya.
“Saya jual seporsi Rp. 25 ribu, satenya 10 tusuk ditambah lontong. Tapi ada juga yang beli Rp. 10 ribu atau Rp. 15 ribu enggak apa-apa,” katanya.
Menurutnya sate gendong ini sudah sangat sulit ditemukan di Kota Kembang. Sarmini sendiri kini memilih mangkal di Jalan Wastukencana, Kota Bandung. Namun tetap berjualan dengan cara lesehan.
Tahun 1997 lalu ia pernah merasakan mendapat untung besar menjual sate gendong ini. Saat itu Sarmini, berjualan di area Gasibu, Jalan Diponogoro, Kota Bandung.
“Kalau hari minggu omset saya kotornya Rp. 17 juta bisa dibawa pulang. Pegawai saja saat itu punya 15 orang. Satu hari daging sapi saja bisa habis 1,5 kuintal. Saya buka jam tiga pagi jam 11 sudah habis,” kenangnya.
Namun dua tahun terakhir ini ia tak boleh menggunakan lapaknya, karena dinilai mengganggu tata kota oleh Pemerintah Kota (Pemkot). Kini dia hanya berjualan satu minggu sekali.
“Karyawan sekarang pulang kampung semua, ya mau gimana lagi. Kalau selain hari minggu saya sekarang jualan nasi uduk,”sebutnya.