Peneliti : Virus Flu Burung di Jatim Sudah Mutasi

SENIN, 30 MEI 2016

SURABAYA — Merebaknya virus flu burung di Indonesia, tak pelak berimbas pula ke Jawa Timur (Jatim). Provinsi Jatim telah endemik virus flu burung sejak 2006 silam. Dua daerah yang terdeteksi adalah Banyuwangi dan Lamongan. Dari dua daerah tersebut, sekitar 7500 unggas dimusnahkan, dan kerugiannya sekitar Rp 300 juta.

Dr. Iswahyudi saat ditemui di Unair
Kepala Seksi Pencegahan dan Penyakit Hewan Dinas Peternakan Jatim, Iswahyudi menjelaskan dari riset yang telah dilakukan ada tiga hal utama.
“Yang pertama virus flu burung dari 2012 – 2015 di Jawa Timur termasuk Indonesia telah terjadi mutasi,” jelasnya usai melaksanakan sidang doktoralnya di Universitas Airlangga (Unair), Senin (30/5/2016).
Jadi antara virus flu burung di satu wilayah dengan wilayah lain sudah berbeda. Nah mutasi ada dua jenis yang terjadi yakni mutasi substitusi yang memungkinkan virus itu menjadi lebih galak/ganas. Kedua mutasi dilesi ini yang menjadi teka teki karena mutasi dilesi, tidak tahu arahnya kemana nantinya, apakah lebih jinak atau lebih tidak mematikan atau justru lebih galak lagi.
“Kemudian ketiga, virus yang selama ini beredar di Indonesia dari 2012-2015 itu ternyata lokal virus Indonesia, tidak ada satupun virus yang berasal dari luar negeri. Nah mutasinya virus yg terjadi di Indonesia itu salah satunya disebabkan oleh adanya implementasi kebijakan yang tidak tepat,” ujarnya.
Menurut pria ini, contohnya saja kebijakan vaksinasi untuk unggas yang dilakukan seharusnya dilakukan dengan ulangan 2+3 atau 5x. Tetapi dengan jumlah unggas yang begitu besar di Indonesia termasuk Jawa Timur sehingga pemerintah tidak cukup dana untuk pengadaan jumlah vaksin yang tersedia.
“Nah jumlah vaksin yang tersedia saat ini di Jatim yang tertinggi di Indonesia itu pun hanya sampai 5 persen. Yang provinsi lainnya justru di bawah itu,” cakapnya.
Untuk itu dirinya berharap dengan temuan ini pemerintah kalau ingin membebaskan penyakit flu burung ada 2 kuncinya,  pertama, jejaring dinas peternakan dari tingkat pusat sampai daerah harus ada. Di tingkat provinsi harus ada dinas peternakan, di kabupaten harus ada dinas peternakan. Karena didalam pemerintahan ada sistem yang dinamakan ‘money follow function’.
“Kalau fungsinya ada pasti uangnya tidak ada. Kalau tidak ada uang tidak mungkin akan melakukan pengendalian penyakit,” imbuhnya.
Penyakit flu burung dari tahun ke tahun memang terjadi penurunan tetapi bukan berarti penyakit itu sudah hilang. Penyakit masih ada di sekitar manusia dan itu punya potensi untuk menular ke manusia. Sejarah telah membuktikan bahwa penyakit flu burung di dunia sudah 4x terjadi disaster atau pandemi dan menyebabkan kematian yang begitu banyaknya.
“Untuk itu jika tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Oleh karenanya pemerintah ketika ingin membebaskan penyakit flu burung harus dipenuhi syarat dan ketentuannya tadi. Dinasnya harus ada uangnya juga harus ada,” tandasnya.
Kedepan Iswahyudi berharap pemerintah lebih peduli terhadap pemelihara ayam utamanya masyarakat yang memelihara 5-10 ekor tanpa dikandangkan harus dirubah polanya untuk budidaya yang lain. Namun jika masyarakat bersikukuh ingin memelihara unggas maka harus dikandangkan.
“Untuk memperkecil tertularnya virus dari hewan ke manusia,” tukasnya.
Setelah semua penelitian yang dilakukan Dr. Iswahyudi tersebut, dirinya berharap bisa menyampaikan hasil riset kepada pemerintah sebagai usulan dan sebagai saran apa yang harus dikerjakan kedepan.
“Rekomendasi dari disertasi saya ini akan saya sampaikan kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).
Lihat juga...